Tuesday, March 20, 2007

Kritik terhadap Ensiklopedi Nurcholish Madjid

Rating:★★★★★
Category:Other
Diskusi Sabtuan INSISTS
Sabtu, 24 Maret 2007
Pukul 10.00 - 12.00
Pembicara : Adnin Armas, MA
Topik : "Membedah Ensiklopedi Nurcholish Madjid"
Tempat: Kantor INSISTS       
Jl. Kalibata Utara II/84
Telp 021 7940381
____________________________


Kritik terhadap Ensiklopedi Nurcholish Madjid
Oleh: Adian Husaini, MA

Tidaklah berlebihan jika dikatakan, bahwa bagi sebagian orang di Indonesia, sosok Nurcholish Madjid telah menjadi ’idola’ dalam arti yang sebenarnya. Meskipun telah meninggal pada 29 Agustus 2005 lalu, Nurcholish Madjid telah menjadi gantungan hidup berbagai orang. Ia telah dikultuskan, bahkan diberhalakan. Ia telah di-Firaun-kan. Sosoknya terus dipuja dan pendapat-pendapatnya terus disebarkan ke tengah masyarakat, tanpa kritik yang berarti. Seolah-olah dia adalah manusia suci tanpa kesalahan dalam pemikirannya. Seolah-olah dia adalah pemikir terbesar dalam sejarah Indonesia yang pendapat-pendapatnya membawa kesejahteraan dan kemajuan bagi umat Islam.

Upaya untuk memberikan penghormatan secara berlebihan kepada Nurcholish Madjid juga terlihat dalam penerbitan buku Ensiklopedi Nurcholish Madjid, yang diluncurkan Februari 2007 lalu. Upaya ini bisa dilihat sebagai upaya serius dan sistematis dengan dukungan dana yang sangat besar. Buku ini antara lain disponsori penulisannya oleh PT Astra Internasional Tbk. Penulis buku ini, Budhy Munawar-Rachman, juga membuat pengakuan:

”Selama proses penyuntingan yang memakan waktu kerja full time setahun, saya merasakan menfaat besar training filosofis dan teologis – dan utang budi intelektual – yang telah diberikan oleh dua guru besar filsafat saya, Romo Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno SJ dan Romo Prof. Dr. Martin Harun OFM. Mereka telah membimbing saya bagaimana melakukan kajian hermeneutis atas suatu teks filosofis keagamaan. Pelajaran yang mereka berikan telah menghasilkan buah kemampuan meyunting teks-teks Cak Nur ini, sehingga bisa tersaji baik seperti ini.”

Penulis buku ini juga mengaku sangat berhutang budi kepada Nurcholish Madjid. ”Terus terang, Cak Nur telah menyelamatkan iman saya dari ketidakpercayaan akibat gempuran renungan-renungan filosofis yang sangat kritis terhadap apa pun yang dianggap sebagai pemikiran mapan,” tulis Budhy yang juga penulis buku Islam Pluralis.

Tanpa menafikan berbagai kelebihan yang ada pada Nurcholish Madjid, pemikiran-pemikiran Nurcholish Madjid juga harus dikaji secara kritis. Majalah Suara Hidayatullah (edisi Maret 2007) menurunkan wawancara dengan Ahmad Rifa’i (66 tahun), anggota Dewan Pengawas Yayasan Paramadina, yang secara kritis mengakui bahwa liberalisme yang digaungkan Nurcholish Madjid lebih banyak membawa mudharat. Rifa’i juga membongkar praktik percaloan perkawinan antar-agama di Paramadina yang dimotori oleh Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer dan kawan-kawan, yang ternyata melibatkan jumlah uang yang tidak sedikit. Dari pelayanan perkawinan antar-agama ini, orang membayar Rp 10-15 juta, dan uangnya tidak masuk ke kas yayasan. Ketua Dewan Pembina Yayasan, Azyumardi Azra kemudian memutuskan melarang praktik semacam itu di Paramadina.

Sikap kritis dan proporsional terhadap pemikiran-pemikiran Nucrholish Madjid sangat diperlukan, agar generasi Islam berikutnya tidak kehilangan gambaran yang jernih dan adil tentang para pemikir Islam di Indonesia. Jangan sampai muncul persepsi bahwa pemikiran Nurcholish Madjid adalah rangkaian dari sejarah pemikiran Islam yang dibawa para pejuang dan pendakwah Islam di Indonesia, yang dimotori oleh ulama-ulama bermazhab Syafii.

