Tuesday, April 3, 2007

Diskusi INSISTS: Freemason dan Gagasan Pluralisme Agama

Start:     Apr 7, '07
Freemason dan Gagasan Pluralisme Agama  

Faham bahwa pada intinya semua agama sama tidak terlepas dari kuatnya pengaruh gerakan Freemason. Pada tanggal 17 November 1875, beberapa pengikut Freemason membentuk The Theosophical Society di New York. Seiring dengan perjalanan waktu, The Theosophical Society berkembang pesat di berbagai negara. Pada akhir abad 19, The Theosophical Society memiliki 500 cabang dalam 40 negara di Asia dan Barat.

The Theosophical Society di Perancis didirikan pada tahun 1887 oleh Gérard Encausse (1865-1916), juga seorang Mason. Encausse yang dikenal sebagai Papus adalah guru pertama Rene Guénon (1886-1951).  Pemikiran Guénon mengenai gagasan spritualisme dan Tradisi agama-agama tidak terlepas dari pengaruh pemikiran Papus. Gagasan Guénon dikembangkan lebih jauh lagi oleh Frithjof Schuon (1907-1998).

Dalam pandangan Schuon, sekalipun dogma, hukum, moral, ritual agama adalah berbeda, namun nun jauh di kedalaman masing-masing agama, ada ‘a common ground’. Menurut Schuon, agama-agama bertemu pada level transendent. Gagasan bahwa semua agama pada intinya adalah sama, merupakan inti pemikiran Schuon.

Tidak sedikit dari pemikir Muslim yang mengadopsi gagasan Schuon. Dalam diskusi Sabtuan INSISTS pada tanggal 7 April 2007 di Kalibata Utara II, No. 84, Adnin Armas akan membahas gagasan Pluralisme Agama dan kaitannya dengan Freemason. Diskusi ini akan sangat menarik untuk diikuti karena memang tidak banyak pemikir Muslim yang mengungkap gerakan Freemason dan gagasan Pluralisme Agama.

Pembicara         : Adnin Armas, MA

Tanggal/Jam      : Sabtu, 7 April 2007 10:00 s/d 12:00 WIB

Tempat             : INSISTS – Jl. Kalibata Utara II/84 Tlp. 021-7940381

Konfirmasi         : Nandi 08176895797

Untuk masksimal 40 Peserta. 
________________________________

Adnin Armas, M.A menyelesaikan pendidikannya di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor Ponorogo tahun 1992 dan melanjutkan ke Universitas Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM), dalam bidang Filsafat. Memperoleh Sarjana dari International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) bidang Pemikiran Islam (Islamic Thought) dengan tesis berjudul Fakhruddin arRazi on Time pada tahun 2003.

Saat ini beliau adalah kandidat doktor di ISTAC UIAM aktif sebagai peneliti INSIST (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization). Karya beliau antara lain adalah: Metodologi Bibel dalam Studi al-Qur’an; Pengaruh Orientalis terhadap Islam Liberal. Di samping itu beliau sangat aktif menulis artikel-artikel ilmiah di beberapa majalah dan surat kabar di Indonesia.

Currently a Ph.D candidate at ISTAC-IIUM, Adnin obtained B.A. from International Islamic University Malaysia in 1997 and M.A in Islamic Thought from ISTAC in 2003. He is a prolific writer on Liberal Islam and Secularisation and some of his published articles are:

- Menjernihkan Ide Kesatuan Agama (Republika, February 2003)

- Menelusuri Originalitas Gagasan Sekularisasi Nurcholish Madjid (Jurnal Dirosah Islamiyah, Vol. 1, No. 2 (2003).

- Simbol Kegagalan Kristen Melawan Barat (Majalah Hidayatullah, December, 2003)

- Sekularisasi Menghempaskan Agama (Majalah Hidayatullah, February 2004)

- Pembela dan Penghadang Sekularisasi (Majalah Hidayatullah, March 2004)

- Tafsir al-Qur'an atau Hermeneutika al-Qur'an (Majalah Islamia, March 2004)

- Orientalisme dan Teori Pengaruh Terhadap Islam (Republika 6 May, 2004)

- Pengaruh Metodologi Bibel Terhadap Studi Al-Qur'an (Republika, 29 November 2004).

- Orientalis dan Studi Al-Qur'an: Tanggapan Atas Tanggapan (Republika, April 2005).

Books Published

- Christian and Orientalist Influences on Liberal Islam. An interactive dialogue with activists of the Liberal Islam Network, Jakarta: Gema Insani Press (GIP) 2003.

- Biblical Methodology in Qur'anic Studies: A Critical Analysis, Jakarta; Gema Insani Press (GIP) 2005.


Friday, March 30, 2007

Shalahuddin dan Peringatan Maulid

Rating:★★★★★
Category:Other

Shalahuddin dan Peringatan Maulid
http://www.republika.co.id


Setiap Rabi'ul Awwal, umat Muslim sibuk menyiapkan varian agenda dalam rangka memperingati kelahiran Rasulullah SAW yang jatuh pada tangal 12 Rabi'ul Awal. Namun tak ada yang tahu, apa semangat digagasnya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang pertama kali dilakukan Shalahuddin Al-Ayyubi, panglima perang Mesir.

Ia mengusulkan ide itu pada Sultan Mesir, Muzaffar ibn Baktati, yang terkenal arif dan bijaksana. Ia sangat menghormati sosok Shalahuddin, yang di kemudian hari membawa kemenangan bagi tentara Muslim dalam Perang Salib. Shalahuddin juga merupakan panglima Islam di masa Khalifah Muiz Liddinillah dari dinasti Bani Fathimiyah di Mesir (berkuasa 365 H/975 M).

Gagasan Shalahuddin sederhana. Pada masa itu masjid Al Aqsha diambil alih dan diubah menjadi gereja. Kondisi tersebut diperparah oleh keadaan pasukan Islam yang mengalami penurunan ghirah perjuangan dan renggangnya ukhuwah Islamiyah.

