Friday, February 15, 2008

Trying to keeping the faith...

Assalamu'alaikum,


Beberapa bulan terakhir ini saya seringkali dihadapkan oleh pandangan-pandangan temen-temen lama yang dengan pandangan yang cukup aneh. Bahkan beberapa mungkin ada yang memandang sinis. Tapi saya udah mulai terbiasa dengan kondisi seperti itu. Dan saya memang udah memprediksikan bahwa nantinya pasti akan seperti itu.

Semenjak saya menjalani kehidupan yang baru sekitar 3-4 taun yang lalu, saya udah mengkondisikan diri bahwa nantinya kehidupan sosial saya bakal ngalamin sedikit "benturan" atau mungkin "gesekan" yang saya amat sangat sadar bahwa itulah konsekuensi dari jalan hidup yang akhirnya saya pilih sekarang ini.

Kira-kira 3-4 taun yang lalu saya memutuskan buat off dari "rutinitas" saya. Apalagi sih rutinitasnya kalo bukan buat nyari kesenangan dan kebahagian diri. Yap makna dari dua kata itulah yang selalu saya cari. Saya yakin setiap manusia normal pastilah mau hidup senang dan bahagia. Dan manusia bisa mengeluarkan beribu-ribu bahkan berjuta-juta definisi tentang hidup bahagia. Kalo saya pribadi saat itu pergi ke tempat-tempat keramaian udah bisa bikin saya bahagia, apalagi kalo perginya rame-rame. That would be so much fun.

Tapi ngga tau kenapa, dari sekitar taun 95an sampai taun 2003 saya yang terbiasa dengan itu, tiba-tiba di awal taun 2004 saya ngerasain kebosanan yang amat sangat!. Ya, ngga tau kenapa semua terasa jadi hambar, no salt, no sweet just plain. Misalnya satu saat saya pergi ke suatu acara party, ngga tau kenapa semua kerasa datar. Walaupun saya kenal sama DJnya dan dia dengan senang hati muterin setiap lagu yang saya request, still...datar. Saat itu saya ngerasa, "Ini party di Jakarta kok gak ada perubahan ya? orang-orangnya itu-itu mulu, konsepnya apalagi".

Tiap taun konsep party yang pasti ada itu ngga jauh-jauh dari tema valentine, halloween party, ladies nite, bubble party, single party dan arrrgghh..... Semua itu kerasa jadi monoton buat saya. Pernah ada satu event yang di iklan keliatan sebagai event yang paling spektakuler, ternyata pas saya coba hadir disana tetep aja datar buat saya. Begitu juga dengan kegiatan nongkrong saya sama temen-temen.

Saya ngerasa kelamaan berada di kehidupan seperti itu sehingga saya sampai bisa ngerasa jenuh yang amat sangat. Setelah ngerasa seperti itu, saya coba untuk ngelakuin sesuatu yang belum pernah saya lakuin, Backpacking. Walaupun mungkin kedengerannya simpel, tapi ternyata ngga juga. Saat itu saya cuma berangkat berdua sama mantan supir alm ayah dulu. Si mantan supir itu tinggal di Jepara dan akhirnya jadilah saya ikut dia kesana pindah-pindah bis. Singkat cerita, 10 sudah hari saya berada diluar Jakarta dengan segala keterbatasan dan ritme kehidupan yang sangat berbeda. Banyak pelajaran yang saya dapet dari sana.

Saya pun mulai tertarik baca, sesuatu yang dulu sangat anti baca (kecuali komik Gober). Buku awal yang saya baca adalah bukunya Gola Gong, Balada si Roy. Terus meningkat ke buku-buku tentang agama yang ringan-ringan seperti La Tahzan. Masih dalam rangka mencari definisi kesenangan dan kebahagian, saya terus nyoba menggali dan merangkul pengetahuan apapun yang berserakan untuk nyari jawaban dan definisi itu. Dan saya sadar betul bahwa itu ngga mudah.

Sangat-sangat ngga mudah. Saya harus melalui masa-masa dicurigain kakak saya ikut aliran sesat. Begitu juga dengan temen-temen saya. Waktu itu saya mau bikin pengajian dirumah dan ngundang seorang temen lewat sms, dengan enteng dia jawab, "Pengajian apa nih ? aliran sesat ?". Pernah juga satu ketika saya pergi ke luar kota sama ibu dan kakak saya. Sambil iseng nunggu naik ke pesawat, saya ngeluarin mp3 al Qur'an saya dan mulai ngaji pake earphone. Ngga berapa lama kemudian, kakak saya nyeletuk,

"Ndra, lo kenapa sih ?"

"Kenapa gimana ?"

"Akhir-akhir ini lo aneh kelakuannya"

"He ? aneh gimana ?"

"Iya aneh, setiap hari lo dikamar mulu, keluar paling pas waktu makan aja. Abis shubuh biasanya gak pernah ngaji sekarang jadi ngaji dan banyak lagi deh. Lo ngga ikut aliran sesat kan ?!"

.........Dan saya pun bengong dan hampir menangis dibuatnya sambil berkata dalam hati, "Hey ! I'm just trying to find my way home aight !"

Cobaan-cobaan kaya gitulah yang seringkali saya alami. Nah yang terbaru adalah beberapa hari yang lalu. Saat itu saya ketemu temen lama seorang perempuan di sebuah resepsi dan berusaha nyapa. Dengan gaya bajunya yang bisa dibilang kekurangan bahan, dia pun nyodorin tangannya, tapi saya coba dengan sehalus mungkin untuk ngga nyentuh tangannya dengan gaya bersalaman ala sunda. Dan saya rasa ini bukan hal yang aneh bahkan dalam agama yang saya yakini, seorang laki-laki itu haram menyentuh wanita yang bukan muhrim atau pasangan hidupnya.