Perlu kita ingat, dalam buku Fiqih Lintas Agama yang ditulis Nurcholish Madjid dan kawan-kawan, sosok Nurcholish Madjid begitu dibesar-besarkan, sementara sosok Imam Syafii dikecilkan – suatu tindakan yang sangat zalim dan tidak beradab. Bagaimana mungkin bisa dikatakan satu tindakan yang beradab jika dalam buku ini dikatakan, bahwa “Kaum Muslim lebih suka terbuai dengan kerangkeng dan belenggu pemikiran fiqih yang dibuat imam Syafi’i. Kita lupa, imam Syafi’i memang arsitek ushul fiqih yang paling brilian, tapi juga karena Syafi’ilah pemikiran-pemikiran fiqih tidak berkembang selama kurang lebih dua belas abad. Sejak Syafi’i meletakkan kerangka ushul fiqihnya, para pemikir fiqih Muslim tidak mampu keluar dari jeratan metodologinya.”

Sementara di dalam Ensiklopedi Nurcholish Madjid kali ini – yang penerbitannya sudah direstui oleh Nucrholish dan keluarganya -- disebutkan bahwa ”Cak Nur menganut suatu paham liberal-syariah”, dan ”ia sangat kental dengan usaha pengembangan hermeneutika Al-Quran.” Juga, ditulis, ”Dengan pengembangan hermeneutika Al-Quran ini, Cak Nur membuat suatu pembaruan yang liberal, yang sudah menjadi agendanya sejak 1970-an, hanya saja sekarang dilakukannya dengan cara yang tidak kontroversial, karena menggunakan hermeneutika Al-Quran.”

Jika disebutkan bahwa Nurcholish Madjid memang mengembangkan hermeneutika Al-Quran, kita bisa bertanya, buku apakah yang pernah ditulis oleh Nurcholish Madjid tentang hermeneutika Al-Quran? Teori apakah yang pernah dirumuskannya? Ternyata, kita tidak akan pernah menemukannya, karena Nurcholish memang tidak menulis buku hermeneutika secara serius dan ilmiah. Para ilmuan pengkaji hermeneutika di Indonesia apalagi di dunia, juga tidak menempatkan Nurcholish Madjid sebagai ilmuwan yang otoritatif di bidang ini.

Hal ini tentu berbeda dengan Imam Syafii yang menulis berbagai kitab tentang Ushul Fiqih, tentang fiqih, dan sebagainya, yang dijadikan rujukan para ulama Islam selama ratusan tahun, sampai hari ini. Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Ghazali, dan ribuan ulama lainnya, mengakui otoritas Imam Syafii di bidang ini. Tetapi, bagi Nurcholish Madjid dan kawan-kawannya para penulis buku Fiqih Lintas Agama, Imam Syafii dianggap sebagai batu penghalang besar bagi misi liberalisasi mereka, sehingga mereka melakukan kezaliman intelektual yang akhirnya akan menistakan diri mereka sendiri.

Namun, para pendukung Nurcholish Madjid seperti sudah menutup diri terhadap kritik. Mereka enggan menarik buku Fiqih Lintas Agama dan lain-lain. Mereka terus memujanya secara berlebihan. Pada 22 Desember 2006, beberapa bulan sebelum peluncuran Ensiklopedi Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo menulis satu ulasan di Harian Kompas berjudul: “Pembaruan Islam: Ensiklopedia Nucrholish Madjid”. Dawam Rahardjo menulis, bahwa buku itu merupakan upaya sistematisasi tentang “Nurcholisisme”, dan dia menyimpulkan, “Nurcholish tidak sekedar menjadi tokoh pembaru pemikiran Islam, tetapi juga seorang guru bangsa.”

Padahal, jika ditelaah dengan cermat, banyak hal yang secara ilmiah sulit dibenarkan dalam Ensiklopedi ini. Misalnya, klaim buku ini bahwa ”isu pluralisme yang dikembangkan Cak Nur, bersumber dari Ibnu Taimiyyah.” Bagi yang mendalami pemikiran pluralisme Nurcholish Madjid dan pemikiran keagamaan Ibnu Taymiyyah, tentu akan tertawa geli membaca kalimat ini. Mungkin saja ada sepotong dua potong kalimat Ibnu Taymiyyah dan Nurcholish Madjid yang seolah-olah mengandung makna pluralisme agama. Tetapi, itu sama artinya, dengan menyamakan bahwa manusia sama dengan kambing, hanya karena melihat kedua makhluk itu sama-sama mempunyai telinga.

Seperti yang disebutkan oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi dalam kritiknya terhadap pemikiran Nurcholish Madjid, salah satu persoalan mendasar pada pemikiran Nurcholish Madjid adalah problem epistemologis. Metode berpikir apa yang sebenarnya digunakan oleh Nurcholish Madjid dalam memahami Al-Quran dan Sunnah. Jika dia menggunakan hermeneutika, bagaimana sosok bangunan metodologisnya, hermeneutika yang mana yang dia pakai?

