Friday, April 28, 2006

Amunisi Untuk Melawan Pemikiran Islam Liberal

Rating:★★★★★
Category:Other
Originaly posted by Akmal


Assalaamu'alaikum wr. wb.

Di bawah ini adalah tulisan-tulisan (dan beberapa berupa rekaman audio atau visual) yang berkisar pada masalah ajaran liberalisme dalam tubuh umat Islam. Artikel-artikel ini bisa dijadikan bahan bagi rekan-rekan semua untuk beradu argumen dengan para pendukung Islam liberal (tentunya dengan cara-cara yang baik). Insya Allah akan selalu di-update. Bagi rekan-rekan yang merasa memiliki artikel di homepage pribadinya yang rasanya bisa bermanfaat untuk menjawab tantangan dari kaum liberalis (sekaligus untuk menyikapi isu-isu yang mereka lemparkan) silakan menginformasikannya langsung kepada saya dengan mengirimkan private message (jangan lewat reply ya, nanti penuh...) lengkap dengan link menuju artikel yang dimaksud, tentu saja.

Akmal

Indra

Mas Jonru

Mbak Ira

Uda Fitr Tanjuang

Situs Syariahonline.com

Daftar Buku

Buku-buku lain yang bermanfaat sebagai referensi untuk mendalami ajaran Islam atau pun yang khusus berbicara seputar masalah liberalisme namun belum pernah diresensi di Multiply juga dapat ditemukan di jurnal ini.

Rekan-rekan juga bisa mendapatkan banyak sekali referensi dari kolom "Catatan Akhir Pekan" yang diasuh oleh Adian Husaini di majalah Hidayatullah. Adian Husaini adalah salah seorang penulis yang sangat produktif dan biasanya mengulas masalah-masalah ghazwul fikri yang berkaitan dengan sekularisme, liberalisme, pluralisme, westernisasi, dan sebagainya.

Kalau ada di antara link-link di atas yang tidak berfungsi atau salah, harap saya diberitahu. Terima kasih atas perhatiannya! :))

Wassalaamu'alaikum wr. wb.


Tuesday, April 25, 2006

Buku : Islam Liberal, Pluralisme Agama & Diabolisme Intelektual

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Reference
Author:Adian Husaini, MA
Judul : Islam Liberal, Pluralisme Agama & Diabolisme Intelektual
Pengarang : Adian Husaini, MA
Penerbit : Risalah Gusti, Surabaya
Tahun terbit : Pertama, September 2005.
Tebal :  235 halaman


Keresahan atas gagasan-gagasan Islam liberal telah lama dirasakan banyak pihak. Dalam Muktamar NU di Boyolali, direkomendasikan penolakan paham liberalisme dan ekstrimisme Islam. Di kalangan Muhammadiyah, sikap anti Islam liberal ditunjukkan dengan tidak dipilihnya Abdul Munir Mulkhan dan Amin Abdullah dalam jajaran PP Muhammadiyah, karena keduanya dinilai berpikiran liberal.

Di tahun 2001, sejumlah kalangan memberikan reaksi penolakan atas gagasan "penyegaran pemikiran Islam" yang disuarakan oleh Ulil Abshar Abdalla. Bahkan Ulil sempat difatwa mati oleh sejumlah ulama yang tergabung dalam Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI).

Dan puncak dari penolakan tersebut terjadi saat MUI (majlis Ulama Indonesia) mengadakan Musyawarah Nasional VII di Jakarta, Juli 2005. dalam fatwa yang menyatakan paham sekularisme, liberalisme dan sekularisme Islam sebagai sesat tersebut seakan menjadi gong peperangan terhadap kelompok Islam liberal.

Pertarungan wacana antara Islam liberal dengan penentangnya telah lama berlangsung di negeri ini. Meski demikian patut disayangkan karena sikap-sikap penolakan tersebut selama ini masih terkesan emosional dan apologetik.

Namun akhir-akhir ini pemikiran Islam Indonesia menemukan dinamikanya dengan lahirnya sekelompok intelektual muda yang resah terhadap fenomena liberalisme Islam. Berbeda dengan kelompok serupa yang lain, intelektual muda ini mencoba mengcounter wacana liberalisme Islam sebagai seorang ilmuan dengan sikap ilmiahnya.