The next thing, pandangan dia jadi terlihat sadis huhuhu. Bahkan ketika saya pamit pulang dan saya menyodorkan tangan ala sunda lagi, dia ngga nyambut dan tangannya tetep di posisi biasa...hehehe....does she think i'm weirdo ? Kalau saya mesti dibilang aneh hanya karena saya ingin berusaha menjalankan agama saya dengan baik, go ahead ! keep telling me that i'm a weirdo, and i happy for that.

Saya rasa inilah hasilnya karena saya pengen nyoba sekuat saya untuk mempertahankan prinsip-prinsip dari agama yang saya yakini. Dibilang aneh, dibilang ikut aliran sesat dan sebagainya. Emosi ? oh dulu waktu di awal jelas saya sering emosi setiap kali dibilang seperti itu. Tapi sekarang alhamdulillah suara-suara seperti itu makin menghilang :). Ngga mudah memang dan saya ngga menyesali itu. Bahkan saya merasa tertantang untuk itu. Biarin orang lain mau nganggep saya apa aja, yang penting sekarang saya udah punya prinsip yang insya Allah bakal saya pertahankan sampai ajal menjemput. Mohon doanya selalu.


Wassalamu'alaikum


“Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing
dan akan kembali pula daam keadaan asing,
maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.”

[HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma]



Sunday, February 3, 2008

Bisnis Itu Permainan, Bukan Ilmu Pengetahuan

Rating:★★★★★
Category:Other
Oleh : Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan

Selama kita merasa belum familiar dan takut memulai bisnis, biasanya yang timbul di pikiran kita adalah: “belajar!”. Pilihannya mungkin dengan jalan mengambil program S2 dan jadi seorang MBA, atau ikut sebanyak-banyaknya seminar dan pelatihan, atau bisa juga dengan berguru dan mengabdi pada seorang begawan bisnis.

Kira-kira, sudah selaraskah alur pemikiran yang sedemikian dengan apa yang terjadi pada kenyataannya? Mari kita telaah.

Kebanyakan dari kita berbisnis karena ingin sukses, lalu menjadi kaya raya. Kita membayangkan, betapa enak dan hebatnya bila kita dapat sesukses dan sekaya Bill Gates atau Donald Trump. Menurut pandangan masyarakat pada umumnya, mereka itulah orang-orang sukses yang sebenar-benarnya. Merekalah sosok-sosok pebisnis yang prestasinya membuat banyak orang terobsesi.

Maka tidak heran jika para pakar pun berusaha menyadap dan mempelajari segala hal yang ada pada orang-orang sukses itu, dengan harapan dapat mentransfer nilai-nilai kesuksesannya kepada orang-orang lain yang juga ingin menjadi figur sukses. Mereka berpendapat bahwa: “Leaders are made, not born”.

Selanjutnya, segala sepak terjang yang dilakukan oleh para pebisnis tersebut, dikumpulkan, dipilah-pilah, lalu dianalisis. Dari analisis itu dibuat teori-teori. Hasilnya, muncullah berbagai teori kesuksesan yang terkemas dalam materi-materi “ilmu bisnis”, wacana profesionalisme, ilmu kepemimpinan (leadership), dan lain sebagainya.

Orang-orang awam memang ingin sekali menemukan cara-cara yang bisa membantu mereka untuk secara cepat mencapai kesuksesan. Semacam rel kereta yang tinggal diikuti saja akan mengantar orang tiba di gerbang kejayaan.

Namun demikian, apa benar kalau kita ingin menjadi figur sukses -- lebih spesifiknya pebisnis sukses -- harus menempuh perjalanan yang sarat dengan teori-teori kesuksesan seperti itu?

Dari berbagai catatan yang ada, tampaknya tidak demikian. Banyak sepak-terjang yang dilakukan oleh para pemimpin bisnis dunia tidak mencerminkan bahwa kesuksesan mereka disebabkan pembelajaran yang sungguh-sungguh dalam ilmu bisnis, profesionalisme dan teori kepemimpinan. Tidak juga pengetahuan ekonomi, teori-teori tentang kebebasan finansial, ilmu marketing dan lain sebagainya. Pun, tidak karena mereka rajin mengikuti seminar kesuksesan atau lokakarya tentang strategi bisnis.

Di lain pihak, banyak pemimpin bisnis ternyata merupakan orang-orang yang justru tidak suka belajar, malas sekolah, dan hanya ingin bermain-main saja. Boro-boro ikut seminar atau lokakarya. Lho kok bisa?

Ada beberapa contoh kasus. Yang pertama, Thomas Alva Edison. Nama ini sudah kita tahu sejak di bangku SD bukan? Namun, tentunya kita kenal Edison lebih sebagai tokoh ilmu pengetahuan, karena sekolah memfokuskan ajaran hanya pada penemuan atas lampu pijar dan berbagai temuan teknis lain yang dilakukannya.

Maka jarang kita memperhatikan bahwa sesungguhnya Thomas Alva Edison adalah juga seorang pengusaha besar yang sukses. Ia adalah pemilik dan pendiri berbagai perusahaan dengan nama-nama seperti Lansden Co. (mobil/otomotif), Battery Supplies Co. (baterai), Edison Manufacturing Co. (baterai dsb), Edison Portland Cement Co. (semen dan beton), North Jersey Paint Co. (cat), Edison General Electric Co. (alat listrik dll), dan banyak lainnya. Salah satu yang masih berjaya sampai sekarang adalah General Electric.