Karena itu, dalam Ensiklopedi ini, kita tidak mendapatkan bangunan pemikiran yang utuh.  Apalagi, Nurcholish sering menggunakan istilah-istilah secara serampangan, sesuai dengan kemauannya sendiri. Misalnya, dimuat dalam buku ini, jawaban Nurcholish di Jurnal Ulumul Quran terhadap pertanyaan yang menyebutnya sebagai orang yang sangat liberal : ‘’Kalau begitu, memang Al-Quran itu liberal. Jadi untuk menjadi liberal, orang harus Al-Quranik !’’

Tentu saja, Nurcholish membuat definisi sendiri tentang makna kata ‘liberal’. Tetapi, jika istilah-istilah itu sudah dimaknai sendiri, memang tidak perlu didiskusikan secara ilmiah. Sebab, dalam diskusi ilmiah, harus ada kesepakatan makna. Sebagaimana tidak bisa didiskusikan, misalnya, jika ada orang bicara bahwa Al-Quran bercorak komunis, hanya karena ada ayat yang membela kaum tertindas. Kekacauan penggunaan istilah oleh Nurcholish ini sudah lama dikritik oleh Prof. HM Rasyidi.

Begitu juga dalam penggunaan istilah sekularisasi. Bagi Nurcholish, seperti juga dibahas dalam buku ini, sekularisasi misalnya, dia definisikan sebagai ‘’pembebasan diri dari tutelege (asuhan) agama, sebagai cara beragama secara dewasa, beragama dengan penuh kesadaran dan penuh pengertian, tidak sekedar konvensional belaka.’’ Pengertian kalimat itu saja sudah kontradiktif. Jika diri manusia sudah dibebaskan dari asuhan agama, bagaimana dia bisa beragama dengan penuh kedewasaan?

Definisi sekularisasi itu diambil begitu saja oleh Nurcholish dari kalimat Harvey Cox dalam bukunya ”The Secular City”, dimana Cox menyatakan: ”Secularization is the liberation of man from religious and metaphysical tutelage, the turning of his attention away from other worlds and towards this one.”

Contoh lain, penggunaan dan pemaknaan istilah yang rancu adalah dalam pemaknaan kata ’Islam’. Ditulis dalam buku ini, bahwa yang menjadi sumber gagasan tentang universalitan Islam itu justru adalah pengertian dari perkataan ‘’islam’’ itu sendiri, sebagai ‘’sikap pasrah kepada Tuhan’’. Pada dasarnya agama yang sah – al-din, ketundukan, kepatuhan, atau ketaatan, seperti yang sudah disebut di atas – tidak bisa lain dari sikap pasrah kepada Tuhan (al-islam). Tidak ada agama tanpa sikap pasrah. Berdasarkan teologi ini, semua agama yang benar, adalah agama yang mengajarkan sikap pasrah kepada Tuhan – mengajarkan al-islam dalam arti generiknya. Agama Islam secara par excellence tampil dalam rangkaian dengan agama-agama al-islam yang lain. Walaupun dalam kenyataannya, agama-agama lain itu, tidak disebut dengan nama islam, sejalan dengan lingkungan, bahasa, bahkan mode of thinking-nya.

Gagasan Nurcholish tentang makna generik islam sebagai “agama berserah diri ini, jika kita cermati, paralel dengan pemikiran teolog terkenal Katolik Karl Rahner tentang “anonymous Christianity” (Kristen tanpa nama). Gagasan ini berbicara tentang validitas agama-agama non-Kristen sebelum datangnya misi Kristen pada mereka. Begitu Bibel sudah sampai pada mereka, maka agama-agama non-Islam menjadi tidak valid lagi. Gagasan Rahner tentang teori ”anonymous Christianity” agak lebih tegas dibanding gagasan ” Islam generik”-nya Nurcholish.

Dalam gagasannya ini, Nurcholish tidak menegaskan lebih jauh, mana saja agama yang mengajarkan sikap pasrah itu. Bagaimana posisi agama-agama selain Islam sekarang ini, apakah masih bisa disebut agama al-islam? Dan yang terpenting, bagaimana cara untuk pasrah kepada Tuhan? Lebih penting lagi, siapa yang dimaksud dengan ‘Tuhan’ itu? Jika orang Hindu pasrah kepada Tuhan-nya dengan caranya sendiri, apakah bisa dia disebut ‘muslim’? Nurcholish juga tidak membahas, misalnya, bagaimana posisi kewajiban keimanan kepada Nabi Muhammad saw? Apakah orang Yahudi dan Kristen yang pasrah kepada Tuhan tetapi tidak beriman kepada kenabian Muhammad saw, bisa disebut ‘muslim’? Apa definisi dan cara ‘pasrah’? Semua itu tidak ditegaskan secara gamblang oleh Nurcholish.