Sebagaimana kebanyakan aktivis Islam liberal yang berlatar belakang pendidikan tinggi dan keakraban dengan metodologi kajian agama kontemporer, intelektual tersebut juga berpendidikan tinggi dan akrab dengan teks-teks modern. Kebanyakan mereka menempuh studi MA atau Ph.D di Malaysia. Jika Islam liberal memiliki ikon Ulil Abshar Abdalla, kelompok Malaysia ini menjadikan Adian Husaini sebagai ikonnya.

Buku ini lahir dari ramainya perdebatan seputar fatwa MUI di atas. Penulis yang sedang menulis disertasi di ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization) Malaysia melihat adanya ketidakjujuran yang dilakukan aktivis Islam liberal dalam menanggapi fatwa MUI.

Seperti pendefinisian pluralisme agama yang diberikan oleh Ulil Abshar dan Syafii Anwar sebagai sikap menghargai realitas perbedaan dalam masyarakat (mutual respect). Adian menilai kedua pemikir liberal tersebut mencoba mengelabui masyarakat dengan mengaburkan makna sebenarnya dari pluralisme agama.

Dengan mengutip gagasan pemikir pluralis terkenal, John Hick, tentang tiga sikap beragama, Adian menjelaskan bahwa pluralisme agama sikap menyatakan semua agama sebagai jalan-jalan yang sah dan benar menuju Tuhan. Pluralisme mengajarkan sikap mengakui adanya kebenaran dalam setiap agama. Seorang pemeluk agama tidak berhak mengklaim agamanya sebagai satu-satunya agama yang benar atau yang paling benar.

Sikap ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari sikap inklusivisme agama dan kritik atas sikap eksklusif. Inklusivisme berarti pengakuan adanya kebenaran di agama lain, tetapi tidak sesempurna kebenaran yang dimiliki agama yang dianutnya. Sebaliknya, sikap eksklusif adalah klaim kebenaran mutlak hanya terdapat dalam satu agama, agama lain dianggap sesat dan tidak menyelamatkan.

Atas ketidakjujuran inilah Adian menilai pemikir liberal sebagai intelektual diabolis. Intelektual diabolis dicirikan oleh beberapa hal, pertama, selalu membangkang dan membantah. Meskipun mereka kenal, paham dan mengetahui kebenaran, tetapi intelektual model ini selalu membantah dan mencari argumen untuk menguatkan opininya. Sikap ini disebut al-'inadiyah.

Kedua, intelektual diabolik bersikap sombong (takabbur), yaitu sikap menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Ciri kedua ini ditunjukkan mereka dengan menyatakan orang-orang yang berpegang pada al-Qur'an dan hadis sebagai dogmatis, literalis, logosentris, fundamentalis, konservatif dan lain-lain. Sebaliknya, orang yang berpikiran liberal, relativistic dan skeptis justru dianggap sebagai pembaharu, kritis, dan sebagainya.

Ketiga adalah pengaburan dan penyembunyian kebenaran. Cendekiawan diabolis bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Tetapi mereka sengaja memutarbalikkan data dan fakta. Dengan berbagai argumennya, kesalahan dijadikan seolah-olah benar, dan kebenaran dikaburkan sehingga membuat masyarakat menjadi bingung.

Meski nuansa emosional dan apologetik masih tampak di tulisan Adian Husaini ini, tetapi buku ini patut mendapatkan apresiasi bagi pengamat dinamika pemikiran Islam Indonesia kontemporer. Setidaknya buku ini menjadi tanda semakin dewasanya umat Islam dalam menyikapi perbedaan. Sudah sepatutnya setiap perbedaan pemikiran dituangkan dalam karya tulis sehingga masyarakat bisa memberikan penilaian sendiri dan bisa menjadi dokumen yang akan dipelajari di masa mendatang.

Tradisi perdebatan melalui karya tulis sebenarnya memiliki akar yang kuat dalam peradaban Islam. Di masa Islam klasik, perdebatan tentang filsafat parepatetik Islam antara al-Ghazali (bapak ortodoksi Islam) dan Ibnu Rusyd (pemikir rasionalis Islam) melahirkan karya mereka yang cukup monumental; al-Ghazali dengan Tahafut al-Falasifah dan Ibnu Rusyd dengan Tahafut al-Tahafut-nya. Mungkin terlalu berlebihan bila kita menginginkan lahirnya al-Ghazali dan Ibnu Rusyd baru dari perdebatan yang selama ini berlangsung di negeri ini, tetapi setidaknya jalan yang ditempuh Adian Husaini dapat menjadi titik awal ke arah impian itu.

A "must have book" for ammo...