Apakah untuk mencapai itu semua Edison harus bersusah-payah mengikuti berbagai sekolah dan pendidikan tinggi? Atau mengikuti seminar kelas dunia yang diselenggarakan oleh para pakar kesuksesan, pakar bisnis atau pakar financial freedom? Ternyata tidak. Figur Edison adalah figur pemalas yang hanya tahan 3 minggu bersekolah. Ia lebih suka bermain-main dengan perkakas, dengan kawat dan dengan listrik. Itu kesenangannya dan dengan itu ia sukses.

Contoh lain adalah Kenji Eno. Ia juga tidak suka sekolah. Ia cuma suka bermain-main dengan permainan, istimewanya dengan video games. Kelas 2 SMA berhenti sekolah terus nganggur. Lalu dapat kerja di perusahaan perangkat lunak, sampai akhirnya ia berhasil mendirikan perusahaan perangkat lunaknya sendiri yang dinamakan WARP. Dalam tempo beberapa tahun saja Kenji Eno mampu membawa perusahaannya menjadi perusahaan video games terhebat di dunia yang diakui oleh tokoh-tokoh industri.

Fenomena-fenomena yang dibuat oleh orang-orang semacam Edison dan Kenji Eno ini memberi kesan kepada kita semua bahwa bisnis itu sebenarnya lebih dekat kepada sebuah permainan, dan terlalu jauh untuk diperlakukan sebagai sebuah ilmu pengetahuan.

Gede Prama yang dikenal sebagai pakar manajemen (bahkan dijuluki Stephen Covey Indonesia), mengomentari fenomena Kenji Eno sebagai kesuksesan dari kebebasan berfikir yang mampu melompat, karena belum terkena polusi-polusi yang dibuat sekolah.

Menurut saya, adalah keliru mempelajari fenomena pemimpin, untuk menciptakan pemimpin. Demikian juga, keliru mempelajari fenomena pebisnis sukses, untuk mencetak pebisnis sukses. Sebab, fenomena pemimpin (atau pebisnis) adalah fenomena manusia, yang tidak sama dengan fenomena alam. Kalau Isaac Newton mempelajari peristiwa jatuhnya buah apel ke tanah (fenomena alam) dan kemudian menemukan hukum gavitasi, maka itu oke-oke saja. Karena fenomena alam tidak berubah, hukum gravitasi pun akan tetap abadi.

Akan tetapi, mempelajari fenomena manusia pasti akan menimbulkan frustrasi. Sebab, manusia merupakan mesin perubahan, sehingga tidak akan ada fenomena manusia yang tinggal tetap abadi sepanjang masa, berlawanan dengan yang kita lihat pada peristiwa jatuhnya buah apel.
Pemimpin, dalam bidang apa pun termasuk bisnis, adalah sosok manusia yang bebas, yang bertindak semaunya tanpa memperhatikan teori mau pun kaidah, sehingga nyaris percuma kalau kita ingin mempelajari dan mengikuti jejak sepak terjangnya.

Coba lihat, pada saat terjadinya resesi ekonomi dunia tahun 1929, semua orang berdasarkan teori-teori yang ada, berusaha untuk berlaku sehemat mungkin. Tapi sebaliknya, Matsushita si raja elektrik dari Jepang malah royal mengeluarkan uang. Seakan uang itu tidak lebih dari mainan saja layaknya. Meski pun bukan tanpa alasan dia berlaku demikian.

Lihat juga Kim Woo Chong, pendiri imperium Daewoo. Ketika semua pengusaha (juga dengan teori-teori yang ada) berkonsentrasi memasuki pasar negara-negara kaya semacam Amerika dan Eropa, ia malah dengan santainya masuk ke pasar-pasar “keras” seperti Iran, Sudan dan Rusia serta negara-negara blok timur.

“Kesia-siaan” mempelajari dan berusaha mengikuti sepak terjang para pemimpin bisnis bisa dirasakan secara langsung di lapangan. Saat pertama kali Harvard Business Review mempublikasikan konsep pemasaran yang beken dengan “Marketing Mix” 4P (product, price, place dan promotion), nyaris semua pengusaha serta pakar bisnis menganut konsep ini secara fanatik. Begitu juga dengan perguruan-perguruan tinggi dan sekolah manajemen.

Tapi, tidak terlalu lama, sebagai akibat “ulah” para pemimpin bisnis yang gemar bermain-main, perubahan tren perekonomian dan industri memaksa para pakar dan pembelajar merubah lagi konsepnya dengan 6P, 8P bahkan yang terakhir disebutkan sebagai 12P.

Terus bagaimana? Kalau kita harus bersiaga setiap saat untuk belajar dan tidak ketinggalan zaman dengan ilmu marketing, kapan kita berbisnis?

Saya rasa kita semua banyak yang terjebak dan hanyut dalam “arus ilmu pengetahuan” yang dibuat oleh mereka yang “pakar ilmu pengetahuan”, sehingga kita tidak sempat lagi berinovasi yang justru merupakan kunci sukses bisnis. Kita malah terus menerus “dipaksa” mengejar ketinggalan ilmu pengetahuan tanpa tahu di mana ujung pangkalnya.

Pertanyaannya: ”Sebenarnya kita mau jadi pebisnis atau mau jadi ilmuwan sih?”

Saya sendiri yakin bahwa bisnis dan kesuksesan itu adalah semacam permainan saja. Seperti apa yang dikatakan oleh William Cohen dalam tulisannya “The Art Of The Leader” : “Success is acquired by playing hard, not by working hard..”.