Yang jelas, disebutkan dalam buku ini, Nurcholish membantah pandangan para mufassir klasik, bahwa kedatangan Al-Quran itu menghapuskan (me-mansukh-kan) keabsahan kitab-kitab sebelumnya. Kata Nurcholish, pandangan semacam itu, hanya tafsiran dan prasangka para penafsir.

Sebenarnya, pandangan Nurcholish itu perlu diklarifikasi. Al-Quran memang mewajibkan untuk mengimani kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi. Tapi, Al-Quran juga menyebutkan dengan tegas, bahwa kaum Yahudi telah melakukan tindakan yang sangat dimurkai oleh Allah, yaitu mengubah-ubah kitab mereka (Lihat, misalnya, QS 2:59, 2:75, 2:79, dsb.). Karena itu, umat Islam wajib beriman kepada Taurat, tetapi tidak diwajibkan untuk beriman kepada ‘Torah’ dan Kitab-kitab Yahudi lainnya sekarang ini. Sebab, Yudaisme saat ini, bukanlah agama yang dibawa oleh Nabi Musa, meskipun sebagiannya mungkin mengandung ajaran yang dibawa Nabi Musa a.s.

Salah satu gagasan Nurcholish yang penting untuk dikritisi adalah cara dia menerjemahkan kalimah tauhid. Ia menyebut kata Allah berasal dari kata “al-ilah”, Tuhan itu. Sehingga dia menerjemahkan Laa ilaaha illal-Llah dengan “Tiada tuhan kecuali Tuhan itu”. Penerjemahan ala Nurcholish, bahwa Allah menjadi “Tuhan itu”, dalam konsepsi Islam, tidaklah tepat. Sebab, dalam Islam, kata “Allah” adalah nama (proper-name). Bagi Islam, ”Allah” adalah nama. Karena itu, kata “Allah” tidak boleh diterjemahkan. Kalau orang masuk Islam, maka dia harus membaca syahadat: “Saya bersaksi, tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” Bukannya: “Saya bersaksi, bahwa tidak ada tuhan selain Tuhan itu” dan “Yang terpuji adalah utusan Allah.” Muhammad artinya memang yang terpuji. Tapi, karena sudah menjadi nama diri, maka tidak boleh diterjemahkan.

Tradisi tidak menyebut nama Tuhan di Barat berasal dari tradisi Yahudi, yang hingga kini tidak berhasil memecahkan cara membaca empat huruf mati nama Tuhan, yaitu ‘YHWH’. Jika ketemu nama Tuhan itu, kaum Yahudi menyebutnya dengan ‘Adonai’ (Tuhan). Karena itu, kaum Yahudi-Kristen di Barat menyebut Tuhan mereka dengan ‘God’ atau ‘Lord’. ‘God’ bukan nama, tapi sebutan untuk Tuhan. Cara NM menerjemahkan Allah menjadi ‘Tuhan itu’ bisa dilihat dari tradisi Yahudi/Kristen.

Dengan berbagai penafsiran baru tentang Islam tersebut, tidaklah salah jika Majalah Tempo edisi 29 Juli 1972 memberi cap gerakan pembaruan Nurcholish Madjid sebagai “Neo-Islam di Indonesia”. Neo-Islam tentu saja artinya adalah “Islam yang baru”; Islam yang tidak sama dengan Islam sebelumnya; Islam yang tidak sama dengan Islam yang dipahami para ulama dan umat Islam selama ini.

Dari segi kemasan, Ensiklopedi Nurcholish Madjid yang diluncurkan pada Februari 2007 lalu, ini memang menawan. Tetapi, seperti disebutkan oleh penulisnya, Ensiklopedi ini bukanlah ensiklopedi ilmiah. Buku ini disebut ensiklopedi karena dibuat besar, empat jilid dengan total halaman sekitar 4.000.

Bisa dikatakan, ‘ensiklopedi’ ini laksana pasar yang memuat apa saja yang pernah ditulis atau diucapkan Nurcholish. Laiknya suatu pasar, di sana disediakan barang apa saja; mulai madu, gula, Al-Quran, cabe, garam, pupuk kandang, pakaian, sampai racun tikus. Karena itu, pembaca buku ini perlu benar-benar memahami dan membedakan, mana yang ‘madu’, ‘cabe’, ‘pecel’ dan mana yang ‘racun tikus’.