Dari situlah Shalahuddin memiliki gagasan untuk menghidupkan kembali semangat juang dan persatuan umat dengan cara merefleksikan dan mempertebal kecintaan kepada Rasulullah. Selanjutnya digelarlah peringatan Maulid Nabi yang disambut luar biasa oleh seluruh kaum Muslimin kala itu. “Semangat Shalahuddin untuk memperingati Mauild Nabi dalam rangka mengajak ummat Islam untuk back to Quran dan Sunnah. Akhirnya peperangan dimenangkan oleh pasukan Islam. Peringatan Maulid ini banyak manfaatnya,” jelas ketua Majelis Ulama Indonesia, KH Syukri Zakrasyi.

Apa yang digelorakan Shalahuddin membuahkan hasil di kemudian hari. Jerusalem berhasil direbut. Di bawah kepemimpinannya, Perang Salib diakhiri dengan sedikit jumlah korban. Tak seperti saat tentara Kristen menduduki Jerusalem dan membunuh semua Muslim yang tersisa, pasukan Shalahuddin mengawal umat Kristen dan memastikan jiwa mereka selamat saat keluar dari Jerusalem. Begitulah akhlak Islam seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW. Tidak mentang-mentang menang dan berkuasa, maka bebas melakukan penindasan.

Muslim Indonesia pantas meniru sejarah Rasulullah dan sejarah lahirnya peringatan maulid Nabi. Sedikit banyak, situasi Muslim saat ini hampir sama dengan situasi umat Islam masa Shalahuddin Al-Ayubi. Selain terpuruk secara politik, ekonomi, sosial, budaya, dan akidah, juga tidak ada kebanggaan sebagai Muslim.

Berkaca lagi pada pribadi Nabi SAW, itulah semangat yang diusung Shalahuddin. Itu pula agaknya yang harus kita lakukan saat ini. ''Dalam kondisi bangsa yang penuh ujian seperti sekarang ini, sangat pantas jika kita melihat figur Rasulullah SAW terutama dalam membangun masyarakatnya yang berlandaskan nilai-nilai Ilahi. Beliau itu memiliki akhlak yang sangat terpuji: jujur, tanggungjawab dan kebersamaan,'' ujar Prof Dr KH Didin Hafidhuddin Msc, direktur Pasca Sarjana Univeristas Ibnu Khaldun Bogor.

________________________________

Beberapa hukum merayakan Maulid :

- Apa Hukum Merayakan Maulid Nabi ? (
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin)

- Hukum Memperingati acara Maulid Nabi (Di sarikan dari surat kabar " Al-Adhwa' ", dan diterjemahkan oleh : Abu Ja'far El-Thoyyar Fir'adi Nasruddin ,Lc)

- Maulid, Haul dan Tahlil : Bid'ah ? (www.syariahonline.com)

- Bidah Maulid Nabi (www.syariahonline.com)

- Apakah "BARJANJI" Itu? (www.syariahonline.com)

Semoga bermanfaat !



Thursday, March 29, 2007

Sabili : "Banci Marak Bencana Merebak"

Rating:★★★★★
Category:Other
TELAAH UTAMA
Edisi 19 Th XIV
5 April 2007
17 Rabi'ul Awal 1428
 

Banci Marak Bencana Merebak

Bak barang dagangan yang sedang laris, tayangan waria makin marak di layar kaca. Dalam kehidupan nyata, sama saja. Sejak 2004, kaum waria tercatat sudah tiga kali menggelar kontes. Pertanda apa ini?
 
Ketika memasuki ruangan Yayasan Srikandi Sejati yang nempel pada kantor Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) di bilangan Pisangan, Jakarta Timur, Nancy (53) langsung menyapa, “Dari Sabili, ya?”

Selanjutnya, waria kelahiran Bandung, 1 April 1954 ini mengenalkan Sabili pada ketiga waria yang ada di ruangan 2 X 3 meter itu. Tampak juga seorang dokter. Penampilan Nancy berbeda dengan yang lainnya. Waria bernama asli Nandy Iskandar ini mengenakan jilbab. Sedangkan ketiga waria lainnya berdandan menor seperti umumnya waria.

Sabili diminta masuk ke ruangan itu. Yang dimaksud ruangan adalah kamar yang hanya tersedia dua kursi dengan satu meja yang dipenuhi booklet penerangan HIV/AIDS. Demikian pula dindingnya. Bahkan ada manequin alat kelamin pria. “Ini buat contoh cara masang kondom,” Nancy menjawab keheranan Sabili.

Ketika wawancara berlangsung, para waria berlalu lalang. Dengan ramah, Nancy menjawab pertanyaan Sabili seputar kegiatan lembaganya dan latar belakang kehidupan waria yang sempat lolos seleksi anggota HAM beberapa waktu lalu.

Nancy adalah salah satu potret fenomena waria yang makin tumbuh berkecembah di Indonesia. Di layar kaca, kita kerap disuguhi tontonan waria. Sebut misalnya sosok Irfan Hakim. Tak tanggung-tanggung, selain sering memainkan peran sebagai perempuan di acara Ngelenong Nyok, Irfan juga berperan sebagai perempuan di sinetron Putri Ke-4 di sebuah stasiun TV swasta. Dalam sinetron ini, ia berperan sebagai Erika, seorang gadis yang tinggal di sebuah rumah kos bersama tiga anak lainnya yang semuanya wanita.

Irfan Hakim bisa dibilang artis yunior yang sering memainkan peran wanita. Jauh sebelum alumnus IAIN Sunan Gunung Djati ini tampil, kita sudah mengenal Tessy. Artis bernama asli Kabul Basuki ini sejak awal memang sudah menggeluti dunia lawak dengan ikon perempuan. Dan, sampai kini pun ia tetap enjoy dengan dunianya itu. “Ya, rezeki saya dari situ!” ujarnya, pada Sabili yang menghubunginya via telepon pekan lalu.