Mengacu pada obsesi banyak orang tentang Bill Gates dan Donald Trump sebagaimana disebut di atas, perlu diketahui bahwa kedua orang tokoh ini pun mencapai sukses dari kesenangannya bermain-main.

Bill Gates sejak masih berusia 13 tahun sudah bermain-main dengan perangkat lunak komputer, dan dengan itu ia menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Donald Trump juga sejak kecil selalu bermain-main ke kantor ayahnya, Fred Trump. Dia suka sekali melihat-lihat maket gedung dan pencakar langit, sebelum tertarik dengan bidang bisnis sang ayah, yaitu properti. Dan jadilah Donald Trump seorang Raja Properti.

Terakhir yang ingin saya sampaikan adalah, orang yang mempelajari ilmu kepemimpinan tidak akan menjadi pemimpin. Tapi, orang yang mencoba menjadi pemimpin, akan menjadi pemimpin. Demikian juga, orang yang mempelajari ilmu bisnis, tidak akan menjadi pebisnis. Tapi, orang yang mencoba menjadi pebisnis, akan menjadi pebisnis.


Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
E-mail: rusman@gacerindo.com
Web: http://www.gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com
Mobile: +62 21 816.144.2792
http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/12/bisnis-itu-permainan-bukan-ilmu.html

Saturday, January 12, 2008

Tingkatan dan Jenis Hadits

Rating:★★★★★
Category:Other

Assalamu'alaykum wrwb

Pak ust sarwat, saya adalah pembaca setia Eramuslim sejak lama, khususnya untuk rubrik Ustadz Menjawab. Saya sangat terkesan dengan jawaban-jawaban ustadz yang sangat berimbang dari sisi penyajiannya, terutama menyangkut dengan pertanyaan seputar khilafiyah.

Sementara banyak kita lihat ustadz-ustadz lain yang cendrung menjelaskan menurut pendapat ulama atau kelompoknya saja, tanpa mau melihat pendapat ulama lainnya.

Selamat buat ustadz, semoga dakwah Anda melalui situs initetap terus exist dan diberkahi Allah, amin.

Pertanyaan saya adalah mohon pak ustd jelaskan dan urutkan tingkatan dan jenis-jenis hadist yang ada.

Terimakasih atas perhatiannya

Wassalamu'alaikum wrwb

Abu Kahans

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Terima kasih atas dukungan moril dari anda sebagai pembaca setia Eramuslim dan penghargaan kepada kami. Tentu saja apa yang bisa kami sajikan bukan berarti selalu yang terbaik, sebab di sana sini tentu masih banyak kekurangan dan kelemahan.

Tentang permintaan Anda masalah pembagian hadits, sebenarnya para ulama hadits memang telah membagi-bagi hadits berdasarkan banyak kriteria. Ada yang berdasarkan jumlah perawi, ada juga yang berdasarkan kekuatan dan kelemahan periwayatan. Dan masih banyak kriteria pembagian lainnya.

Tapi yang paling terkait dengan pertanyaan anda barangkali adalah pembagian hadits berdasarkan kekuatan dan kelemahan periwayatanya. Maka izinkanlah kami sedikit terangkan masalah ini secara singkat dan sederhana.

Klasifikasi Hadits berdasarkan pada Kuat Lemahnya Berita

Berdasarkan pada kuat lemahnya hadits tersebut dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu hadits maqbul (diterima) dan mardud (tertolak). Hadits yang diterima terbagi menjadi dua, yaitu hadits yang shahih dan hasan. Sedangkan yang tertolak disebut juga dengan dhaif.

1. Hadits Yang Diterima (Maqbul)

Hadits yang diterima dibagi menjadi 2 (dua):

1. 1. Hadits Shahih

1. 1. 1. Definisi:

Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar, yang dimaksud dengan hadits shahih adalah adalah:

Hadits yang dinukil (diriwayatkan) oleh rawi yang adil, sempurna ingatan, sanadnya bersambung-sambung, tidak ber’illat dan tidak janggal.

Dalam kitab Muqaddimah At-Thariqah Al-Muhammadiyah disebutkan bahwa definisi hadits shahih itu adalah:

Hadits yang lafadznya selamat dari keburukan susunan dan maknanya selamat dari menyalahi ayat Quran.

1. 1. 2. Syarat-Syarat Hadits Shahih:

Untuk bisa dikatakan sebagai hadits shahih, maka sebuah hadits haruslah memenuhi kriteria berikut ini:

  • Rawinya bersifat adil, artinya seorang rawi selalu memelihara ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat, menjauhi dosa-dosa kecil, tidak melakukan perkara mubah yang dapat menggugurkan iman, dan tidak mengikuti pendapat salah satu mazhab yang bertentangan dengan dasar syara’
  • Sempurna ingatan (dhabith), artinya ingatan seorang rawi harus lebih banyak daripada lupanya dan kebenarannya harus lebih banyak daripada kesalahannya, menguasai apa yang diriwayatkan, memahami maksudnya dan maknanya
  • Sanadnya tiada putus (bersambung-sambung) artinya sanad yang selamat dari keguguran atau dengan kata lain; tiap-tiap rawi dapat saling bertemu dan menerima langsung dari yang memberi hadits.
  • Hadits itu tidak ber’illat (penyakit yang samar-samar yang dapat menodai keshahihan suatu hadits)
  • Tidak janggal, artinya tidak ada pertentangan antara suatu hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang maqbul dengan hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lebih rajin daripadanya.