Friday, April 21, 2006

Kuliah umum mengenal Hadits dan Ilmunya

Start:     Apr 29, '06 9:00a
Location:     Jakarta Islamic Center, Tanjung Priok
Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh


IKUTILAH
Kuliah Umum

Bersama
Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat


Tema
MENGENAL HADITS DAN ILMUNYA
Pembahasan buku:
Pengantar Ilmu Mustholahul Hadits
Buah Pena:
Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

Waktu dan Tempat
Sabtu, 29 April 2006
Jam 09.00 s/d selesai
JAKARTA ISLAMIC CENTER
Jl. Kramat Jaya, Tanjung Priok- Jakarta


Penyelenggara
Pustaka Darul Qolam
Bekerja sama dengan:
JAKARTA ISLAMIC CENTER

Kontak Person
021-30893090

Sunday, April 16, 2006

Gus Dur kok makin.....

Rating:
Category:Other

Hidayatullah.com-- Situs Jaringan Islam Liberal (JIL) baru-baru ini (10/4) meluncurkan wawancara dengan bekas Presiden Republik Indonesia Abdurrahman Wahid. Sebagian besar isi wawancara tersebut membahas komentar-komentar Abdurrahman tentang Rancangan Undang-Undang Anti-Pornografi dan Pornoaksi, yang sedang hangat di tengah masyarakat. Di salah satu komentarnya, Abdurrahman menyebut Al-Qur'anul Kariim sebagai "kitab suci paling porno di dunia". Di bawah ini kutipan langsung dua pertanyaan yang memuat juga komentar tersebut:

"JIL: Gus, ada yang bilang kalau kelompok-kelompok penentang RUU APP ini bukan kelompok Islam, karena katanya kelompok ini memiliki kitab suci yang porno?"

"Sebaliknya menurut saya. Kitab suci yang paling porno di dunia adalah Alqur’an, ha-ha-ha.. (tertawa terkekeh-kekeh)."

"JIL: Maksudnya?"

"Loh, jelas kelihatan sekali. Di Alqur’an itu ada ayat tentang menyusui anak dua tahun berturut-turut. Cari dalam Injil kalau ada ayat seperti itu. Namanya menyusui, ya mengeluarkan tetek kan?! Cabul dong ini. Banyaklah contoh lain, ha-ha-ha…" (azka/cha)


Tuesday, March 28, 2006

Kemana Tuhan ?



Assalamu'alaikum,


Tuhan menurut al-Qur'an, adalah hakikat yang mutlak (al-Haqq), sementara semua bentuk ketuhanan yang lain adalah salah (bathil), mereka hanyalah nama. Ia bukanlah suatu bentuk proyeksi pikiran manusia, seperti diduga oleh Feurbach, juga Tuhan bukan produk kebencian orang-orang yang kecewa, seperti kata Nietzsche. Bukan pula sebuah ilusi orang-orang yang masih kekanak-kanakan, seperti pendapat Freud. Juga bukan seperti dugaan Marx, suatu candu masyarakat, suatu hiburan yang dipersembahkan demi keuntungan pribadi.

Tuhan menurut al-Qur'an adalah Dia yang selalu hidup (al-Hayy al-Qayyum), yang melampaui batasan tata ruang dan waktu, Yang Pertama (al-Awwal) dan Yang Akhir (al-Akhir), Yang Nyata (al-Zhahir) dan Tersembunyi (al-Bathin). Hakekat Tuhan yang pasti adalah tidak dapat diketahui, karena Ia melampaui semua pengertian.

Berulang kali al-Qur'an menyebut bahwa Tuhan selalu hadir dan dekat, bahkan dalam kenyataannya lebih dekat dari urat leher manusia. Apa maksudnya ? Tentu, ini bukan berarti pengertian fisik Tuhan yang berada atau dekat, meskipun dalam kenyataannya dekat dengan manusia. Ini mengimplikasikan, seperti ditunjukkan oleh konteks itu, bahwa Tuhan selalu sadar dan memperhatikan gerak hati dan tindakan-tindakan luar manusia, dengan harapan bahwa manusia akan menahan diri dari tujuan-tujuan yang tidak disukai oleh Penciptanya.

Seiring berputarnya waktu, bergantinya zaman dan semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, banyak tuhan-tuhan baru yang tercipta. Manusia tidak lagi mengenal atau bahkan enggan mengenal Tuhan dengan "T" besar. Setiap keputusan yang dibuat dalam kehidupannya selalu menomer sekiankan Tuhan dan menomer satukan dirinya.