Jauh sebelum Tessy muncul, dunia hiburan dihadiri oleh sosok Dorce Gamalama. Waria yang bernama asli Dedi Yuliardi Ashadi kelahiran Solok, Sumatra Barat, 21 Juli 1963 ini termasuk artis serba bisa. Kini ia memandu acara Dorce Show di sebuah televisi swasta.

Sejak kecil, Dorce sudah menggeluti dunia seni. Karir musiknya diawali dengan menyanyi bersama kelompok Bambang Brothers. Kala itu ia masih duduk di bangku SD. Di SMP ia semakin tidak tertarik pada pelajaran sekolah dan lebih memusatkan perhatian pada karir menyanyi. Selain itu, ia juga mulai menyadari kecenderungannya untuk tertarik pada pria. Hal ini juga ia manfaatkan untuk membuat penampilannya di panggung tambah menarik, yaitu melawak dengan berpura-pura menjadi wanita. Ketika itulah ia mendapatkan nama panggilan Dorce Ashadi dari Myrna, pemimpin kelompok tari waria Fantastic Dolls.

Karena semakin merasa terperangkap dalam tubuh seorang laki-laki, ia kemudian memutuskan untuk operasi ganti kelamin menjadi seorang wanita. Walaupun mendapat tentangan dari berbagai pihak, hal ini juga diberitakan luas oleh media massa dan membuat Dorce semakin terkenal. Setelah muncul di TVRI stasiun daerah Surabaya, ia mulai muncul juga di TVRI pusat Jakarta dan diundang untuk tampil di berbagai kota di Indonesia. Acara ini diikuti film Dorce Sok Akrab dan Dorce Ketemu Jodoh, dan kontrak rekaman lainnya.

Menurutnya, ia mendapat inspirasi untuk nama Gamalama dari suatu perjalanan untuk menyanyi di Ternate bersama Benyamin Suaeb, di mana ia melihat gunung Gamalama. Setelah naik haji, ia juga menambahkan nama Halimatussadiyah.

Sosok lainnya yang bergelut di dunia ini adalah Aming. Pria kelahiran 7 November 1980 mempunyai nama lengkap Aming Sugandhi. Ia selalu memainkan peran sebagai perempuan lewat acara komedi Extravaganza di sebuah stasiun TV swasta. Selain mereka, masih banyak artis lainnya yang berjenis kelamin laki-laki dan sering memainkan peran sebagai perempuan. Dalam hukum Islam, mereka ini termasuk takhannuts atau laki-laki menyerupai wanita.

Selain di layar kaca, fenomena waria ini sejak lama sudah menunjukkan identitasnya secara terang-terangan di dunia nyata. Dari hari ke hari, keberadaan kaum waria di Indonesia, terasa makin banyak. Di Jakarta saja, saat ini tercatat ada lebih dari enam ribu waria yang terdata oleh Yayasan Srikandi Sejati yang juga digawangi oleh para waria sendiri.

Belum lagi mereka yang masih tertutup dan dikucilkan keberadaannya, karena dianggap sebagai aib oleh keluarganya. Para waria, kebanyakan hidup berkelompok antara 10 orang sampai 30 orang. Di Jakarta, mereka tersebar di berbagai wilayah.

Para waria yang cukup sukses menapaki hidupnya berprinsip, harus berani melakukan terobosan-terobosan, jika ingin diakui dan tidak menjadi cemoohan. Berbekal keberanian, segelintir waria mulai berani muncul di hadapan publik dengan kesan bersih, pintar dan tetap cantik.

Hal itu diwujudkan pula melalui pemilihan putri waria, yang sudah diadakan tiga kali sejak 2004, meskipun mengundang kontroversi. Pada 2004 pernah digelar Kontes Miss Waria Indonesia. Megi Megawati terpilih sebagai pemenang.

Selanjutnya pada pertengahan 2005, digelar Kontes Pemilihan Miss Waria Indonesia di Gedung Sarinah, Jakarta Pusat. Sebanyak 30 waria dari berbagai daerah mengikuti kontes ini. Mereka unjuk kebolehan dengan bernyanyi dan menari. Olivia Lauren, kontestan dari Jakarta, terpilih sebagai Miss Waria Indonesia 2005. Penyematan mahkota langsung dilakukan Miss Waria Indonesia 2004 Megi Megawati. Menurut Ketua Dewan Juri Ria Irawan, salah satu penilaian adalah kesempurnaan fisik peserta yang menyerupai wanita. "Pemenang akan dikirim ke ajang internasional," kata Ria Irawan, kala itu.

Acara ini sempat mendapat respon. Di luar gedung, sekitar seratus anggota Front Pembela Islam (FPI) memrotes Kontes Miss Waria ini. Mereka meminta acara tersebut dibubarkan. Menurut Sekretaris Dewan Pimpinan Pusat FPI Soleh Mahmud, acara ini telah menghina Islam. "Ini adalah kontes waria jadi-jadian, bukan waria yang diakui keberadaannya oleh Islam," kata Soleh. Setelah beraksi sekitar dua jam, mereka kemudian bernegosiasi dengan panitia. Namun, pemilihan Miss Waria 2005 tetap dilanjutkan.

Para penyelenggara kontes waria ini seperti tak pernah kapok. Pada 2006, mereka kembali menggelar Pemilihan Putri Waria 2006. Kali ini Merlyn Sopjan yang bernama asli Aryo Pamungkas terpilih sebagai pemenang.

Begitu gigihnya acara ini dilangsungkan sangat bisa dipahami. Para penyelenggara mendapatkan dukungan langsung dari para petinggi negeri ini. Seperti acara Pemilihan Putri Waria 2006, mereka mendapat dukungan langsung dari mantan Presiden Abdurahman Wahid dan Gubernur DKI Sutiyoso. “Saya hanya menagih janji Gus Dur yang pernah bilang dia Bapak Bangsa,” papar Megie yang bernama asli Totok Sugiarto. Dialah tokoh paling penting dalam penyelenggaraan pemilihan miss waria 2006.

