Sunday, February 5, 2006

Mendidik Anak di Tengah Tantangan Zaman

Rating:★★★★★
Category:Other
Masalah anak dan remaja masa kini sungguh berat. Ayah dan ibu pun harus bahu-membahu.
(republika.co.id)


Ani, sebut saja begitu, tersentak saat menemukan kalimat 'aneh' di buku anaknya. Kalimat itu kurang lebih begini, ''Aku mencintaimu. Nanti kita mandi bareng, baru ciuman.''

Sang buah hati masih duduk di kelas 1 SD. Wanita itu tidak membayangkan anak seusia anaknya berpikiran seperti dalam kalimat yang ditulisnya. Tak percaya dengan ungkapan dalam kalimat itu, Ani lalu bertanya, `'Ini tulisanmu, ya?''

`'Ya, tapi disuruh (teman),'' jawab si anak.
Merasa tidak puas, Ani menyampaikannya kepada guru kelas. Sang guru mengatakan, teman anaknya itu memang suka menyuruh teman-temannya menuliskan hal-hal semacam itu. Ani pun bertanya, `'Bagaimana saya bicara ke anak saya?''

Keluhan itu diutarakan dalam dialog interaktif, Mendidik Remaja di Tengah Tantangan Zaman dan Teknologi dalam Perspektif Islam di Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia, Depok, Sabtu (28/1). Elly Risman SPsi dan Ustadz M Ihsan Tanjung tampil sebagai pembicara yang dihadiri sebagian besar oleh kaum ibu itu.

Kalau anak sudah menulis seperti itu, Elly Risman berpendapat, orang tua jangan lagi membuang waktu. Misalnya, menunggu waktu yang dianggap tepat untuk mengatasinya. Apalagi berharap penyelesaian dari guru di sekolah. `'Anak kita harus kita urus sendiri,'' ucapnya.

Masalahnya berat
Elly mengakui, masalah anak dan remaja saat ini memang berat. Orang tua sibuk dengan banyak persoalan, juga serbuan media seperti koran, majalah, televisi, video hingga internet. Mengharapkan sekolah untuk bisa mengatasinya, pun tidak mudah. Itu, ungkapnya, karena umumnya sekolah lebih mengedepankan perkembangan otak kiri.

Psikolog keluarga ini melihat tiga hal yang bisa terjadi dalam interaksi anak dengan media. Pertama, pengaruh media terhadap anak-anak makin besar. Teknologi makin canggih dan intensitasnya tinggi. Kedua, gaya hidup kita yang rutin dan padat. Alhasil, orang tua tidak punya waktu cukup untuk memerhatikan, mendampingi, dan mengawasi anak.

Ketiga, persaingan bisnis antarmedia makin ketat sehingga cenderung mengabaikan tanggung jawab sosial, moral, dan etika, serta melanggar hak-hak konsumen.

Perkembangan teknologi dan media pun bak air bah. Pada sisi lain, teknologi itu sendiri bisa membuat kecanduan karena di situ anak menemukan hal yang tidak didapatkan di dunia nyata. Teknologi juga dirasakan mengasyikkan dan kerap menjadi jalan keluar dari masalah.

Peran ayah
Di era sekarang ini, menurut Ihsan Tanjung, kebaikan bertaburan di mana-mana, sebagaimana juga kejahatan bertaburan di mana-mana. Karena itu, anak harus diarahkan. `'Kita harus mendidik anak-anak dengan kemandirian,'' tuturnya.

Pendidikan anak tidak hanya dilakukan oleh ibu, tapi lebih penting lagi oleh ayah. Pentingnya pendidikan anak oleh ayah juga dibenarkan oleh Elly. `'Tidak semua hal bisa dilakukan oleh ibu. Ada hal yang tidak bisa dijelaskan oleh ibu,'' katanya.

Ihsan lalu mengisahkan sebuah keluarga, di mana sang ayah supersibuk bekerja. Sekali tempo, tuturnya, sang ayah tiba di rumah. Di depan pintu dia dijemput oleh anaknya yang berusia 5 tahun. Tak dinyana, si anak bertanya, `'Ayah kerja dibayar berapa sehari?''