Teolog kontroversial Jerman, Hans Kung dalam bukunya Does God Exist ?, menceritakan kisah yang menunjukkan kesombongan hati sejumlah ilmuwan sekular. Ketika ditanya apakah ia meyakini adanya Tuhan, seorang pujangga dan tokoh filsafat besar mengatakan: "Tentu tidak, saya adalah seorang ilmuwan". Sedangkan filsafat al-Qur'an tentang alam semesta akan mendorong seorang ilmuwan menjawab, "Ya, tentu, meskipun saya adalah seorang ilmuwan".

Muhammad Iqbal dengan tepat sekali mengingatkan bahwa pengetahuan ilmiah yang tidak mempertinggi dan tidak dikaitkan pada agama adalah iblis. Ia menulis, "Akal yang diceraikan dari cinta adalah durhaka (seperti iblis), sedangkan akal yang disiram dengan cinta pastilah memliki sifat ketuhanan". Dan inilah yang akhir-akhir ini seringkali kita lihat atau dengar di lingkungan sekitar kita, tentang seseorang yang dianggap berilmu tetapi ilmu itu digunakan untuk melawan atau memutar balikkan perintah Tuhan sebagai Sang Pencipta alam semesta.

Semua ciptaan di alam semesta ini semisal malaikat, langit, semut dan bahkan petir adalah penting untuk secara spiritual, dalam arti bahwa ciptaan-ciptaan itu pun menyerukan pujian kepada Tuhan dalam kondisi yang melampaui pengertian manusia (QS 17:44). Walaupun begitu, semua alam semesta ini dijadikan untuk dimanfaatkan oleh manusia.

Pemanfaatan ini adalah untuk mempertinggi tujuan penciptaan manusia yang sebenarnya, yaitu untuk melaksanakan ibadah kepada Tuhan sesuai dengan surat Adz Dzaariyaat 56, "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku". Tuhan sendiri tidak memerlukan balasan berupa pemberian dari manusia atas diciptakannya mereka beserta alam semesta ini (QS 51:57), karena Tuhan-lah Dzat yang selalu hidup (al-Hayy al-Qayyum) dan berdiri sendiri tanpa bantuan siapapun atau apapun (QS 2:255). Sehingga apabila seorang manusia dalam seumur hidupnya selalu beribadah pun tidak akan menambah keagungan Tuhan itu sendiri, melainkan memberikan keuntungan dan kebaikan terhadap manusia itu sendiri secara lahir dan bathin, untuk di dunia dan terlebih lagi untuk di akhirat.

Sedangkan manusia sendiri mempunyai banyak kelemahan. Disebutkan dalam al-Qur'an, manusia adalah mahluk yang enggan dan kikir (QS 17:100), mahluk yang paling banyak bantahannya (QS 18:54), sangat sedikit dalam mensyukuri nikmat (QS 7:10), tidak sabar dan suka berkeluh kesah (QS 70:19-20), suka melampaui batas dan merasa kaya (QS 96:6). Disebutkan lagi, manusia adalah mahluk yang mencintai kehidupan dunia dan tidak memperdulikan akibat dari perbuatan mereka di hari akhir (QS 76:27) dan lain sebagainya. Maka terlihat jelas, manusia-lah yang membutuhkan Tuhan dan bukan sebaliknya. Manusia akan selalu membutuhkan Tuhan dalam segala aspek kehidupannya agar menjadi insan yang lebih baik.

Kebebasan manusia, akal dan cabang-cabangnya yang lain, begitu juga alam semesta yang besar ini, haruslah digunakan bukan semata-mata demi kenikmatan tetapi sebagai suatu bentuk beribadah. Dengan cara ini, dimensi spiritual terdalam semua mahluk yang dimanfaatkan manusia untuk beribadah akan mendatangkan keserasian dalam tujuan dan tatanan penciptaan, bukan lagi kekacauan.

Oleh karena itu, sudah saatnya setiap kita, manusia, saya dan anda, semakin memahami konsep Tuhan seperti yang dijelaskan dalam al-Qur'an dan selalu melibatkan Tuhan dalam setiap ruas kehidupan kita. Bukan untuk keuntungan Tuhan, tapi demi kita, manusia itu sendiri.


Manusia dilahirkan
dari rahim seorang ibu
yang mengandungnya selama 9 bulan.
Kemana Tuhan ?

Manusia tumbuh besar dan dewasa
Melihat dunia yang baru untuknya
dan terpesona dengan keindahannya
Lalu kemana Tuhan ?

Manusia bercanda tawa
Manusia bergembira ria
Menjadi manusia bertahta
Kemana Tuhan ?