Dukungan juga datang dari kalangan liberal. Seperti diberitakan Jawa Pos (Kamis, 1/7/2004), Ulil Abshar Abdalla pernah mengeluarkan siaran pers bersama dengan LSM Pelangi (Perhimpunan Lesbian dan Gay Indonesia) di Kantor YLBHI Yogyakarta pada 30 Juni 2004, untuk pembuatan UU khusus mengenai perlindungan lesbian dan gay.

Selain itu, fenomena maraknya artis di layar kaca juga bisa berdampak buruk. “Dampaknya buruk sekali. Ini menjadi semacam angin segar bagi para waria atau bencong. Orang melihat itu hal biasa. Sebagai sebuah pilihan yang diserahkan kepada orangnya, mau silakan, tidak mau tidak apa-apa. Padahal perbuatan itu perbuatan terkutuk. Dalam hadits sudah dikatakan, Allah melaknat perbuatan seperti itu. Allah melaknat laki-laki yang keperempuan-perempuanan, dan sebaliknya,” terang Dosen Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Dr Daud Rasyid.

Menurut doktor bidang hadits dari Universitas Kairo, Mesir ini, dari segi moral waria sudah menyalahi kaidah-kaidah Islam. Seorang laki-laki tidak boleh memakai pakaian perempuan, sebagaimana disebutkan sebuah hadits shahih.

Selanjutnya, menurut Daud Rasyid, praktik kebencong-bencongan ini menyalahi kaidah-kaidah moral. “Dalam kaidah moral kita, perempuan ada batasan-batasannya. Laki-laki juga ada batasan-batasannya. Jadi sangat tidak etis laki-laki tampil, apalagi di depan publik dengan pakaian-pakaian perempuan. Ini mengundang amarah Allah SWT karena itu merupakan bagian perbuatan yang berdosa,” tegasnya.

Ironisnya, sebagian dari mereka yang sering melakukan peran lawan jenisnya itu justru tidak mengetahui bahwa profesi yang mereka geluti dilarang. Ketika ditanya apakah profesinya dipermasalahkan secara agama, Kabul Basuki yang lebih tenar dengan panggilanTessy menjawab, “Agama yang mana?” Tessy juga heran kalau perbuatannya itu terlarang dalam Islam. “Diharamkan? Wah, saya baru dengar. Saya nggak pernah dengar hal itu,” ujar Kabul pada Sabili ketika dikonfirmasi tentang hadits yang melarang seorang laki-laki menyerupai wanita.

Berbeda dengan Tessy, Irfan Hakim justru mengetahui bahwa perbuatannya tidak boleh secara agama. Menurutnya, perbuatannya itu hanya sebatas di panggung. "Tapi kalau sampai dalam keseharian, agak miris juga ya. Itu kan sebenarnya dilarang kan oleh agama,” ujarnya pada Sabili.

Produser acara Catatan si Tessy, Boim Lebon juga mengaku kurang sreg dengan maraknya waria di layar kaca. “Saya sebenarnya kurang setuju kalau mengekspos waria-waria. Saya ada perasaan kurang sreg aja gitu,” ujarnya.

Lalu mengapa dia menggawangi acara Catatan si Tessy? “Kalau kita pakai Tessy karena dia dari dulu udah begitu ya. Kalau di TV lain, dia suka pakai buah dada-buah dadaan, di kita nggak boleh. Kalau dia pakai baju perempuan ya udahlah. Tapi kalau sampai kayak banci bener, sebetulnya kebijakan di RCTI nggak boleh ada banci-banci sekarang,” imbuh penulis Serial Lupus ini.

Dosen IAIN Sunan Gunung Djati Dr Daud Rasyid mengkhawatirkan fenomena maraknya waria ini. “Musibah-musibah ini kalau boleh dikatakan, merupakan jawaban atas kumpulan dosa-dosa yang begitu hebat di negeri kita. Begitu beragam, dari kanan, dari kiri. Maksiat ini jadi numpuk. Dari timbunan dosa-dosa yang dilakukan manusia, akhirnya pada gilirannya adalah murka Allah,” ujarnya.

Daud Rasyid berpesan, “Di zaman yang banyak terjadi musibah, justru kita berusaha mengurangi perbuatan-perbuatan yang sifatnya maksiat dan mengundang murka Allah. Fenomena terakhir ini menjadikan kita semakin terancam. Meski itu alasannya sekadar untuk penampilan atau tuntutan seni, itu dalam Islam tidak bisa diterima. Dalam Islam kesenian itu ada batasannya. Salah satunya dalam hal busana, tidak boleh laki-laki memakai kostum yang biasa dipakai perempuan. Demikian juga sebaliknya.”

Beginilah jadinya kalau kita tidak mengindahkan aturan Allah. Banci marak, bencana pun merebak.

Hepi Andi Bastoni
Laporan: Faris Khoirul Anam
http://www.sabili.com/telut.htm


Fenomena Tulisan Allah Akhir-Akhir Ini

Rating:★★★★★
Category:Other

Assalamualaikum Pak Ustadz yang dirahmati Allah,

Akhir-Akhir ini banyak pemberitaan munculnya lafal Allah di berbagai kejadian. Mulai dari jilatan api di Lapindo, pohon yang membentuk lafal Allah di Pekan Baru hingga bulu kucing yang terdapat lafal Allah di Tangerang.

Pertanyaan saya:

1. Apakah fenomena itu memang kuasa dari Allah agar kita selalu mendekatkan diri kepadanya?

2. Ataukah hanya kerjaan makhluk-makhluk diluar manusia yang menginginkan kemusyrikan? Sebab bukan tidak mungkin pohon atau kucing tersebut akan dicari-dicari orang untuk dimintai keberkahan maupun hal musyrik lainnya.