Sebagai laiknya ‘pasar’, buku ini mengandung banyak hal. Jadi, silakan pilah dan pilih mana yang ‘madu’ dan mana yang ‘racun tikus’. Memang agak repot jika ’madu’ sudah bercanpur ’racun’. Namun, pada sisi lain, buku ini menjadi tantangan yang menarik bagi para pengkritik ide pembaruan Islam, agar bisa membuat buku yang lebih baik. Bukan hanya dari segi substansi, tetapi juga kemasan. Sebab, dalam hukum pemasaran dikenal jargon, bahwa kemasan lebih penting dari isi. Sesuatu produk yang jelas-jelas mengandung racun (seperti nikotin) karena dikemas dengan bagus dan dipromosikan dengan gencar, ternyata banyak juga peminatnya. Wallahu a’lam.

[Depok, 16 Maret 2007]


Diskusi INSISTS: "Membedah Ensiklopedi Nurcholish Madjid"

Start:     Mar 24, '07
Diskusi Sabtuan INSISTS
Sabtu, 24 Maret 2007
Pukul 10.00 - 12.00
Pembicara : Adnin Armas, MA
Topik : "Membedah Ensiklopedi Nurcholish Madjid"
Tempat: Kantor INSISTS
Jl. Kalibata Utara II/84
Telp 021 7940381

Friday, March 16, 2007

Islamic Book Fair, 11 Maret 2007


Jalanan depan Century macet berat, jadi kita parkir di masjid al Bina dan jalan menyusuri hutan Senayan :D

Inilah suasana IBF 2007 kemarin. Acaranya sendiri seperti biasa sangat ramai. Saya ke IBF 2007 ini dua kali, yang pertama dengan Nina yaitu hari Senin dan yang kedua dengan kakak saya Aria dan temannya Boyke hari Minggu, hari terakhir IBF. Untuk acaranya jujur menurut saya kurang rame dibanding tahun kemarin, jelas aja tahun kemarin itu bintang tamunya adalah Aidh Al Qarni :).

Tapi biar bagaimanapun acaranya, yang penting bagi saya adalah harga buku-bukunya yang diskonnya gede-gedean :D.

Friday, March 9, 2007

Buku : Ensiklopedi Tokoh Orientalis

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Abdurrahman Badawi
Judul buku: Ensiklopedi Tokoh Orientalis
Penulis: Abdurrahman Badawi
Penerjemah: Amroeni Drajat
Penerbit: LKiS Yogyakarta
Tebal : 448 halaman



Keberadaan kaum orientalis bagi dunia Islam telah menimbulkan perdebatan panjang. Sebagian umat Islam menolak mentah-mentah terhadap kajian yang dilakukan kaum orientalis, karena dipandang telah melecehkan Islam. Hal ini berangkat dari sebagian kesimpulan kaum orientalis yang mewartakan bahwa Islam sebagai agama "saduran" dari agama-agama dan budaya sebelumnya. Kesimpulan seperti ini jelas berkaitan dengan sikap ideologi dan kecemasan kaum orientalis dalam beragama, selain agama yang mereka anut adalah musuh, dan harus dihancurkan.

Perlawanan umat Islam terhadap kaum orientalis model ini, biasanya melakukan counter dengan ajarn agama pula. Bahwa untuk meruntuhkan tesis kaum orientalis yang negatif tersebut, umat Islam harus senantiasa menghidupkan tradisi Islam seperti pada masa jayanya, zaman Rasulullah dan para sahabat. Semua konsep hidup yang baik dapat digali dari agama sendiri tanpa harus memakai konsep barat.

Buku Ensiklopedi Tokoh Orientalis ini berusaha mengenalkan kepada masyarakat tentang profil 205 tokoh orientalis, fokus kajian, aktifitas dan pandangan dan penilaian mereka terhadap Islam. Beberapa nama dalam buku ini, bagi pemerhati bidang islamic thought, tentu telah dikenal seperti, Ignaz Goldziher, Joseph Schacht, Christian Snouck Hurgronje, Theodore Noldeke dan masih banyak lagi nama lainnya. Walaupun hasil penelitian yang mereka lakukan perlu diwaspadai, tetap saja usaha yang mereka lakukan tidak main-main. Banyak diantara para orientalis itu yang menguasai bahasa arab dan bahkan menjadi guru di universitas di dataran timur tengah.