Manusia diberi akal
untuk mencerna setiap ciptaan
yang tak tertandingi setiap insan
Lalu kemana Tuhan ?

Ketika seorang manusia tersungkur
dalam lembah kesedihan yang dalam
mencari makna hidup yang keras
Tak terhitung airmata yang terkuras
Sekali lagi, kemana Tuhan ?

Manusia lalu bertambah tua
Uban tumbuh di setiap ruas kepala
Tanpa tahu harus kemana berlari
sampai akhirnya ajal menanti
tanpa bekal amal yang berarti

Tuhan pun datang
dan Dia bertanya,
Fa-aina tadzhabuun ?
kemana kamu sekalian hendak pergi?

Lalu sang hamba pun tersungkur lagi
melihat azab yang telah menanti...


Wassalamu'alaikum






Monday, March 27, 2006

Paham Syirik Modern Serbu Pondok Pesantren

Rating:★★★★★
Category:Other

Oleh: Adian Husaini *)


Pada Hari Kamis (16/3/2006), seorang Ustad dari Persatuan Islam (Persis) datang ke rumah saya membawa sejumlah makalah dan majalah yang sangat mengagetkan. Betapa tidak? Makalah-makalah itu merupakan tulisan sejumlah tokoh liberal di Indonesia yang diberikan dalam acara pelatihan “Penguatan Pemahaman Keagamaan dan Keberagamaan di Kalangan  Tokoh Pesantren BKSPPI di Jawa Barat” yang diselenggarakan oleh International  Center for Islam and Pluralism (ICIP) di Pesantren Darul Muttaqien, Parung, 1 Maret 2006. Sedangkan Majalah yang dibawa itu bernama Al-WASATHIYYAH.

Majalah ini cukup mewah. Baru terbit pertama kali. Judul sampulnya adalah ‘BELAJAR MULTIKULTURALISME DARI PESANTREN’.  

Yang membuat mata terbelalak adalah bahwasanya majalah ini diterbitkan atas kerjasama  international  Center for Islam and Pluralism (ICIP) dan Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKSPPI). Tokoh-tokoh dari kedua lembaga itu selama ini dikenal oleh umat Islamsebagai pihak yang sangat berseberangan dalam pemikiran Islam.

ICIP yang dipimpin oleh Dr. M. Syafii Anwar adalah lembaga yang selama ini dikenal gigih menentang fatwa MUI tentang sekularisme, liberalisme, dan pluralisme agama (sipilis). Sementara tokoh-tokoh BKSPPI (seperti KH Kholil Ridwan, KH Didin Hafidudin, dan sebagainya) adalah pendukung-pendukung gigih fatwa MUI tersebut. Sejak duduk di bangku kuliah di IPB, saya mengenal tokoh-tokoh BKSPPI, terutama KH Shaleh Iskandar (alm), KH Tubagus  Hasan Basri dan sebagainya, sebagai sosok yang gigih mengawal aqidah umat dan memperjuangkan aspirasi Islam. 

Tetapi, di majalah Al-Wasathiyyah ini Syafii Anwar duduk sebagai penanggung jawab. Jajaran pimpinan lainnya adalah:  Syafiq Hasyim (Pemimpin Umum), A. Eby Hara (Pemimpin Redaksi), Farinia Fianto (Wakil Pemimpin Redaksi), Ahmad Fuad Fanani (Redaktur Pelaksana). Di jajaran Redaktur Ahli, duduk KH Husein Muhammad,  KH Muhyidin  Abdussomad, KH Didi Hilman dan Alpha Amirrachman. 

Dalam jajaran tokoh liberal- pluralis di Indonesia, nama Syafii Anwar sudah sangat masyhur. Dia termasuk penentang utama fatwa MUI tentang ‘sipilis’ dan kesesatan Ahmadiyah. Sebagai contoh, pada 29 Juli 2005, Syafii ikut dalam kelompok ‘Aliansi Masyarakat Madani’, yang menyatakan keprihatinan atas larangan dan tudingan sesat terhadap Ahmadiyah. Selain Syafii Anwar, hadir dalam forum itu Abdurrahman Wahid, Dawam Rahardjo, Johan Effendi (Indonesian Conference Religion and Peace-ICRP), Pangeran Jatikusuma (Penghayat Sunda Wiwitan), Romo Edi (Konferensi Wali Gereja Indonesia-KWI), Pdt Weinata Sairin (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia-PGI). Hadir juga tokoh agama Kong Hu Cu, Anand Krishna, para aktivis Jaringan Islam Liberal. Acara itu juga dihadiri wakil dari anggota Ahmadiyah, YH Lamardi yang mengaku tidak bisa melakukan apa pun kecuali hanya diam.