1. 2. Hadits Hasan

1.2.1. Definisi

Secara bahasa, Hasan adalah sifat yang bermakna indah. Sedangkansecara istilah, para ulama mempunyai pendapat tersendiri seperti yang disebutkan berikut ini:

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar menuliskan tentang definisi hadits Hasan:

Hadits yang dinukilkan oleh orang yang adil, yang kurang kuat ingatannya, yang muttashil (bersambung-sambung sanadnya), yang musnad jalan datangnya sampai kepada nabi SAW dan yang tidak cacat dan tidak punya keganjilan.

At-Tirmizy dalam Al-Ilal menyebutkan tentang pengertian hadits hasan:

Hadits yang selamat dari syuadzudz dan dari orang yang tertuduh dusta dan diriwayatkan seperti itu dalam banyak jalan.

Al-Khattabi menyebutkan tentang pengertian hadits hasan:

Hadits yang orang-orangnya dikenal, terkenal makhrajnya dan dikenal para perawinya.

Yang dimaksud dengan makhraj adalah dikenal tempat di mana dia meriwayatkan hadits itu. Seperti Qatadah buat penduduk Bashrah, Abu Ishaq as-Suba'i dalam kalangan ulama Kufah dan Atha' bagi penduduk kalangan Makkah.

Jumhur ulama: Hadits yang dinukilkan oleh seorang yang adil (tapi) tidak begitu kuat ingatannya, bersambung-sambung sanadnya dan tidak terdapat ‘illat serta kejanggalan matannya.

Maka bisa disimpulkan bahwa hadits hasan adalah hadits yang pada sanadnya tiada terdapat orang yang tertuduh dusta, tiada terdapat kejanggalan pada matannya dan hadits itu diriwayatkan tidak dari satu jurusan (mempunyai banyak jalan) yang sepadan maknanya.

1.2.2. Klasifikasi Hadits Hasan

Hasan Lidzatih

Yaitu hadits hasan yang telah memenuhi syarat-syaratnya. Atau hadits yang bersambung-sambung sanadnya dengan orang yang adil yang kurang kuat hafalannya dan tidak terdapat padanya sydzudz dan illat.

Di antara contoh hadits ini adalah:

لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة

Seandainya aku tidak memberatkan umatku, maka pasti aku perintahkan untuk menggosok gigi setiap waktu shalat

Hadits Hasan lighairih

Yaitu hadits hasan yang sanadnya tidak sepi dari seorang mastur (tak nyata keahliannya), bukan pelupa yang banyak salahnya, tidak tampak adanya sebab yang menjadikan fasik dan matan haditsnya adalah baik berdasarkan periwayatan yang semisal dan semakna dari sesuatu segi yang lain.
Ringkasnya, hadits hasan li ghairihi ini asalnya adalah hadits dhaif (lemah), namun karena ada ada mu'adhdhid, maka derajatnya naik sedikit menjadi hasan li ghairihi. Andaikata tidak ada 'Adhid, maka kedudukannya dhaif.

Di antara contoh hadits ini adalah hadits tentang Nabi SAW membolehkan wanita menerima mahar berupa sepasang sandal:

أرضيت من نفسك ومالك بنعلين؟ قالت: نعم، فأجاز "Apakah kamu rela menyerahkan diri dan hartamu dengan hanya sepasang sandal ini?" Perempuan itu menjawab, "Ya." Maka nabi SAW pun membolehkannya.

Hadits ini asalnya dhaif (lemah), karena diriwayatkan oleh Turmuzy dari 'Ashim bin Ubaidillah dari Abdullah bin Amr. As-Suyuti mengatakan bahwa 'Ashim ini dhaif lantaran lemah hafalannya. Namun karena ada jalur lain yang lebih kuat, maka posisi hadits ini menjadi hasan li ghairihi.

Kedudukan Hadits Hasan adalah berdasarkan tinggi rendahnya ketsiqahan dan keadilan para rawinya, yang paling tinggi kedudukannya ialah yang bersanad ahsanu’l-asanid.

Hadits Shahih dan Hadits Hasan ini diterima oleh para ulama untuk menetapkan hukum (Hadits Makbul).

Hadits Hasan Naik Derajat Menjadi Shahih

Bila sebuah hadits hasan li dzatihi diriwayatkan lagi dari jalan yang lain yang kuat keadaannya, naiklah dia dari derajat hasan li dzatihi kepada derajat shahih. Karena kekurangan yang terdapat pada sanad pertama, yaitu kurang kuat hafalan perawinya telah hilang dengan ada sanad yang lain yang lebih kuat, atau dengan ada beberapa sanad lain.

* * *

2. Hadits Mardud (Tertolak)

Setelah kita bicara hadits maqbul yang di dalamnya adahadits shahih dan hasan, sekarang kita bicara tentang kelompok yang kedua, yaitu hadits yang tertolak.

Hadits yang tertolak adalah hadits yang dhaif dan juga hadits palsu. Sebenarnya hadits palsu bukan termasuk hadits, hanya sebagian orang yang bodoh dan awam yang memasukkannya ke dalam hadits. Sedangkan hadits dhaif memang benar sebuah hadits, hanya saja karena satu sebab tertentu, hadis dhaif menjadi tertolak untuk dijadikan landasan aqidah dan syariah.

2.1 Definisi:

Hadits Dhaif yaitu hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat hadits Shahih atau hadits Hasan.

Hadits Dhaif merupakan hadits Mardud yaitu hadits yang tidak diterima oleh para ulama hadits untuk dijadikan dasar hukum.