Christian Snouck Hurgronje misalnya, pada tahun 1884 mengadakan petualangan ke jazirah Arab, dan menetap di Jeddah sejak Agustus 1884 hingga Februari 1885, sebagai persiapan menuju Mekah, yang merupakan tujuan utama dari petualangannya. Snouck sampai di Mekah pada tanggal 22 Februari 1885 dengan menggunakan nama samaran Abdul Ghafar, karena memang Mekah tertutup untuk yang selain muslim. Dia menetap di Mekah selama enam bulan dan menghasilkan karya berjudul Makah. Namun akhirnya pada bulan Agustus, Snouck dipaksa keluar dari Mekah oleh konsul Prancis.

Usaha yang dilakukan para orientalis memang tidak main-main dalam usahanya untuk meruntuhkan Islam. Genderang perang pemikiran (ghazwul-fikri) terhadap umat Islam telah ditabuh sejak lama. Simaklah apa yang diikrarkan oleh Samuel Zwemmer, seorang orientalis Yahudi pada Konferensi Misionaris di kota Yerussalem, Palestina (1935), Zwemmer mengatakan, "Misi kolonialisme dan misionaris terhadap Islam bukanlah menghancurkan kaum Muslimin. Namun mengeluarkan seorang Muslim dari Islam agar dia menjadi orang Muslim yang tidak berakhlak. Dengan begitu akan membuka pintu bagi kemenangan imperialis di negeri-negeri Islam".

Harry Dorman dalam bukunya, Towards Understanding Islam (New York: 1948), mengungkapkan pernyataan seorang misionaris, "Boleh jadi dalam beberapa tahun mendatang, sumbangan besar misionaris di wilayah-wilayah Muslim tidak akan begitu banyak memurtadkan orang Muslim, melainkan lebih banyak menyelewengkan Islam itu sendiri. Inilah bidang tugas yang tidak bisa diabaikan". Maka tunggu apalagi ? siapkan senjata (knowledge) dan kokohkan benteng keimanan. Inilah saatnya ghazwul-fikri.

Pujian Amerika, Senyuman Musdah Mulia

Rating:
Category:Other
Hidayatullah.com—Meronalah wajah Siti Musdah Muliah. Ia mengaku terperanjat mendengar namanya disebut-sebut Amerika. Bukan apa-apa, siapa tak kenal Amerika? Kampiun demokrari, sang polisi dunia yang sangat ternama.

“Saya hanya diberi waktu satu hari untuk mengurus visa dan berbenah sebelum terbang ke Amerika," ujarnya dikutip Antara di Washington DC, sesaat sebelum menerima penghargaan dari Menteri Luar Negeri Amerika, Condoleezza Rice. Senang dan terkejut mungkin campur jadi satu. Apalagi ketika kedutaan Amerika Serikat di Jakarta menghubunginya dan mengatakan, dirinya diangga terpilih menjadi satu-satunya wanita di Indonesia yang mendapatkan penghargaan dari Amerika Serikat.

Ia, katanya dianggap sukses menyuarakan, membela dan mengembalikan hak perempuan di mata agama dengan cara melakukan 'pembaruan hukum Islam' –termasuk-- undang-undang perkawinan. Karena itulah, pada Hari Perempuan Dunia tanggal 8 Maret kemarin, Musdah menerima penghargaan International Women of Courage dari Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice di kantor kementerian luar negeri Amerika Serikat (AS), Washington.

Tapi Musdah bukan satu-satunya penerima penghargaan. Masih banyak wanita lain menerimanya. Diantaranya dari kawasan Asia Pasifik. Ada yang dari Zimbabwe, Latvia, Arab Saudi, Argentina, Maladewa, dua orang dari Afganistan, dan dua dari Iraq.

Penghargaan tahunan tersebut pertama kali diberikan pemerintah Amerika Serikat kepada perempuan dunia. Katanya, 'yang dianggap berani membuat perubahan demi kemajuan perempuan di negaranya'.

Musdah, adalah salah satua dari 100 wanita yang terpilih dari 100 nama yang diusulkan di seluruh dunia. "Saya hanya ingin mengembalikan prinsip Islam, yang humanis dan ramah terhadap perempuan," kata Musdah seolah merendah.

Dalam pidato sambutannya, Condoleezza Rice mengatakan, perjuangan untuk mendapatkan kesetaraan jender tidak mudah. Negara demokrasi, seperti, Amerika Serikat pun, membutuhkan waktu lebih dari 130 tahun untuk memberikan hak pilih bagi perempuan.

Bergerilya

Siti Musdah Mulia adalah salah satu tokoh Islam Liberal yang pernah bikin heboh di Indonesia ketika mengusulkan counter legal draft Kompilasi Hukum Islam (CLD-KHI) sekitar tahun 2004. Counter Legal Draft (CLD) Kompilasi Hukum Islam ini dinilai banyak kaum Muslim 'melabrak' pemahaman tentang hukum perkawinan, waris, dan wakaf dalam Islam.