Bersama para cukong dari LSM-LSM asing seperti The Asia Foundation dan sejenisnya, Syafii juga rajin menggelar acara diskusi dan seminar tentang Pluralisme Agama. Dalam seminar di Jakarta Media Center, 29 November 2005, yang mengambil tema “Masa Depan Pluralisme di Indonesia”,  Syafii Anwar, menggunakan istilah Gerakan Salafi Radikal untuk menyebut kelompok-kelompok Islam seperti MMI, Hizbut Tahrir, Laskar Hizbullah, Laskar Jundullah, Darul Islam, Laskar Jihad, Ikhwanul Muslimin, Hammas, dan sebagainya.  Frase “dan sebagainya” menunjukkan, bahwa cap Islam radikal bisa dilebarkan kepada organisasi Islam apa saja yang tidak mau menerima paham Pluralisme Agama. 

Dalam makalahnya yang berjudul “The State, Shari’a and The Challenge of Pluralism in Post Suharto Indonesia”, Syafii menulis empat kriteria gerakan Salafi Radikal, yaitu (1) cenderung memperjuangkan ‘peradaban Islam tekstual’, (2) memperjuangkan formalisasi syariat Islam pada semua aspek kehidupan, (3) cenderung memperjuangkan agenda anti-pluralisme, (4) memiliki persepsi yang keliru tentang jihad, (5) memiliki kepercayaan yang kuat tentang teori konspirasi dan muslim adalah korban konspirasi Yahudi, Kristen, dan Barat.     

Syafii menulis, “Considering the fact that emergence of RSM (Radical Salafi Movement) groups and  heir actions has created serious problem to the Indonesian Society, a group of young muslim intellectuals established the so-called JIL (Jaringan Islam Liberal).” Syafii mengistilahkan kelompok-kelompok yang memperjuangkan Islam Liberal di Indonesia sebagai Progressive-Liberal Islam (PLI), seperti Paramadina, LkiS, P3M, Lakpesdam NU, Jaringan intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), International Center for Islam and Pluralism (ICIP) dimana Syafii sebagai Direkturnya, dan sebagainya.

Ia dengan tegas menulis, bahwa setelah era Soeharto, maka yang terjadi adalah pertarungan  antara RSM dan PLI. Pada akhir makalahnya, ia menulis: ‘’Although I am still optimist with the future of Islam in Indonesia, it is important to state here   that the Indonesian government has to protect the Indonesian Muslims from the threat of religious conservatism and radicalism.

Jadi, dalam hal ini, posisi Syafii dan ICIP sudah sangat begitu jelas di mana dia berada dalam percaturan pemikiran di Indonesia. Dia jelas-jelas agen, aktor, dan pelaku intelektual penyebaran paham pluralisme agama di Indonesia, dengan dukungan penuh LSM-LSM asing. Dengan menjual ‘isu radikalisme’ Islam, Syafii berhasil meraup dana milyaran dari cukong-cukong asing tersebut,  eskipun hal itu harus disertai dengan meruntuhkan aqidah dan syariat Islam melalui penyebaran paham Pluralisme Agama, yang jelas-jelas merupakan paham syirik modern, karena menerima kebenaran semua agama. (Uraian serius tentang paham ini, bisa dilihat, misalnya, buku Dr. Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama (Jakarta:GIP, 2005).

Pluralisme Agama memang sebuah ‘agama baru’ yang berpotensi sebagai senjata pemusnah massal agama-agama, sehingga pada tahun 2000, Paus Yohanes Paulus II juga mengeluarkan dekrit ‘Dominus Jesus’ yang menentang paham ini. Sebuah buku yang sangat tebal dan serius  dalam memberikan kritik terhadap paham ini juga sudah ditulis oleh seorang pendeta Dr. Stevri Indra Lumintang berjudul “Theologia Abu-Abu” (Malang: Gandum Mas, 2004). Menurut Stevri, "Theologia abu-abu (Pluralisme) yang kehadirannya seperti serigala berbulu domba, seolah-olah menawarkan teologi yang sempurna, karena itu teologi tersebut mempersalahkan semua rumusan Teologi Tradisional yang selama ini dianut dan sudah berakar dalam gereja. Namun sesungguhnya Pluralisme sedang menawarkan agama baru...’’ (hal. 18-19).