2.2. Penyebab Tertolak

Ada beberapa alasan yang menyebabkan tertolaknya Hadits Dhaif, yaitu:

2.2.1 Adanya Kekurangan pada Perawinya

Baik tentang keadilan maupun hafalannya, misalnya karena:

  • Dusta (hadits maudlu)
  • Tertuduh dusta (hadits matruk)
  • Fasik, yaitu banyak salah lengah dalam menghafal
  • Banyak waham (prasangka) disebut hadits mu’allal
  • Menyalahi riwayat orang kepercayaan
  • Tidak diketahui identitasnya (hadits Mubham)
  • Penganut Bid’ah (hadits mardud)
  • Tidak baik hafalannya (hadits syadz dan mukhtalith)

2.2.2. Karena Sanadnya Tidak Bersambung

  • Kalau yang digugurkan sanad pertama disebut hadits mu’allaq
  • Kalau yang digugurkan sanad terakhir (sahabat) disebut hadits mursal
  • Kalau yang digugurkan itu dua orang rawi atau lebih berturut-turut disebut hadits mu’dlal
  • Jika tidak berturut-turut disebut hadits munqathi’

2. 2. 3. Karena Matan (Isi Teks) Yang Bermasalah

Selain karena dua hal di atas, kedhaifan suatu hadits bisa juga terjadi karena kelemahan pada matan. Hadits Dhaif yang disebabkan suatu sifat pada matan ialah hadits Mauquf dan Maqthu’

Oleh karenanya para ulama melarang menyampaikan hadits dhaif tanpa menjelaskan sanadnya. Adapun kalau dengan sanadnya, mereka tidak mengingkarinya

2.3. Hukum Mengamalkan Hadits Dhaif

Segenap ulama sepakat bahwa hadits yang lemah sanadnya (dhaif) untuk masalah aqidah dan hukum halal dan haram adalah terlarang. Demikian juga dengan hukum jual beli, hukum akad nikah, hukum thalaq dan lain-lain.

Tetapi mereka berselisih faham tentang mempergunakan hadits dha'if untuk menerangkan keutamaan amal, yang sering diistilahkan dengan fadhailul a'mal, yaitu untuk targhib atau memberi semangat menggembirakan pelakunya atau tarhib (menakutkan pelanggarnya).

Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim menetapkan bahwa bila hadits dha'if tidak bisa digunakan meski hanya untuk masalah keutamaan amal. Demikian juga para pengikut Daud Azh-Zhahiri serta Abu Bakar Ibnul Arabi Al-Maliki. Tidak boleh siapapun dengan tujuan apapun menyandarkan suatu hal kepada Rasulullah SAW, sementara derajat periwayatannya lemah.

Ketegasan sikap kalangan ini berangkat dari karakter dan peran mereka sebagai orang-orang yang berkonsentrasi pada keshahihan suatu hadits. Imam Al-Bukhari dan Muslim memang menjadi maskot masalah keshahihan suatu riwayat hadits. Kitab shahih karya mereka masing-masing adalah kitab tershahih kedua dan ketiga di permukaan muka bumi setelah Al-Quran Al-Kariem.

Senjata utama mereka yang paling sering dinampakkan adalah hadits dari Rasulullah SAW:

Siapa yang menceritakan sesuatu hal dari padaku padahal dia tahu bahwa hadits itu bukan haditsku, maka orang itu salah seorang pendusta. (HR Bukhari Muslim)

Sedangkan Al-Imam An-Nawawi rahimahulah di dalam kitab Al-Adzkar mengatakan bahwa para ulama hadits dan para fuqaha membolehkan kita mempergunakan hadits yang dhaif untuk memberikan targhib atau tarhib dalam beramal, selama hadits itu belum sampai kepada derajat maudhu' (palsu).

Namun pernyataan beliau ini seringkali dipahami secara salah kaprah. Banyak yang menyangka bahwa maksud pernyataan Imam An-Nawawi itu membolehkan kita memakai hadits dhaif untuk menetapkan suatu amal yang hukumnya sunnah.

Padahal yang benar adalah masalah keutamaan suatu amal ibadah. Jadi kita tetap tidak boleh menetapkan sebuah ibadah yang bersifat sunnah hanya dengan menggunakan hadits yang dhaif, melainkan kita boleh menggunakan hadits dha'if untuk menggambarkan bahwa suatu amal itu berpahala besar.

Sedangkan setiap amal sunnah, tetap harus didasari dengan hadits yang kuat.

Lagi pula, kalau pun sebuah hadits itu boleh digunakan untuk memberi semangat dalam beramal, maka ada beberapa syarat yang juga harus terpenuhi, antara lain:

  1. Derajat kelemahan hadits itu tidak terlalu parah. Perawi yang telah dicap sebagai pendusta, atau tertuduh sebagai pendusta atau yang terlalu sering keliru, maka haditsnya tidak bisa dipakai. Sebab derajat haditsnya sudah sangat parah kelemahannya.
  2. Perbuatan amal itu masih termasuk di bawah suatu dasar yang umum. Sedangkan sebuah amal yang tidak punya dasar sama sekali tidak boleh dilakkan hanya berdasarkan hadits yang lemah.
  3. Ketika seseorang mengamalkan sebuah amalan yang disemangati dengan hadits lemah, tidak boleh diyakini bahwa semangat itu datangnya dari nabi SAW. Agar kita terhindar dari menyandarkan suatu hal kepada Rasulullah SAW sementara beliau tidak pernah menyatakan hal itu.