Terima kasih atas jawabannya.

Wassalamualaykum warrahmatullahi wabarokatuh.

Fanny Tirtasari
fanny_tirtasari at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Fenomena seperti itu memang sering kali kita temui. Misalnya pohon-pohon yang kalau dilihat dari sudut pandang tertentu akan membentuk tulisan mirip lafdhul-jalalal, Allah. Atau juga yang konon muncul pada jilatan api lumpur Lapindo baru-baru ini.

Pertanyaannya, pertanda apakah semua ini? Apakah ada isyarat tertentu dari Allah SWT, ataukah peristiwa alam biasa yang terjadi secara kebetulan?

Maka diskusi kecil di warung kopi pun tidak sepi dari perbincangan ini. Termasuk di milis dan di forum ustadz menjawab ini. Buktinya, anda telah mengirim pertanyaan ini dan kami -mau tak mau- harus menanggapinya.

Kami jadi teringat semasa kecil umat Islam heboh mendengar berita bahwa Neil Amstong mendengar adzan di bulan saat mendarat tahun 1968. Konon, menurut berita itu, saat mendengar pertama kali, Amstrong belum tahu bahwa suara 'asing' yang didengarnya itu adalah suara panggilan shalat umat Islam.

Berita ini kontan mendapat sambutan luar biasa di tengah umat Islam. Para ustadz dan penceramah asyik mengangkat fenomena ini dalam berbagai kesempatan. Intinya, bahwa semua itu pertanda bahwa Islam adalah agama yang benar.

Tapi sayangnya, terakhir tersiar kabar konfirmasi bahwa berita itu sengaja dihembuskan oleh pihak yang tidak suka pada umat Islam Dan kemudian Amstrong sendiri yang menampik berita bohong itu. Duh, kasihannya umat Islam, mudah sekali dipermainkan orang.

Fenomena munculnya tulisan Allah SWT ini perlu kita cermati secara teliti dan hati-hati. Sebabkemudahan rekayasa di zaman digital ini sangat mudah dilakukan, meski bukan berarti kita menuduh semua itu adalah rekayasa komputer.

Tapi yang perlu kita pertimbangkan adalah seberapa besar nilai positif dan produktif yang kita dapat dari semua penampakan itu? Apakah kalau ada kucing yang bulunya bertuliskan Allah, lalu umat Islam semakin rajin shalat dan ibadah? Apakah kalau api di Lapindo secara kebetulan ditangkap kamera dan bertuliskan Allah, lalu umat Islam berhenti dari melakukan maksiat, korupsi dan berbuat zhalim? Apakah kalau ada susunan awan di langit membentuk tulisan Allah, lalu keadilan bisa ditegakkan?

Kalau tidak, lalu apa manfaat dari semua fenomena itu?

Sesungguhnya, tanpa harus ada tulisan lafadz Allah, pada tubuh kita sendiri sudah lengkap tanda-tanda kebesaran Allah. Sebagaimana firman Allah sendiri:

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quraan itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (QS. Fushshilat: 53)

Bahkan di ayat ini, tidak disebutkan hanya pada tempat tertentu, tetapi di semua tempat, bahkan di semua diri manusia. Pada semua itu ada tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Tetapi ayat ini tidak menyebutkan bahwa tanda itu adalah berbentuk tulisan Allah.

Tanda-tanda itu maksudnya adalah tanda kebesaran Allah SWT. Di mana orang-orang yang cerdas dan tahu teknologi akan berdecak kagum atas semua kesempurnaan ciptaan itu. Dan dari mulut mereka keluar ungkapan:

Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran: 191)

Namun kekaguman itu hanya berlaku buat orang-orang yang mengerti dan bisa mengambil pelajaran. Dengan memikirkan semua kesempurnaan ciptaan Allah itu, akhir para ilmuwan yang beriman akan semakin bertambah imannya. Semakin cinta dan patuh kepada Allah, serta semakin kuat dalam mengejar kebahagiaan negeri akhirat.

Sedangkan buat orang yang hatinya kesat dan beku, jangankan renungan tentang kebesaran Allah dan ciptaan-Nya, bahkan Al-Quran yang merupakan miraclepun mereka ingkari.

Jadi kesimpulannya, Allah sudah menurunkan begitu banyak tanda kekuasaannya, baik dalam bentuk ayat (tanda) kauniyah seperti fenomena kesempurnaan ciptaan-Nya, atau pun ayat Qauliyah, yaitu 6000-an ayat, 114 surat dan 30 juz ayat Al-Quran yang tak terbantahkan.

Logikanya, kalau yang 6000-an ayat itu saja diacuhkan, apalagi yang hanya tulisan lafadz Allah di awan, api, bulu kucing, pohon dan sebagainya. Tentunya, nyaris tidak menambah apa-apa.

Rawan Syirik

Selain kurang memberi manfaat yang nyata, ada sebagian kalangan yang sampai melarang kita mengangkat masalah seperti itu, karena dikhawatirkan malah akan menimbulkan masalah baru, yaitu kemusyrikan. Dan kejadian ini memang nyaris selalu membayangi.

Tidak aneh kalau dikhawatirkan nanti akan ada orang yang mengkeramatkan kucing yang bulunya bertuliskan Allah, bahkan mungkin akan mengirim sesajen, minta jodoh, minta diangkat jadi pegawai negeri atau malah minta kode buntut. Astaghfirullahal-adhim!