Dicatat dalam buku ini, bahwa Teologi Abu-Abu adalah posisi teologi kaum pluralis. Karena teologi yang mereka bangun merupakan integrasi dari pelbagai warna kebenaran dari semua agama, filsafat dan budaya yang ada di dunia. Alkitab dipakai hanya sebagai salah satu sumber, itu pun  dianggap sebagai mitos. Dan perpaduan multi kebenaran ini, lahirlah teologi abu-abu, yaitu teologi bukan hitam, bukan juga putih, bukan teologi Kristen, bukan juga teologi salah satu agama yang ada di dunia ini…

Namun teologi ini sedang meracuni, baik agama Kristen, maupun semua agama, dengan cara mencabut dan membuang semua unsur-unsur absolut yang diklaim oleh masing-masing agama.

Sedangkan MUI dalam fatwanya juga menjelaskan: “Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.”

Karena itu, tegas fatwa MUI: “paham sekularisme, pluralisme dan liberalisme agama adalah  bertentangan dengan ajaran Islam dan haram bagi umat Islam untuk mengikutinya.”

Entah bagaimana, paham yang jelas-jelas sangat destruktif bagi semua agama ini malah disebarkanluaskan ke pesantren-pesantren. Ironisnya, BKSPPI yang menaungi ribuan pesantren di Indonesia dan harusnya menjadi pelindung aqidah umat,  justru menjalin kerjasama dengan lembaga dan tokoh-tokoh yang jelas-jelas selama ini aktif dalam melakukan penghancuran terhadap aqidah dan syariah Islam.

Lembaga ICIP juga aktif menyebarkan pemikiran Nasr Hamid Abu Zayd di Indonesia. Tahun 2004, ICIP menerjemahkan dan menerbitkan buku Nasr Hamid dengan judul “Hermeneutika Inklusif: Mengatasi Problematika Bacaan dan Cara-cara Pentakwilan atas Diskursus Keagamaan”. Nasr Hamid dikenal dengan pendapatnya bahwa al-Quran adalah produk budaya (muntaj tsaqafi).

Dalam pengantar buku terbitan ICIP itu, redaksi ICIP menulis pendapat Nasr Hamid tentang Al-Quran, bahwa menurut  Nasr Hamid, Al-Quran diwahyukan kepada Muhammad dan memasuki ruang sejarah dan ia menjadi subyek untuk aturan-aturan (qawanin) dan hukum-hukum sosiologis dan historis. Di sinilah kemudian Al-Quran menjadi terhumanisasi (muta’annas),  mengejewantahkan elemen-elemen, ideologis, politis, kultural yang partikular dari masyarakat Arab abad 7 M...

Abu Zayd percaya bahwa Al-Quran itu dibentuk oleh situasi sosial, sebuah ruang kontestasi ideologis dalam mana subyek-subyek bebas (individu, roup, dan klas), berebut satu sama lainnya untuk tujuan politik dan ekonomi. Brangkat dari sini, pemahaman yang benar terhadap Al-Quran menurutnya adalah dengan cara mensituasikannya di dalam sebuah konteks dominasi Quraisy.’’ (hal. viii-ix).

Nasr Hamid Abu Zayd menulis buku Al Imam al-Syafii: wa ta’sis al-Idulujiyah al-Wasithiyah, yang menyerang habis-habisan Imam al-Syafii. Buku ini banyak dikutip para penyerang al-Quran dan Imam Syafii di Indonesia. 

Karena berbagai pendapatnya yang ‘membongkar’ hal-hal yang mendasar dalam Islam, pada 14 Juni 1995, Mahkamah al-Isti'naf Kairo menyatakan Abu Zayd telah keluar dari Islam alias murtad. Sementara itu, Front Ulama al-Azhar yang beranggotakan 2.000 orang, meminta pemerintah turun tangan: Abu Zayd mesti disuruh bertaubat atau --kalau yang bersangkutan tidak mau-- ia harus dikenakan hukuman mati. Mahkamah Agung Mesir pada 5 Agustus 1996 mengeluarkan keputusan yang sama:  Abu Zayd dinyatakan murtad dan perkawinannya dibatalkan. 

Sebenarnya, secara ilmiah, berbagai kelemahan pendapat Nasr Hamid juga sangat mudah dibuktikan. Sayangnya, banyak kalangan liberal yang memuja Nasr Hamid tanpa kritis. Pendapat-pendapatnya dikutip hanya untuk melegitimasi hawa nafsu untuk mendekonstruksi
Al-Quran. 

Menyimak kiprah ICIP yang aktif menyebarkan paham-paham destruktif terhadap aqidah Islam, sebenarnya terlalu jelas untuk melihat, dimana sebenarnya posisinya berada. Sangat aneh jika ICIP yang berideologi liberal, penyebar paham syirik modern (Pluralisme Agama) justru berambisi untuk memaksakan pendapatnya ke pondok-pondok pesantren. Namun, semua itu bisa dipahami dari sisi kepentingan bersama antara lembaga seperti ICIP dengan para cukong yang saat ini sangat aktif ingin mengubah Islam –bukan hanya umat Islam. Dalam istilah David E. Kaplan: “Washington is plowing tens of millions of dollars into a campaign to influence not only Muslim societies but Islam itself.” (David E. Kaplan, Hearts, Minds, and Dollars, www.usnews.com, 4-25-2005).

Jadi, saat ini, AS dan sekutunya memang sedang berusaha keras untuk –bukan hanya mengubah umat Islam– tetapi juga mengubah Islam itu sendiri. Jika kita melongok website www.asiafoundation.org (sampai 24 Maret 2006) masih terpampang judul pembuka website:
REFORMASI PENDIDIKAN DAN ISLAM DI INDONESIA.

Jadi, yang ingin diubah oleh mereka adalah Islam. Mereka ingin membentuk ‘Islam yang baru’, sesuai dengan pandangan hidup (worldview) Barat. Karena pondok pesantren dan insitusi pendidikan Islam adalah benteng terakhir umat Islam, maka tidak heran, jika kalangan itulah yang menjadi sasaran utama untuk diobok-obok habis-habisan. Sebagaimana terjadi di era  kolonialisme klasik, ada saja dari kalangan umat Islam yang tergiur untuk menjual agama dengan dunia, rela menjadi pengasong ide-ide destruktif ke jantung-jantung umat Islam. Na’udzubillahi mindzalika. (Depok, 24 Maret 2006)


Sunday, March 26, 2006

Berita duka cita dari mas Dedy Subandi


Assalamu'alaikum,


Teman-teman, pada tanggal 26 Maret kemarin saya mendapat sms dari mas Dedy Subandi yang isinya, "Mohon doa atas keselamatan dan kelancaran persalinan anak kami (operasi cesar), semoga menghasilkan yang terbaik. Amin." [Dedy&Neny].

Dan pada tanggal 27 Maret, beliau mengirim sms kembali ke saya yang isinya, "Alhamdulillah operasi sudah selesai. Kondisi ibu sehat namun untuk bayi, Allah berkehendak lain. Semoga Muhammad Adyvka menjadi anak surga. Amin"

Tidak mudah memang ketika kita diharuskan untuk bersabar menghadapi cobaan seperti ini, tetapi tangis pun takkan mampu mengembalikan titipan yang telah diambil kembali oleh Sang Pemilik. Tentu Sang Pemilik pun tidak serta merta mengambil tanpa memberikan balasan apabila sang hamba bersabar dalam menghadapi cobaan ini. Inilah balasan yang dijanjikan oleh Allah Sang Pemilik jagat raya beserta isinya :

"Apabila putra seorang hamba meninggal dunia, maka Allah berfirman kepada para malaikat-Nya, "Kalian telah mencabut nyawa putra hamba-Ku?"

Para malaikat menjawab, "Benar".

Allah berfirman "Kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?"

Para malaikat menjawab "Benar".

Allah berfirman, "Apa yang telah dikatakan oleh hamba-Ku?"

Para malaikat menjawab, "Dia memuji-Mu dan mengucapkan lafazh istirjaa' (Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun).

Lalu Allah berfirman, "Bangunkanlah sebuah rumah di dalam surga untuk hamba-Ku itu, dan berilah nama rumah tersebut dengan sebutan Baitul Hamd (Rumah pujian)".
[HR. Tirmidzi, al Janaa'iz juz. I hal.190]


Mas Dedy, saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas kepergian
sang buah hati. Tentu hal itu pastilah sesuatu yang menyedihkan dan
tidak ada orangtua manapun yang tahan untuk tidak bersedih ditinggal
sang jabang bayi secepat itu. Tetapi sekali lagi, manusia tiada daya
dalam mencegah takdir yang telah ditentukan oleh Sang Pencipta Penguasa
jagat raya, Allah Subhana Wa Ta'ala. Semoga Muhammad Adyvka menjadi ahli surga begitu pula dengan kedua orangtuanya. Amin

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.......


Wassalamu'alaikum