Demikian sekelumit informasi singkat tentang pembagian hadits, dilihat dari sudut apakah hadits itu bisa diterima ataukah hadits itu tertolak.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc


Tuesday, January 8, 2008

Dikangenin

Assalamu'alaikum,

Anda pasti pernah merasakan rindu kepada seseorang. Entah itu ibu, ayah, kakak dan orang-orang tersayang lainnya. Nah pernahkah ketika anda sedang berada di suatu tempat dan perasaan anda biasa-biasa saja saat itu tapi tiba-tiba bisa langsung rindu berat kepada orang yang anda cintai itu. Saya pernah. Ini bukan tulisan yang penting banget sih, saya cuma mau sharing aja :)

Saat itu sekitar jam 9 malam saya sedang berada di masjid At Taqwa, Kemanggisan untuk rapat rismata membahas tentang radio rismata fm. Yang namanya rapat tentu ngga bisa diselesaikan dalam waktu 10-15 menit. Minimal satu jam. Nah ketika itu rapat sedang seru-serunya. Tiba-tiba handphone saya berbunyi tanda ada sms masuk. Ternyata dari Nina, bunyi smsnya cukup singkat,

"Ayang, suamiku tercinta dimanapun engkau berada. Kami wanita-wanita yang engkau cintai merindukanmu"

Saya sedikit kaget juga saat itu karena wanita yang saya cintai ya Nina istri saya itu. Tapi beberapa detik kemudian saya baru sadar bahwa sekarang sudah ada Naura, wanita ketiga dalam kehidupan saya. Rapat pun menjadi ngga konsen dan tiba-tiba saya rindu berat kepada istri dan Naura. Akhirnya saya pun izin dengan alasan ngga enak sama istri dan Naura :p. Alhamdulillah mereka mengerti.

Kejadian kedua ketika saya sedang berada di Bogor untuk mengantar ibu saya ke rumah saudara disana. Waktu saya disana, istri saya mengirim sms begini,

"Abi lagi dimana..bunda dan Naura sangat merindukan kepulangan abi...apalagi roti unyilnya...perut bunda kangen katanya bi hehe. We love you abi...cun jauh dari Naula n bunda"

Duh saya senyum-senyum baca sms dari istri itu :). Padahal saya berpisah dari istri untuk ke Bogor baru beberapa jam saja. Alhamdulillah betapa besar nikmat yang sudah Allah berikan. Perasaan rindu yang timbul tidak lagi menimbulkan was-was dalam hati. Sekarang semuanya sudah lepas dan bebas.

Bagaimana dengan anda ? lagi rindu sama siapa nih saat ini ? :)

Wassalamu'alaikum

Thursday, January 3, 2008

Naura Idul Adha di Cileunyi, 18 Desember 2007




Tanggal 18 Desember kemarin saya, Nina dan Naura berangkat ke Cileunyi, tempat kakek neneknya Naura. Kita sempatkan untuk lebaran disana karena 2 kali lebaran Id kita ngga pernah bisa bareng orang tuanya Nina. Oleh karena itu yang Idul Adha kali ini kita planning banget.

Perjalanan dari Jakarta ke Cileunyi cukup jauh juga, sekitar 3-4 jam. Tapi pas sampai Bandung kita ngga langsung kesana, tapi ke kampusnya Nina dulu di Unpad untuk mengurus persyaratan sidangnya Nina. Sekitar jam 4 sore kita baru sampai di Cileunyi. Rumahnya asri banget deh, suasananya juga masih sejuk, mesjid pun di komplek itu hanya satu jadi pas sholat Id rame banget.

Selesai sholat Id, kita semua berangkat ke Majalengka, tempat enin, neneknya Nina. Berkali-kali enin bilang ke bapaknya Nina bahwa enin kangen buyut (Naura) dan pengen ketemu. Karena memang semenjak Naura lahir, enin belum pernah ketemu langsung dan hanya lewat foto saja. Untuk lebih lengkapnya lihat foto-fotonya saja ya :)

Gunung Geulis, 8 Desember 2007




Assalamu'alaikum,

Tanggal 8 Desember kemarin saya sekeluarga berkesempatan liburan ke Gunung Geulis di villa nya Bank Niaga. Kebetulan kakak saya dipinjamkan tempat oleh temannya yang bkerja di Bank Niaga. Villa ini khusus karyawan Niaga dan bukan untuk umum oleh karena itu bookingnya harus by appointment dari karyawan Niaga

Berhubung kakak saya ada teman yang bekerja di Niaga maka jadilah kita menginap sekeluarga plus 3 khadimat disana dari tanggal 8 sampai 9 Desember. Silahkan lihat-lihat :)

Wassalamu'alaikum

Wednesday, January 2, 2008

Quran Tidak Mewajibkan Kerudung Hanya Menganjurkan?

Rating:★★★★★
Category:Other
http://www.eramuslim.com

Assalamu 'alaikum ustadz

Teman saya membaca Al-Quran dan meski dia tidak menguasai bahasa Arab, dia bilang bahwa dirinya mendapatkan beberapa ayat yang kelihatannya tidak sejalan dengan apa yang dikatakan oleh para ulama.

Misalnya, Al-Quran tidak pernah mewajibkan para wanita memakai kerudung, tetapi mengapa para ulama mewajibkan? Itu bisa kita baca dalam surat An-Nur ayat 31:

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya (QS. An-Nuur: 31)

Yang dia tekankan bahwa pada teksnya Al-Quran tidak sampai mewajibkan pemakaian kerudung, tetapi hanya menganjurkan saja.

Karena perintah itu dimulai dengan kata hendaklah. Di mana menurut dia bahwa ungkapan dengan menggunakan kata hendaklah bukan merupakan perintah, melainkan hanya himbauan, saran atau anjuran saja.

Bagaimana pandangan ustadz dalam masalah ini?

Dion
ccc123xxx@yahoo.co.id

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang selalu akan muncul kekurangan kalau kita memahami Al-Quran lewat terjemahan. Sebab penerjemahan dari suatu bahasa ke bahasa lain memang akan selalu mengalami penurunan kualitas pesan. Dan akan menjadi fatal bila terkait dengan kandungan hukum.