Karena itu untuk amannya, sebaiknya kita lebih konsentrasi untuk mengupas ayat-ayat Allah yang lebih ilmiyah, dengan kajian yang lebih mengarah kepada keaguan Allah dalam penciptaan-Nya. Dan jangan lupa pula untuk lebih sering lagi mengupas ayat Allah yang bersifat qauliyah. Yaitu kita belajar ilmu tafsir dari para ulama yang mu'tabar.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

http://www.eramuslim.com/usm/fqk/460b17de.htm

Tuesday, March 27, 2007

Buku : Muqaddimah

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: History
Author:Ibnu Khaldun
Judul : Muqaddimah
Penulis : Abd-ar-Rahman ibn Muhammad Ibn Khaldun (Ibnu Khaldun)
Penerbit: Pustaka Firdaus (021-7972536)
Penerjemah : Ahmadie Thoha
Halaman : 852


Refleksi 600 Tahun Wafatnya Ibnu Khaldun
Pangkal Kejatuhan dan Kejayaan Bangsa

Meski namanya telah diabadikan untuk sebuah universitas di Bogor, masih ada di antara kita mungkin belum mengenal sosok serta pemikiran sejarawan agung dan pemikir ulung yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai bapak sosiologi. Dialah Abd-ar-Rahman ibn Muhammad Ibn Khaldun yang hidup antara tahun 1332 hingga 1406 Masehi.

Di bulan November ini setidaknya tiga konferensi antarbangsa telah dan bakal digelar dalam rangka memperingati 600 tahun wafatnya ilmuwan besar ini. Yang pertama pada 3-5 November lalu di Madrid, Spanyol atas kerja sama Islamic Research and Training Institute IDB dengan Universidad Nacional de Educacion a Distance (UNED) dan Pusat Kebudayaan Islam setempat. Yang kedua baru saja terselenggara Sabtu 11 November 2006, di kampus Johann Wolfgang Goethe-Universitaet Frankfurt, Jerman, di mana penulis berkesempatan hadir. Sedang yang terakhir bakal diadakan pada 20-22 November mendatang di ISTAC Kuala Lumpur, Malaysia dengan tema: Ibn Khaldun's Legacy and Its Contemporary Significance.

Ibnu Khaldun hidup saat imperium Islam bagian barat (termasuk Afrika Utara) di ambang kehancuran. Andalusia terpecah-belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Kaum Murabitun (Almoravid) dan Muwahhidun (Almohad) saling rebut wilayah dan pengaruh. Sementara kaum Kristen Spanyol waktu itu tengah mengkonsolidasi kekuatan mereka dan menyusun strategi untuk melancarkan serangan besar-besaran demi merebut kembali semua daerah yang diduduki kaum Muslim ---peristiwa kelam yang dinamakan reconquista.

Bermula dengan Toledo (1085), lalu Cordoba (1236) dan Seville (1248), dan terakhir Granada (1492), satu per satu wilayah Islam jatuh ke tangan orang-orang Kristen. Kondisi sosial-politik yang tak menentu itu tentu saja banyak memengaruhi perjalanan karier maupun pemikiran Ibnu Khaldun.

Barangkali karena kesibukannya sebagai pejabat negara dan keterlibatannya dalam politik, Ibnu Khaldun tidak banyak menghasilkan karya tulis. Hanya tercatat beberapa buku kecil seputar logika dan filsafat (Lubab Al Muhashshal), tentang tasawuf (Syifa' As Sa'il li Tahdzib Al Masa'il), dan sebuah otobiografi (At Ta'rif). Namun, ia meninggalkan sebuah karya raksasa berjudul: Tarjuman Al 'Ibar wa Diwan Al Mubtada' wal Khabar fi Ayyam Al'Arab wal Barbar wa man 'asharahum min dzawis-Sulthan AlAkbar.

Bagian pendahuluan dari kitab inilah yang melejitkan namanya ke seantero jagad. Tak aneh, sebab Muqaddimah-nya itu tak ubahnya bagaikan kapsul yang memuat ekstrak prinsip-prinsip yang bekerja di balik aneka manifestasi ilmu pengetahuan, pencapaian, dan pengalaman masyarakat manusia dari masa ke masa.

Pandangan yang relevan

Karya yang ditulis Ibnu Khaldun dalam penjara itu telah diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti Prancis, Jerman, dan Inggris. Berikut ini beberapa pandangan Ibnu Khaldun yang masih sangat relevan kini untuk menjadi bahan renungan kita yang sedang berusaha bangkit meraih kejayaan.

Masyarakat dan negara yang kuat adalah masyarakat dan negara yang padanya terdapat tiga perkara. Pertama, solidaritas kebangsaan yang kokoh, di mana sikap dan perilaku mendzalimi, membenci dan menjatuhkan satu sama lain bertukar menjadi saling memberi, saling menghargai, dan saling melindungi. Ibnu Khaldun menyebutnya ashabiyyah atau group feeling --meminjam terjemahan Rosenthal. Kedua, kuantitas dan kualitas sumberdaya manusianya. Ketiga, kebangkitan suatu bangsa dan kejayaan negara berawal dari dan hanya akan langgeng apabila orang-orangnya selalu optimis dan mau terus-menerus bekerja keras. Kesuksesan tidak dicapai sekonyong-konyong, ujar Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah, iii/49.

Ibnu Khaldun menganalogikan proses kelahiran dan kehancuran suatu negara dengan kehidupan manusia. Ada tahap-tahap yang mesti dilalui, masing-masing dengan pasang-surut dan pahit-manisnya. Menurut Ibnu Khaldun yang memandang proses sejarah dalam kerangka siklus (ketimbang proses linear ataupun dialektikal), runtuhnya suatu imperium biasanya diawali dengan kedzaliman pemerintah yang tidak lagi memedulikan hak dan kesejahteraan rakyatnya (iii/43) serta sikap sewenang-wenang terhadap rakyat (iii/22). Akibatnya timbul rasa ketidakpuasan, kebencian dan ketidakpedulian rakyat terhadap hukum dan aturan yang ada.

Situasi ini akan semakin parah bila kemudian terjadi perpecahan di kalangan elite penguasa yang kerap berbuntut disintegrasi dan munculnya petty leaders (iii/45). Yang paling menarik adalah observasi Ibnu Khaldun pada pasal 11: bahwa ketika negara sudah mencapai puncak kejayaan, kemakmuran dan kedamaian, maka pemerintah maupun rakyatnya cenderung menjadi tamak dan melampaui batas dalam menikmati apa yang mereka miliki dan kuasai. Itulah petanda kejatuhan mereka sudah dekat.

Namun, kejatuhan suatu bangsa hampir selalu didahului atau diikuti oleh kenaikan bangsa lain yang mewarisi dan meneruskan tradisi maupun peradaban sebelumnya. Sebagai pengganti yang belum semaju dan secanggih pendahulunya, bangsa yang baru muncul ini cenderung meniru bangsa yang pernah menjajahnya hampir dalam segala hal, dari cara berpikir dan bertutur hingga ke tingkah laku dan soal busana. Proses ini bisa berlangsung tiga sampai empat generasi.

Bangsa yang dikalahkan cenderung meniru bangsa yang menaklukannya karena mengira hanya dengan begitu mereka dapat menang kelak. Jika kejayaan suatu bangsa hanya bertahan empat atau lima generasi, hal itu dikarenakan generasi pertama adalah 'pelopor', generasi kedua 'pengikut', generasi ketiga 'penerus tradisi' (tradition keepers), sedangkan generasi keempat berpaling dari tradisi (tradition losers).

Berbeda dengan para penulis sejarah sebelumnya, Ibnu Khaldun dalam analisisnya berusaha objektif. Pendekatan yang dipakainya tidak normatif, akan tetapi empiris-positivistik. Uraiannya berpijak pada das Sein dan bukan das Sollen, pada apa yang sesungguhnya terjadi, bukan apa yang seharusnya terjadi.

Dr. Syamsuddin Arif Ph.D
Orientalisches Seminar Frankfurt, Jerman
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=271691&kat_id=16


Diskusi INSISTS: "Apa Bedanya Mu'tazilah dan Islam Liberal ?"

Start:     Mar 31, '07
Dalam pandangan kaum muslimin, al-Qur'an diyakini sebagai firman Allah SWT yang diturunkan kepada Rasulullah SAW; yang tertulis dalam mushaf, ditransformasikan secara mutawatir dari generasi ke generasi dan membacanya terhitung sebagai ibadah.

Mu'tazilah adalah aliran rasionalis (dalam pengertian lebih mendahulukan akal dari pada wahyu) yang dikenal dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam. Secara harfiah nama Mu'tazilah berarti yang mengasingkan diri. Kebanyakan ahli sejarah sepakat bahwa aliran ini bermula dari perdebatan Washil ibn Atha’ dengan gurunya al-Hasan al-Basri tentang kedudukan pelaku dosa besar, apakah dia kafir atau tetap mukmin.

Perdebatan ini dipicu dengan statemen aliran al-Khawarij yang menggolongkan pelaku dosa besar adalah kafir dan statemen al-Murji’ah yang mengatakan bahwa mereka tetap mukmin. Sedangkan imam al-Hasan al-Basri mengatakan bahwa mereka itu adalah fasiq. Sementara Washil ibn Atha’ mengatakan bahwa kedudukan mereka bukan kafir dan bukan mukmin, tetapi berada di antara dua kedudukan (al-manzilah baina manzilatain).

Perdebatan tersebut berakhir dengan memisahkannya Washil dari halaqah gurunya dan mengasingkan dirinya (I’tazala) di salah satu sudut masjid Basra. Kemudian langkah Washil ini diikuti oleh beberapa orang. Sehingga pada akhirnya imam al-Hasan al-Basri mengatakan: “Washil telah mengasingkan diri dari kita (laqad i’tazala anna Washil)”. Maka semenjak itu Washil dan pengikutnya disebut Mu'tazilah. (Henri Shalahuddin, Mawqif Ahli l-Sunnah wa l-Jama’ah min al-Ushul al-Khamsah li l-Mu’tazilah: Dirasah Naqdiyyah (Pandangan Ahlussunah wal Jama'ah terhadap Prinsip Ushul Khamsah Mu'tazilah: Studi Kritis), skripsi s1, 1999, Fakultas Ushuluddin, Departemen Perbandingan Agama, ISID, Pondok Modern Darussalam Gontor, 121 hal, belum dipublikasikan).

Di antara pandangan Mu'tazilah yang masyhur adalah bahwa al-Qur'an merupakan firman Allah SWT; namun kedudukan al-Qur'an menurut mereka adalah makhluk, bukan azali dan qadim seperti yang diyakini oleh kaum muslimin umumnya. Pandangan ini kemudian dipaksakan menjadi madzhab resmi negara oleh dinasti Abbasyiah selama 62 tahun, dari tahun 170H hingga tahun 232H, yaitu pada masa-masa khilafat al-Makmun, al-Mu’tasim dan al-Watsiq.

Ribuan ulama Ahlussunnah yang menolak paham makhluknya al-Qur'an dihadapkan ke mahkamah, disiksa, dipenjara bahkan dibunuh; seperti yang menimpa Imam Ahmad ibnu Hanbal (pendiri madzhab Hanbali dalam fiqih).

Namun demikian, belum ada satupun ulama yang menganggap Mu'tazilah telah keluar dari batasan Islam, seperti halnya kelompok Ahmadiyyah. Sebab bagaimanapun Mu'tazilah tetap mengakui kewahyuan al-Qur'an, tidak pernah meragukan kedudukan mushaf Usmani, tidak mempermasalahkan bahasa Arab sebagai mediator bahasa wahyu dan (-apalagi-) menganggapnya sebagai produk budaya maupun teks manusiawi seperti yang telah jamak disuarakan Islam Liberal dan diajarkan di berbagai perguruan tinggi yang terkooptasi paham liberal.