Diantara teks-teks krusial yang diusulan Tim Musdah Mulia ketika itu antara lain; disebutkan bahwa pernikahan bukan ibadah, perempuan boleh menikahkan dirinya sendiri, poligami haram, boleh nikah beda agama, boleh kawin kontrak, ijab kabul bukan rukun nikah dan anak kecil bebas memilih agamanya sendiri. Pendekatan gender, pluralisme, HAM dan demokrasi bukanlah pendekatan hukum Islam.

Tentu saja bukan sepi masalah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebut draft ini sebagai bid’ah (penyimpangan) dan taghyir (perubahan) dari hukum Islam. MUI menyebut CLD-KHI sebagai upaya memanipulasi nash-nash Al-Qur’an.

Tak urung, kasus ini membuat Menteri Agama saat itu, Prof. DR. H. Said Agiel Al Munawar, menyampaikan teguran keras kepada Tim Penulis Pembaruan Hukum Islam, melalui suratnya tanggal 12 Oktober 2004, No.: MA/271/2004, untuk tidak lagi mengulangi mengadakan seminar atau kegiatan serupa dengan mengatasnamakan tim Departemen Agama dan semua Draft CLD-KHI agar diserahkan kepada Menteri Agama RI.

Bahkan Menteri Agama RI yang baru, Maftuh Basyuni langsung membatalkan CLD-KHI pada tanggal 14 Februari 2005. Dan Siti Musdah Mulia sebagai Ketua Tim Penyusun CLD-KHI dilarang pemerintah menyebarluaskan gagasannya.

Berhentikah Musdah? Tentu saja tidak. Ia bersama kawan-kawannya yang se ide–tentu saja dibantu The Asia Foundation lembaga donasi dari Amerika yang sering mendukung gagasan liberalisme-- terus mengasongkan gagasannya. Ia bahkan muncul kembali bersama para penulis buku Fiqih Lintas Agama. Yang oleh sebagian kaum Muslim dianggap banyak membuang makna teks dan menggunakan aspek konteks secara amburadul.

Dengan pujian Amerika yang baru saja ia sandang, nampaknya menjadi spirit baru Musdah untuk terus bergerilya. Walau, ia sesungguhnya tau, dampaknya, ia harus berhadapan dengan kaum Muslim di Negerinya sendiri.

"Pemahaman saya sering dicap terlalu kebarat-baratan dan saya tidak akan terkejut, sekembali dari Amerika Serikat, saya akan dicap sebagai antek Amerika," kata Musdah seolah telah siap dengan segala resikonya.

Tenar Setelah “Menghujat”

Kasus Musdah Mulia bukanlah hal baru. Khususnya Amerika dan Barat, pujian-pujian serupa ibarat permen yang akan terus diberikan disaat dibutuhkan. Sebelum Musdah, ada nama Salman Rusdie dengan The Satanic Verses nya. Juga  Irshad Manji, seorang warga Muslim asal Kanada yang kini tinggal di Belanda. Namanya begitu tenar setelah gagasannya yang mengatakan, cendekiawan Barat seharusnya tidak takut lagi mengkritik Islam.

Irsyad Manji adalah seorang aktivis yang juga penganut lesbianisme. Manji begitu tenar dan dipuja sebagai pahlawan di dunia Barat karena kritik agresif mereka terhadap Islam. Meski Manji begitu menyakit perasaan kaumnya sendiri, di dunia Muslim.

Bagi pers asing, Manji dianggap ‘seorang provokator berjalan untuk Islam tradisional’. Tahun 2003 ia mempublikasikan bukunya "The Trouble with Islam Today". Isinya banyak menghujat Islam.

Sebelumnya ada nama Nasr Hamid Abu Zayd, intelektual muslim asal Mesir. Nasr Hamid Abu Zayd adalah pemikir liberal Mesir yang dihukumi 'murtad' oleh 2000 ulama Mesir atas beberapa pemikirannya yang cukup berbahaya. Ia kemudian lari di tampung di Negeri Belanda. Di sana, ia kemudian diberi puja-puji. Dan semakin liarlah pemikirannya.