Merasa lelah, si ayah tidak meladeni pertanyaan itu. Dia bahkan menyuruh anaknya enyah dari sampingnya. Tapi setelah merenungkan perlakuannya kepada anak, dia akhirnya minta maaf. Pertanyaan si anak pun dijawabnya. `'Sepuluh dolar,'' ucapnya.

Mendengar jawaban itu, si anak melompat-lompat kegirangan. Bocah itu lalu mengangkat bantal di tempat tidurnya dan mengambil uang simpanannya di balik bantal. Jumlahnya cukup untuk membayar gaji ayahnya bekerja sehari. `'Hore, saya mau bayar waktu bapak sehari,'' katanya, masih dengan melompat-lompat kegirangan.

Menurut Ihsan, sedikitnya tiga tahap pendidikan anak dalam Islam. Pertama tahap bermain, dimulai dari usia 0 sampai kira-kira 7 tahun. Kedua tahap penanaman adab atau disiplin, dari 7 - 14 tahun. Ketiga tahap persahabatan, yakni saat anak berusia 14 tahun ke atas. Tahap yang terakhir ini dapat digolongkan sebagai remaja. Di usia seperti ini, mereka perlu didekati dengan pendekatan dan menjadikan anak sebagai sahabat.

Secara garis besar, jelas Ihsan, ada 5 macam metode pendidikan dalam Islam. Yakni, melalui keteladanan, pembiasaan, pemberian nasihat atau pengarahan, melalui mekanisme kontrol, dan melalui hukuman sebagai pengamanan terhadap hasil-hasil proses pendidikan tersebut. Dari kelima metode tersebut, yang paling penting adalah keteladanan meskipun tidak boleh meninggalkan satu pun dari lima metode tersebut.

Komunikasi
Bagaimana mengatasi keadaan anak yang sudah telanjur `melangkah' melebihi batas usianya, seperti yang dilakukan oleh anak kelas 1 SD tadi? Elly menyarankan satu langkah: lakukan komunikasi dengan anak. Orang tua, katanya, harus memperbaiki komunikasi, berbicara dengan baik-baik. Nada bicara usahakan rendah, berbicara dengan lemah lembut supaya anak menjadi lembut hatinya. Ceritakan masalah yang dihadapi orang lain untuk menangkap perasaannya. Saat bicara dengan anak, hadapi tidak dengan berhadap-hadapan laiknya seorang penyidik menghadapi seorang tertuduh.

Komunikasi dengan anak, menurut Elly, adalah cara yang baik untuk memproteksi anak supaya lebih aman di luar rumah. Dia lantas mengungkap banyak hasil penelitian yang menunjukkan pentingnya komunikasi dengan anak. `'Anak-anak yang bicara dengan orang tua lebih banyak, lebih punya ketahanan di luar,'' dia mengutip hasil sebuah penelitian itu.

Nah, untuk mendidik anak yang dinilai sudah `melangkah jauh', menurut Elly, hal yang perlu dilakukan adalah membuat daftar yang ingin diperbaiki untuk dibicarakan dengan anak. Buat prioritas mana yang lebih dulu dibicarakan dengan anak dan tentukan siapa yang bicara kepada anak, ibu atau ayah. `'Jangan sekaligus dibicarakan,'' tuturnya.


Memang Berat, Tapi Jangan Menyerah

Jangan pernah menyerah menghadapi masalah anak. Begitu pesan psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati, Elly Risman. Ibu tiga anak ini memberikan sejumlah kiat untuk mengatasi beratnya masalah anak dan remaja saat ini. Untuk anak, Elly menyarankan orang tua untuk memberikan kondisi sebagai berikut:

- Fondasi agama, baik pemahaman maupun praktik.
- Komunikasi terbuka dan hangat.
- Mempersiapkan anak sesuai dengan usia.
- Mengenalkan TV, game, telepon genggam, internet, dan teknologi secara seimbang. Anak diajak mengenali dampak positif dan negatifnya.
- Membicarakan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Beri tahu pula bagaimana caranya secara konkret.
- Melakukan kontrol yang tidak menyakitkan harga diri si anak.
Untuk orang tua, Elly menyarankan melakukan beberapa hal yang bisa memperbaiki kualitas diri sebagai orang tua.
- Sering-sering melihat ke dalam diri (introspeksi). Tingkatkan kesadaran, tentukan prioritas.
- Ubah cara pandang dalam pengasuhan.
- Perbaiki konsep diri dan komunikasi.
- Lebih sigap dan antisipatif.
- Kejar ketinggalan.
- Bangun kerja sama dalam keluarga dengan 3 C (concern, committed, concictency/kepedulian, komitmen, dan konsisten).

(republika.co.id)

Ketika sang Nabi dihina...




Hidayatullah.com

"Salam, kalian hendaknya berhenti membeli produk makanan asal Denmark karena orang-orang Denmark menghina Nabi kita, " tulisan bernada himbauan itu tiba-tiba membanjiri seluruh wilayah Timur Tengah, termasuk di Arab Saudi. Himbauan serupa juga diedarkan di media-media lokal, spanduk dan layanan pesan singkat melalui SMS.

Siapa mengira, sebuah karya karikatur akhirnya membuat marah seluruh rakyat di negeri Arab Saudi dan wilayah Timur Tengah. Bahkan, sampai-sampai geramnya, pemerintahan Saudi perlu menarik Duta Besarnya untuk Denmark, Ibrahim Al-Hejailan, yang ditempatkan di negara itu sejak Maret 2003.

Cerita bermula ketika 30 September 2005 lalu, sebuah koran terkemuka Denmark, Jyllands-Posten membuat sebuah karikatur yang menampilkan 12 gambar Nabi Muhammad. Salah satunyamemperlihatkan Nabi Muhammad memakai sorban yang berbentuk seperti bom. Gambar lainnya menampilkan Muhammad yang berjanggut dan memegang sebilah pedang. Gambar ini sebelumnya sempat mendapat teguran dari beberapa negara di Timur Tengah, termasuk pemerintahan Saudi.

Namun, pihak pemerintahan Denmark menganggapnya sepele dan menanggapinya dengan dingin. Menteri Luar Negeri Denmark Per Stig Moeller menyatakan, pemerintahnya tidak bisa ikut campur dalam masalah ini. "Kami punya kebebasan berbicara di Dernmark dan kami juga punya toleransi untuk agama lain," ujar Moeller, kepada pers, Jumat (27/1).

Bahkan dalam sebuah wawancara televisi, petinggi Denmark itu mengatakan, "seperti halnya kami menghormati negara-negara Arab, negara Arab juga harus menghormati kami." Begitu pula dengan Perdana Menteri Denmark Anders Fogh Rasmussen. Dia menolak desakan untuk mengintervensi masalah ini. Alasannya, pemerintah tidak punyakekuasaan atas media. Koran Jyllands-Posten sendiri menolak untuk minta maaf atas dimuatnya karikatur tersebut. Alasannya, itu semata-mata masalah kebebasan berekspresi.

Kontan saja, hampir semua negeri di wilayah Timur Tengah tersinggung dengan 'kecongkaan' pihak Koran Jyllands-Posten dan pemerintah Denmark. Tak lama, kemarahan kemudian beralih menjadi gerakan massa dan himbauan boikot.

Di Riyadh beredar SMS yang menyerukan pemboikotan barang-barang buatan Denmark, seperti keju dan kosmetik. "Kami mendesak para saudagar untuk berhenti mengimpor semua barang buatan Denmark demi nabi tercinta kita," demikian bunyi salah satu SMS. Juga spanduk dan iklan di media-media lokal.

Boikot

Sebagaimana diketahui, Denmark merupakan penghasil produk susu terbesar Eropa dan diekspor ke Timur Tengah. Termasuk keju dan kosmetik.

Kenyataannya, himbauan itu bukan main-main, pertengahan minggu ini, perusahaan makanan Danish Arla, yang merupakan salah satu penghasil produk susu terbesar Eropa, mengatakan pembelinya di Arab Saudi berhenti menjual produk mereka dan mulai memboikot produk Denmark.

Kemarahan umat Islam ini, tak uruang membuat pemerintah Denmark berciut nyali. Karena takut, beberapa saat lalu Denmark memasang iklan di sejumlah suratkabar Timur Tengah. Iklan tersebut dipasang untuk mencoba menghentikan boikot produk Denmark di negara negara Islam yang marah karena penerbitan sejumlah karikatur nabi Muhamad di sebuah suratkabar Denmark. Tak hanya itu, reaksi segera muncul, 10 dutabesar negara Islam mengirim surat bersama kepada perdana mentri Anders Fogh Rasmussen mendesaknya untuk mengambil tindakan.

Siapapun tak mengira, masalah yang dianggap kecil kalangan pers Denmark ini justru menjadi masalah diplomatik yang serius antar negara. Karenanya, sikap kehati-hatian dalam bentuk apapun --bahkan dengan alasan kebebasan berekspresi-- muklat diperlukan agar tak melahirkan masalah besar yang ujungnya akan melukai perasaan keyakinan orang lain.

Friday, February 3, 2006

Sang Nabi




Sungguh, hati muslim dipatri cinta Nabi

Dialah pangkal mulia
sumber bangga kita di dunia
Dia tidur di atas tikar kasar
sedang umatnya mengguncang tahta Kisra

Inilah pemimpin bermalam-malam terjaga
sedang umatnya tidur diranjang raja-raja
Di gua Hira ia bermalam
sehingga tegak bangsa, hukum dan negara

Kala shalat, pelupuknya tergenang air mata
Di medan perang, pedangnya bersimbah darah
Dibukanya pintu dunia dengan kunci agama
Duhai, belulm pernah insan melahirkan
putra semacam dia


[Room, 04-02-2006, 3:48]




Wahai Nabi....



Wahai Nabiku Muhammad,
mengapa hari ini terasa begitu kelam untukku
cuaca mendung tak kunjung selesai sampai senja

Wahai Nabi,
termenungku sendiri malam ini
airmata ini tak kunjung berhenti
menangisi sang manusia sejati

Wahai Nabi,
Mengapa mata ini menangisi
seseorang yang belum pernah kutemui

Wahai Nabi,
Mengapa tega mereka mencaci
mengapa tega mereka memaki
sang manusia suci

Wahai Nabi,
aku merindukan Khalid
Umar, Abubakar, Utsman dan Ali

Seandainya mereka masih ada
maka Denmark tinggallah nama...


[Room, 04-02-2006, 2:56]




Thursday, January 26, 2006

Eropa menuju Islam




Assalamu'alaikum


Perkembangan Islam yang semakin pesat di negara-negara Eropa, yang juga didukung oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan ilmu teknologi. Hal ini membuat kebanyakan orang Eropa berpikir secara rasional. Akibat dari pergeseran nilai ini, mereka pun mulai satu demi satu meninggalkan gerejanya. Bahkan para kaum intelektual mulai membedah kitab sucinya Bible, yang ternyata banyak bertentangan dengan hati nuraninya sendiri.

Gereja-gereja mulai berubah fungsi, ada yang menjadi tempat pameran juga masjid, bahkan telah banyak tempat yang kosong dan dijual untuk umum. Setiap hari ratusan orang Eropa masuk memeluk agama Islam. Kini di Belanda saja telah berdiri lebih dari 400 masjid. Banyaknya pusat-pusat syiar Islam yang berterbaran di berbagai pelosok Eropa, membuat hampir setiap hari diadakan diskusi untuk lebih mengenal dunia Islam. Anda juga dapat menyaksikan pengakuan-pengakuan para muallaf dari Eropa yang menyentuh dan menggetarkan hati kita.

Film ini adalah full version berbahasa Indonesia dan berdurasi sekitar 45 menit. Ukuran file aslinya sekitar 490mb dan telah saya edit sehingga file sizenya menjadi 30mb dengan durasi yang tetap sama. Hanya saja kualitas gambar sedikit berkurang dan suaranya menjadi sedikit overlap dengan gerakan mulut di clip ini. Tapi insya Allah masih bisa ditonton kok :D. Semoga bermanfaat.


Wassalamu'alaikum

Wednesday, January 25, 2006

Pengalaman naik pesawat



Assalamu'alaikum





Dulu saya sering naik pesawat terbang. Karena dulu saya sempat
berprofesi sebagai event organizer, maka pekerjaan itulah yang
kadang-kadang membuat saya harus terbang dari kota satu ke kota yang
lainnya. Saya sendiri memang orangnya tidak pernah bisa tenang ketika
naik pesawat, andaikan jarak setiap kota bisa ditempuh dengan mobil
atau kereta dengan waktu yang tidak terlalu lama, saya lebih memilih
dua alternatif itu.



Saat berada di antara langit dan bumi, ini adalah saat yang tepat
merasakan takut dan pasrah kepada Allah Yang Mahaagung. Tetapi
kebanyakan penumpang atau semuanya sibuk dengan dirinya sendiri,
membaca bacaan apa saja yang ada dihadapannya, seperti koran, majalah.
Saya tidak melihat di antara mereka yang membaca Al Qur'an dan berdoa
sepenuh hati kepada Allah. Bahkan beberapa rekan kerja saya ketika
pesawat baru take off langsung tidur dan beberapa lainnya sudah bisa
tertawa bercanda dengan rekan yang lain sambil mengeluarkan kata-kata
yang kurang pantas.



Begitu pesawat hendak mendarat, cuaca di kota itu ternyata cukup buruk
yaitu hujan ditambah dengan angin yang bertiup kencang. Sayangnya,
kebetulan saya mendapat tempat duduk di dekat jendela dan bagian sayap,
sehingga mau tidak mau saya melihat sayap pesawat itu bergetar hebat
bersamaan dengan pesawat yang mulai berguncang. Saat itu rasa takut
saya semakin menjadi, dosa-dosa yang terdahulu kembali teringat sambil
memohon ampunan dan terus beristighfar kepada Allah Yang Maha Pengampun
dan tanpa terasa saya menangis.



Saya tersadar, kemana suara-suara canda dan tawa yang tadi terdengar
jelas, kemana suara makian canda yang tadi sangat vokal. Saya melihat
ke arah mereka, dan ternyata mereka pun melakukan hal yang sama. Bibir
mereka terlihat komat-kamit melafazkan doa dengan muka yang tertekan.
Tak terlihat senyum sedikit pun di wajah mereka, semua sibuk berdzikir
dan memohon ampunan dan keselamatan.



Setelah beberapa saat pesawat itu bergulat dengan angin kencang di
atas, akhirnya pesawat berhasil mendarat dengan selamat. Dan beberapa
jam kemudian kami semua termasuk saya sudah melupakan kejadian tersebut dan kembali
seperti biasa.



Saya jadi berpikir, seandainya seorang hamba Allah tetap konsisten
sebagaimana kondisi saat menghadapi keadaan yang kritis, pastilah kadar
keimanannya akan semakin meningkat, dan kebaikannya akan terus
bertambah. Tetapi, manusia itu benar-benar sangat ingkar dan lalai...



Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu
mohonkan kepadanya. Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari
segala apa yang kamu mohonkan kepadanya.Dan jika kamu menghitung nikmat
Allah, tidaklah kamu dapat menhinggakannya.Sesungguhnya manusia itu,
sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). [QS. 14:34]





Betapapun kulukiskan keagungan-Mu dengan deretan huruf,

Kesucian-Mu tetap meliputi semua arwah

Engkau tetap yang Maha Agung, sedang semua makna,

akan lebur, mencair, ditengah keagungan-Mu,

wahai Rabb ku....

Jagalah kami dari sifat lalai

lagi ingkar...







Wassalamu'alaikum










Monday, January 23, 2006

Syed M. Naquib Al-Attas

Rating:★★★★★
Category:Other
Syed Naquib Al-Attas
Megaproyek Islamisasi Peradaban

(republika.co.id)


Menjadikan peradaban Islam kembali hidup dan memiliki pengaruh yang mewarnai peradaban global umat manusia adalah salah satu gagasan dan proyek besar cendekiawan ini. Seluruh hidupnya, ia persembahkan bagi upaya-upaya revitalisasi peradaban Islam, agar nilai-nilai yang di masa lalu dapat membumi dan menjadi 'ikon' kebanggaan umat Islam, dapat menjelma dalam setiap lini kehidupan kaum Muslim sekarang ini.

Seluruh daya upaya itu telah dan terus dilakukan oleh Syed Naquib Al-Attas, intelektual yang di masa kini menjadi salah satu menara keilmuan Islam modern. Proyek besarnya itu dikemasnya dalam 'Islamisasi Ilmu Pengetahuan' melalui lembaga pendidikan yang ia dirikan, yakni International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), Kuala Lumpur, Malaysia.

Guru Besar dalam bidang studi Islam di ISTAC-IIUM Kuala Lumpur ini lahir di Bogor, Indonesia, pada 5 September 1931. Moyang Naquib berasal dari Hadramaut (keturunan Arab Yaman). Dari garis ibu, Naquib keturunan Sunda, sekaligus memperoleh pendidikan Islam di kota Hujan itu. Sementara dari jalur ayah, ia mendapatkan pendidikan kesusastraan, bahasa, dan budaya Melayu. Ayahnya yang masih keturunan bangsawan Johor itu, membuat Naquib memiliki banyak perhatian tentang budaya Melayu sejak muda. Tampaknya kedua orang tuanya ingin Naquib kecil mendalami ilmu di negeri jiran, Malysia. Lantaran itu, sejak usia 5 tahun, Naquib dikirim menetap di Malaysia. Di sinilah ia mendapatkan pendidikan dasarnya di Ngee Heng Primary School.

Namun, sejak Jepang menduduki Malaya pada pertengahan 40-an, Naquib kembali ke Indonesia dan melanjutkan pendidikan menengahnya di Madrasah Urwatul Wutsqa, Sukabumi. Ia tamat sekolah atas, dan kembali ke Malaysia. Naquib sempat bergabung dengan dinas ketentaraan negeri itu, dan sempat pula dikirim untuk belajar di Royal Military Academy, Inggris.

Namun pada 1957, ia keluar dari militer dan melanjutkan studi di University Malaya. Selanjutnya, ia mengambil studi Islam di McGill University, Montreal, Kanada hingga meraih gelar master. Sementara strata doktoralnya ia raih dari School of Oriental and Africa Studies, University of London (1965). Ia lantas kembali ke Malaysia dan pernah memegang beberapa jabatan penting, antara lain Ketua Jurusan Kajian Melayu, University Malaya (UM).

Naquib sempat menjadi perhatian publik intelektual Malaysia dan mendapat tentangan keras beberapa kalangan ketika ia mengusulkan agar bahasa Melayu menjadi bahasa resmi pengantar di sekolah. Saat itu, bahasa resmi pengantar adalah Bahasa Inggris.

Ia juga menentang keras penghapusan pengajaran bahasa Melayu-Jawi (yang ditulis dengan huruf Arab) di sekolah-sekolah dasar dan lanjutan. Kini, sistem tersebut masih diberlakukan di negeri jiran tersebut. Naquib memang memberi perhatian besar pada bahasa dan budaya Melayu. Ia ingin putra bumi (pribumi) benar-benar terdidik sehingga tidak menjadi obyek dari penjajahan kultural dunia Barat.

Selain itu, Naquib amat memberi perhatian besar pada bidang pendidikan Islam. Pada Konferensi Dunia Pertama Pendidikan Islam di Makkah, 1977, ia mengungkapkan konsep pendidikan Islam dalam bentuk universitas. Respons bagus muncul dan ditindaklanjuti oleh Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang menjadi sponsor pendirian Universitas Islam Internasional (IIU) Malaysia pada 1984.

Tak hanya berhenti di situ, Naquib juga mendirikan ISTAC, lembaga pendidikan Islam yang dimaksudkan untuk merevitalisasi nilai-nilai peradaban Islam dan islamisasi ilmu pengetahuan. Lembaga ini sempat menjadi perhatian publik intelektual internasional dan dipandang sebagai salah satu pusat pendidikan Islam terpandang. Sayangnya, akibat tragedi 11 September 2001, pemerintah Malaysia bersikap berlebihan dan mencurigai beberapa pengajar sebagai pengembang gerakan Islam.

Akibatnya pemerintah negeri itu mengeluarkan keputusan menggabungkan ISTAC ke dalam UM, sebagai salah satu departemen tersendiri, dan tak lagi sebagai lembaga pendidikan Islam independen. Atas berbagai prestasinya itu, Naquib meraih banyak penghargaan internasional. Di antaranya, Al-Ghazali Chair of Islamic Thought.

Sebagai intelektual dan ilmuwan Muslim yang sangat dihormati dan berpengaruh, Selama ini Naquib dikenal sebagai pakar di bidang filsafat, teologi, dan metafisika. Gagasannya di sekitar revitalisasi nilai-nilai keislaman, khususnya dalam bidang pendidikan, tak jarang membuat banyak kalangan terperanjat lantaran konsep yang digagasnya dinilai baru dan karena itu mengundang kontroversi.

Salah satu konsep pendidikan yang dilontarkan Naquib, seperti ditulis dalam The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib Al-Attas (1998) yang telah di-Indonesiakan oleh Mizan (2003), yaitu mengenai ta'dib. Dalam pandangan Naquib, masalah mendasar dalam pendidikan Islam selama ini adalah hilangnya nilai-nilai adab (etika) dalam arti luas. Hal ini terjadi, kata Naquib, disebabkan kerancuan dalam memahami konsep tarbiyah, ta'lim, dan ta'dib.

Naquib cenderung lebih memakai ta'dib daripada istilah tarbiyah maupun ta'lim. Baginya, alasan mendasar memakai istilah ta'dib adalah, karena adab berkaitan erat dengan ilmu. Ilmu tidak bisa diajarkan dan ditularkan kepada anak didik kecuali orang tersebut memiliki adab yang tepat terhadap ilmu pengetahuan dalam pelbagai bidang.

Sementara, bila dicermati lebih mendalam, jika konsep pendidikan Islam hanya terbatas pada tarbiyah atau ta'lim ini, telah dirasuki oleh pandangan hidup Barat yang melandaskan nilai-nilai dualisme, sekularisme, humanisme, dan sofisme sehingga nilai-nilai adab semakin menjadi kabur dan semakin jauh dari nilai-nilai hikmah ilahiyah. Kekaburan makna adab atau kehancuran adab itu, dalam pandangan Naquib, menjadi sebab utama dari kezaliman, kebodohan, dan kegilaan.

Dalam masa sekarang ini, lazim diketahui bahwa salah satu kemunduran umat Islam adalah di bidang pendidikan. Dari konsep ta'dib seperti dijelaskan di atas, akan ditemukan problem mendasar kemunduran pendidikan umat Islam. Probelm itu tidak terkait masalah buta huruf, melainkan berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang disalahartikan, bertumpang tindih, atau diporakporanndakan oleh pandangan hidup sekular (Barat).

Akibatnya, makna ilmu itu sendiri telah bergeser jauh dari makna hakiki dalam Islam. Fatalnya lagi, ini semua kemudian menjadi 'dalang' dari berbagai tindakan korup (merusak) dan kekerasan juga kebodohan. Lahir kemudian pada pemimpin yang tak lagi mengindahkan adab, pengetahuan, dan nilai-nilai positif lainnya. Untuk itulah, dalam amatan Naquib, semua kenyataan ini harus segera disudahi dengan kembali membenahi konsep dan sistem pendidikan Islam yang dijalankan selama ini.

Pada sisi lain, Naquib berpendapat bahwa untuk penanaman nilai-nilai spiritual, termasuk spiritual intelligent dalam pendidikan Islam, ia menekankan pentingnya pengajaran ilmu fardhu ain. Yakni, ilmu pengetahuan yang menekankan dimensi ketuhanan, intensifikasi hubungan manusia-Tuhan dan manusia-manusia, serta nilai-nilai moralitas lainnya yang membentuk cara pandang murid terhadap kehidupan dan alam semesta. Bagi Naquib, adanya dikotomi ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah tidak perlu diperdebatkan. Tetapi, pembagian tersebut harus dipandang dalam perspektif integral atau tauhid, yakni ilmu fardhu ain sebagai asas dan rujukan bagi ilmu fardhu kifayah.

Berkaitan dengan islamisasi ilmu pengetahuan, sosok Naquib amat mencemaskan perkembangan ilmu pengetahuan modern. Sosok ini termasuk orang pertama yang menyerukan pentingnya islamisasi "ilmu". Dalam salah satu makalahnya, seperti ditulis Ensiklopedi of Islam, Naquib menjelaskan bahwa "masalah ilmu" terutama berhubungan dengan epistemologi. Masalah ini muncul ketika sains modern diterima di negara-negara muslim modern, di saat kesadaran epistemologis Muslim amat lemah.

Adanya anggapan bahwa sains modern adalah satu-satunya cabang ilmu yang otoritatif segera melemahkan pandangan Islam mengenai ilmu. Naquib menolak posisi sains modern sebagai sumber pencapaian kebenaran yang paling otoritatif dalam kaitannya dengan epistemologis, karena banyak kebenaran agama yang tak dapat dicapai oleh sains yang hanya berhubungan dengan realitas empirik. Pada tingkat dan pemaknaan seperti ini, sains bertentangan dengan agama. Baginya, dalam proses pembalikan kesadaran epistemologis ini, program islamisasi menjadi satu bagian kecil dari upaya besar pemecahan "masalah ilmu."

Naquib, seperti disinggung di atas, juga memberi perhatian besar pada nilai-nilai Melayu. Pemikir ini berpendapat, jati diri Melayu tak terpisahkan dengan Islam. Bahkan menurutnya, kemelayuan itu dibentuk oleh Islam. Bukti-bukti yang diajukannya bukan berdasarkan peninggalan-peninggalan fisik, tapi terutama berkaitan dengan pandangan dunia orang melayu.

Ia berpandangan, dakwah Islam datang ke wilayah Melayu sebagai "Islamisasi". Proses ini, ujarnya, berjalan dalam tiga periode dan tahap yang serupa dengan ketika Islam mempengaruhi Abad Pertengahn Eropa. Segenap apa yang dilakukan Naquib jelas menunjukkan komitmennya tentang upaya peradaban Islam tampil kembali ke permukaan dan mewarnai kancah pergaulan.

Hingga kini, Naquib masih terus menulis. Ia tergolong intelektual yang produktif. Puluhan buku telah ia tulis, antara lain: Rangkaian Ruba'iyat; Some Aspects of Shufism as Understood and Practised Among the Malays; Raniri and the Wujudiyyah of 17th Century Acheh; The Origin of the Malay Sya'ir; Preliminary Statement on a General Theory of the Islamization of the Malay-Indonesia Archipelago.

Selain itu, ia juga menulis Islam Dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu; Risalah untuk Kaum Muslimin; Islam, Paham Agama dan Asas Akhlak; Islam and Secularism; The Concept of Education in Islam; The Nature of Man and the Psychology of the Human Soul; dan The Meaning and Experience of Happiness in Islam.

Sebagian dari karyanya tersebut telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, seperti Inggris, Arab, Persia, dan Indonesia. Di usianya yang uzur kini, pemikir yang banyak pengaruhnya dalam kancah intelektualisme kontemporer ini terus aktif merealisasikan gagasan dan pemikirannya melalui lembaga ISTAC. (republika.co.id)