Bahkan banyak di antara pemuka Mu'tazilah yang tetap bermakmum di belakang ulama yang bermartabat, seperti al-Qadhi Abdul Jabbar (w 415H/1023M), pemuka Mu’tazilah yang bermadzhab Syafii; Muhammad ibn Abdul Wahhab ibn Salam al-Jubai, pemuka Mu’tazilah yang selalu memuliakan Khulafa' Rasyidun penerus Nabi; Ahmad ibn Ali ibn Bayghajur (w 326H), cendekiawan Mu’tazilah di bidang ilmu bahasa Arab dan Fiqh yang terkenal kezuhudannya, ––menurut Ibnu Hazm–– juga bermadzhab Syafii.

Anehnya, Islam Liberal seringkali mengklaim bahwa paham dan aliran Islam liberal mewarisi tradisi Mu'tazilah. Apakah klaim mereka ini dipertanggungjawabkan secara ilmiah? Benarkah konsep Islam liberal tentang al-Qur'an tidak berbeda dengan Mu'tazilah?

Dimanakah perbedaan kedua konsep ini secara substantif? Bagaimanakah pemuka Mu'tazilah menafsirkan al-Qur'an?

Apakah mereka juga menggunakan tafsir feminis atau menggunakan metode kritik historis seperti yang sering digunakan tokoh-tokoh liberal?

Silahkan mengikuti ulasan lebih lanjut dalam diskusi sabtuan INSISTS. Diskusi ini juga akan membahas Tafsir al-Kasysyaf 'an Haqaiq al-Tanzil wa 'Uyunil Aqawil fi Wujuh al-Ta'wil yang ditulis oleh pemuka Mu'tazilah, Abul Qasim Jarullah Mahmud ibn Umar al-Zamakhsyari tentang ayat-ayat yang menjadi isu sentral Islam liberal, seperti hukum waris, jilbab, iddah, hudud dsb.

Pembicara : Henri Shalahuddin, MA
- S1 di Institut Studi Islam Darussalam Gontor Jatim, 1995-1999
- S2 di International Islamic University Malaysia, 2001-2004

Hari/Tanggal : Sabtu, 31 Maret 2007
Waktu : 10.00 – 12.00
Tempat : Kantor INSISTS Jl. Kalibata Utara II/84 Jakarta


* Tidak dipungut biaya, konfirmasi kehadiran ke 021-7940381 atau 08176895797, tempat duduk terbatas (maksimal) 40 orang dan tersedia makalah. Kehadiran anda akan mempercepat proses pencerahan dan kebangkitan ummat.
 

Monday, March 26, 2007

INSISTS : Kursus Tafsir Al Qur'an

Start:     Mar 27, '07
End:     Apr 27, '07
Location:     Kantor INSISTS. Jl. Kalibata Utara II/84



Materi Kursus:

  1. Otentisitas al-Qur’an: dari zaman Nabi Muhammad saw hingga kini; bagaiamana al-Qur’an selamat dari upaya manusia untuk meruntuhkannya, mulai Musailamah al-Kadzzab sampai kaum orientalis kontemporer.
  2. Definisi tafsir al-Qur’an, ta’wil, pentingnya belajar ilmu tafsir al-qur’an, dan syarat-syarat mufassir; serta bagaiamana tantangan hermeunitika modern terhadap tafsir al-Qur’an.
  3. Sejarah pengumpulan al-Qur’an dan jawabab atas tuduhan orientalis seputar masalah ini.
  4. Pengertian surat-surat al-Qur’an,pengertian ayat dan surat, dan urutan surat dalam al-Qur’an, serta I’jazul Qur’an.
  5. Pengertian Makki dan madani, muhkam dan mutasyabih, qath’iy dan dzanny, asbab an-nuzul dan nasikh-mansukh.
  6.  sejarah ilmu tafsir al-Qur’an dan mengenal para mufassir yang berwibawa beserta karya-karya dan ciri khasnya.
  7. Tafsir ayat-ayat hukum (ayatul ahkam): studi kasus ayat tentang jilbab dan perkawinan lintas-agama.
  8. Praktik menafsirkan al-Qur’an: surat al-Fatihah (analisis I’rabul Qur’an)
  9. Tafsir bil-ma’tsur, tafsir bil’ilmi, tafsir tekstual-kontekstual
  10. Test dan diskusi 
  • Dosen     : Ust. Henri Shalahudin MA, Ust. Adnin Armas MA
  • Peserta    : Minimal 5 orang
  • Tempat    : Kantor INSISTS: Jl. Kalibata Utara II/84 – Jakarta Selatan
  • Waktu       : Sabtu siang, mulai pukul 13.30 wib s/d 15.30 wib
  • Biaya        : Rp. 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah) untuk 10 kali pertemuan
Untuk tanggal mulai kursusnya dan info lebih lanjut bisa menghubungi Kantor INSISTS. Jl. Kalibata Utara II/84 Telp 021 7940381

Pada awal bulan Mei 2007, INSISTS insya Allah akan meluncurkan INSISTS Membership Program. Program ini bertujuan untuk memberikan kemudahan serta  prioritas dalam berbagai hal yang terkait dengan program-program INSISTS untuk para member.Dengan berbagai prioritas yang ada, INSISTS siap melayani dan memberikan kontribusi yang terbaik bagi member INSISTS. Yang terpenting dengan program ini diharapkan Ukhuwah antara INSISTS dengan membernya dapat terjalin lebih erat.

Selama menjadi member, fasilitas yang akan didapatkan member di antaranya: mendapatkan Jurnal ISLAMIA, mendapatkan diskon pembelian buku-buku peneliti INSISTS, diskon seminar, diskon workshop, mendapatkan news letter berkala, pelayanan informasi melalui email dan SMS, dan lain-lain.
Membership ini akan di bagi menjadi 2 segmen yakni segmen umum dan segmen mahasiswa. Semoga dengan adanya program ini, kesinambungan dakwah Islam dapat terealisasi dengan lebih baik. Untuk info selanjutnya dapat menghubungi sekretariat INSISTS.