Tapi itu hanya permulaan, kata cendekiawan Muslim Adian Husaini. Sebab, masih akan banyak nama yang akan menerima penghargaan oleh Amerika dan Barat di masa depan. Mengutip pepatah Arab, Adian mengatakan, “Khaalif, tu’raf!.” Jika ingin terkenal, gampang saja. Berfikirlah nyleneh!. Nah, boleh jadi Amerika juga akan mengundang Inul sebagaimana Musdah Mulia. [cholis akbar/hidayatullah.com]

Buku : Akar Gerakan Orientalisme

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Reference
Author:Dr. Adnan M. Wizan
Judul asli : al-Istisyraq wa al-Mustasyriqun
Judul Terjemahan : Akar Gerakan Orientalisme
Penulis : Dr. Adnan M. Wizan
Penerbit : Fajar Pustaka Baru
Tromolpos 5 Banguntapan,
Mutihan No. 154, Rt.04 Rw.18
Wirokerten, Banguntapan
Yogyakarta 55194
Telp/Fax : (0274) 380714
E-Mail : fajar_pustaka@lycos.com



Orientalisme adalah suatu gerakan yang memiliki akar kuat dalam memusuhi Islam. Sebagaimana yang terjadi sejak masa Nabi, para pengingkar kebenaran Islam senantiasa menunjukkan sikap-sikap yang mendiskreditkan dan melakukan propaganda-propaganda permusuhan terhadap umat Islam. Permusuhan itu kini berlanjut dan diteruskan oleh generasi orientalis hingga sekarang. Para orientalis, karena takut memerangi umat Islam secara langsung melalui perang fisik sebagaimana ditunjukkan oleh sejarah dalam perang salib, mereka kemudian mengalihkan serangannya lewat gagasan dan ide, atau yang biasa disebut "Perang Pemikiran" (al-Ghazwul Fikr).

Ini berarti orientalis merupakan kelanjutan dari perang salib. Dengan kedok kajian ilmiah-objektif mereka bermaksud menjauhkan umat Islam dari ajaran-ajaran sucinya, bahkan berusaha mengendalikan umat Islam dan orang-orang Timur pada umumnya dibawah kendali kekuasaan mereka.

Buku ini mengungkapkan kebenaran yang telah disalah-artikan oleh kalangan tertentu, serta menguak realitas gerakan orientalisme dengan propaganda dan kajian ilmiah yang terselubung. Lewat buku ini pula, akan diketahui sejarah, maksud dan tujuan, kepentingan-kepentingan, serta orientasi dan paradigma orientalisme modern, yang harus dimengerti oleh setiap orang yang ingin memelihara otentisitas kebenaran Islam serta hendak menjaga martabat harga diri sebagai umat yang merdeka dan bebas dari penjajahan.


Thursday, March 8, 2007

Buku : Para Pengkhianat Islam

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Reference
Author:Maryam Jameelah

Judul asli : Traitors Of Islam (Terj. Para Pengkhianat)
Penulis : Maryam Jameelah
Penerbit : Pustaka Thariqul Izzah
Kompleks Griya Kedung Badak
Blok F No. 12-A Bogor 16161
Telp : 0251-638607
Fax : 0251-636195
E-Mail : buku-pti@indo.net.id

Salah satu cara musuh-musuh Islam untuk menghancurkan kaum Muslim adalah menyusupkan "ulama-ulama" maupun "intelektual muslim" yang berbaju Islam tetapi pemikirannya kufur. Ulama-ulama dan kaum intelektual modernis ini memperoleh gemblengan langsung dari para orientalis, yang sejatinya membenci Islam. Anak-anak asuh peradaban Barat ini dibesarkan di alam lingkungan sekular-kapitalis, dan disusui dengan pemikiran-pemikiran kufur yang menyesatkan.

Cara ini jauh lebih berbahaya bagi kaum Muslim, karena mayoritas Muslim menganggap mereka adalah ulama-ulama dan tokoh-tokoh Muslim yang layak menjadi panutan. Propaganda dan kesesatan yang mereka lontarkan serta merta akan diikuti oleh para pengikutnya, tanpa mempertimbangkan lagi benar salahnya pemikiran yang mereka sampaikan.

Buku ini mengungkapkan pemikiran-pemikiran "asing" yang mereka lontarkan, sekaligus membeberkan beberapa contoh figur yang selama ini kita anggap sebagai pembaharu, tetapi hakekatnya adalah musuh-musuh yang membenci Islam dan kaum Muslim. Mereka telah memposisikan dirinya sebagai kaki tangan negara-negara kafir, dan sepak terjangnya dilakukan dalam rangka memelihara kepentingan-kepentingan majikan-majikan mereka.

Tokoh-tokoh yang dibahas dibuku ini adalah :

                                                      
Sayyid Ahmad Khan                     Dr. Taha Hussain                  M. Abdul Kalam Azad 
             

                                       

Musthafa Kemal Atatürk                   Sayyid Ameer Ali                Syaikh Ali Abd Ar-Raziq