Para ahli fiqih sebenarnya sudah menjelaskan sejak dahulu bahwa syarat paling esensial untuk memahami Al-Quran dan menarik kesimpulan hukum adalah dengan menguasai bahasa arab. Bukan hanya grammarnya saja, tetapi sekalian juga rasa bahasanya.

Dan sebuah penerjemahan akan menghilangkan rasa bahasa yang original bahkan seringkali menghasilkan bias maknanya. Salah satu kasusnya adalah apa yang anda tanyakan di atas.

Memang benar bahwa kata 'hendaklah' dalam rasa bahasa kita tidak menjadi kewajiban, hanya terbatas pada himbauan, anjuran atau saran. Artinya, bila tidak dikerjakan karena suatu hal tertentu, maka tidak mengapa hukumnya.

Sebenarnya yang terjadi adalah kesalahan atau keterpelesetan ketika menterjemahkan. Terjemahan yang benar dari ayat yang anda tanyakan itu sebenarnya buka 'hendaklah', tetapi: 'wajiblah'.

Lho kok begitu?

Begini duduk masalahnya. Di dalam ilmu ushul fiqih, hukum wajib itu tidak selalu didapat dari kata perintah saja (fi'il amr), tetapi juga dari beberapa kata lain yang maknanya mengandung perintah. Salah satunya dari kata kerja atau fi'il Mudhari' Majzum.

Contoh

Fi'il mudhari' sebenarnya tidak berfungsi sebagai kata perintah, melainkan kata kerja yang menunjukkan waktu sekarang atau masa yang akan datang. Namun karena ketambahan hufur lam di depannya, maka fungsinya berubah menjadi kata perintah.

Sebagai contoh sederhana adalah lafadz ayat Al-Quran berikut ini:

وليطوفوا بالبيت العتيق

Kata walyaththawwafu berasal dari kata yaththawwafuna yang ketambahan huruf lam di depan dan oleh karenanya huruf nun di bagian akhir menjadi hilang. Sehingga kalau disambung menjadi walyaththawwafu. Sebenarnya kata yaththawwafuna bukan kata perintah, atau bukan fi'il amr melainkan fi'il mudhari'. Tetapi ketika dibentuk menjadi fi'il mudhari' majzum seperti di atas, maka makna dan fungsinya telah berubah menjadi perintah. Sehingga hukumnya menjadi wajib.

Pokok Masalah

Pokok masalahnya adalah penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia oleh Departemen Agama memang agak kurang tepat. Sebab terjemahannya menggunakan kata "hendaklah&quot. Padahal secara rasa bahasa, banyak orang yang memahami kalau penggunaan kata "hendaklah" tidak bermankna perintah, melainkan himbauan. Dan himbauan tidak sama dengan perintah.

Itulah mengapa banyak orang yang hanya membaca terjemahan Depag, lantas keliru dalam memahami nilai hukum yang ada dalam Al-Quran. Salah satunya karena begitu banyak kata perintah hanya diterjemahkan sebagai &quothendaklah&quot.

Beberapa Contoh Lain

Padahal kalau kita teliti lebih jauh, dalam Al-Quran ternyata cukup banyak fi'il mudhari' yang maknanya telah berubah menjadi kata perintah. Sayangnya, terjemahannya semua menggunakan kata 'hendaklah'.

Silahkan buka surat Al-Baqarah. Di sana ada beberapa ayat seperti kata walitukmilul 'iddata pada ayat 185, kata falyastajibu li wal yu'minu bipada ayat 186, kata walyaktub di ayat 282, kata falyu'addi pada ayat 283. Semua adalah fi'il mudhari' yang maknanya telah berubah menjadi perintah, namun tetap diterjemahkan menjadi 'hendaklah'. Seolah-olah hanya anjuran padahal kewajiban.

Kalau masih penasaran, silahkan bukan surat Ali Imran. Di sana ada kata waltakun minkum pada ayat 104, kata falyatawakkal pada ayat 122 dan 160, kata latubayyinunnahu pada ayat 187, kata falyasta'fif pada ayat 6. Sama juga kasusnya, semua itu adalah fi'il mudhari' majzum yang maknanya perintah, bukan hendaklah. Sayangnya, di terjemahan Depag masih ditulis dengan arti 'hendaklah'.

Masih banyak lagi contoh lainnya, silahkan perhatikan di dalam surat An-Nisa' ada kata walyakhsya pada ayat 9 dan kata falyuqatil pada ayat 74. Di dalam surat Al-Maidah da kata walyahkum pada ayat 47. Di dalam surat At-Taubah ada kata falyadhaku dan walyabku pada ayat 82. Di dalam surat Yunus ada kata falyafrahu pada ayat 58.

Di dalam surat Al-Kahfi ada kata falyandzur, falya'tikum, walyatalaththaf dalam ayat 19. Juga ada kata falyu'min dan falyakfur dalam ayat 29. Ada kata falya'mal pada ayat 110.

Sebenarnya masih banyak contoh lainnya di dalam Al-Quran tentang kasus yang sama, namun halaman ini akan jadi panjang sekali. Cukup rasanya sebagai contoh.

Kesimpulan

Kesimpulannya adalah bahwa memakai jilbab itu bukan sekedar himbauan, melainkan kewajiban. Karena kata walyadhribna bikhumurihinna dalam surat An-Nuur: 31 tidak bermakna hendaklah mengulurkan kain kerudung, melainkan: wajiblah atas mereka mengulurkan mengulurkan kain kerudung.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc