Monday, February 19, 2007

Pengajian : Hidayah Dijemput atau Menjemput ?

Start:     Feb 22, '07
Location:     Masjid Al Hakim Sucofindo Jl. Raya Pasar Minggu Kav. 34 Jakarta Selatan 12780

Sering kali kita sering berujar : "Maaf, saya tidak ada waktu untuk Ngaji, maklum belum dapat HIDAYAH"…"Suatu saat saya pasti pakai jilbab, tapi tidak sekarang. Soalnya saya belum dapat hidayah" ….."Saya belum sempat naik haji tahun ini, kelihatannya saya belum dapat hidayah ya?", ...ataupun ungkapan lainnya yang terkadang sering menghampiri diri kita ataupun kita dengar dari orang-orang disekitar kita. Di mana, ungkapan-ungkapan itu senantiasa mengajak kita untuk "menyalahkan" HIDAYAH, Kita belum soleh-lah, belum ber-Islam secara baik-lah yang kemudian bermuara pada HIDAYAH TIDAK MENGHAMPIRI KITA.

Allah selalu memberi petunjuk kepada siapa saja yang mencari kebenaran, di mana pun hamba-Nya berada, di biara sekali pun. Itulah yang terjadi pada Irena Handono, mantan biarawati yang mendapat hidayah justru saat mencari kelemahan Islam. Ketika membaca surat Al Ikhlas hatinya tunduk akan keesaan Allah SWT. Ia mengakui bahwa tak ada yang paling berkuasa dan patut disembah di jagad raya ini selain Sang Khalik. (Sumber : http://cafe.degromiest.nl/)

Pertanyaan besar yang kemudian muncul adalah, HIDAYAH itu, DIJEMPUT atau MENJEMPUT?

Terkait hal tersebut, LAZ PortalInfaq bekerjasama dengan Majelis Ta'lim Al Hakim-PT. (PERSERO) SUCOFINDO serta FS KLIK (Forum Silaturrahim Kajian Islam Lintas Kuningan) dan Majelis Ta'lim An-nissa, mengadakan KAJIAN BULANAN MASYARAKAT PERKANTORAN JAKARTA, yang akan diadakan pada :

Hari/Tanggal

:

Kamis, 22 Februari 2007
Pukul. 17.30 s/d 21.00 WIB (Shalat Maghrib berjamaah)

Tema

:

HIDAYAH, DIJEMPUT ATAU MENJEMPUT

Nara Sumber

:

Ust. Sahrul Syah (Juri Pildacil)

Bintang Tamu

:

Ustadzah Irena Handono (Mantan Biarawati)

Tempat

:

Masjid Al Hakim Sucofindo Jl. Raya Pasar Minggu Kav. 34 Jakarta Selatan 12780


Bagi Setiap peserta yang hadir mendapat majalah Islam Gratis dan souvenir lainnya, juga disediakan doorprice saat acara berlangsung dari Majalah Gontor.

Hadiri dan sebarkan informasi kebaikan ini ke rekan-rekan Saudara atau ke milis-milis yang Saudara ikuti. Terima Kasih atas kesediaannya memforward informasi acara ini. Acara ini GRATIIIISSS...!!!

Monday, February 12, 2007

Dialog Interaktif tentang "Pernikahan" (Buat yang belum nikah neh...)

Start:     Feb 17, '07
End:     Mar 17, '07
Location:     Mesjid Raya At-Taqwa, Pasar Minggu Jakarta Selatan
Assalamu'alaikum Wr.Wb

Untuk para Calon Pengantin Pria dan Calon Pengantin Wanita, silahkan berkesempatan untuk hadir dan menyimak acara; Dialog Interaktif "Pernikahan" dengan para Guru Dakwah.

Tempat: Mesjid Raya At-Taqwa, Pasar Minggu Jakarta Selatan
Waktu: Setiap Malam Ahad 19.30-06.00 wib (MABIT)


Jadwal Februari - Maret 2007


Tanggal: 17-Feb-07
Tema; Mengkondisikan Orang Tua
Pembicara: Ust. Ferry Noer. Ssi

Tanggal: 24 Feb-07
Tema: Khitbah, NIkah, dan Walimah
Pembicara: Ust. HIlman Rosyad Syihab, Lc

Tanggal: 3-Mar-07
Tema: Bila Jodoh Tak Kunjung Datang
Pembicara: Ust. Abdul Aziz Abdurra'uf, Lc. Al-Hafidz

Tnggal: 10-Mar-07
Tema: Bila dilamar/menikah dengan seseorang yang tidak "Tarbiyah"
Pembicara: Ust. Ferry Noer, Ssi

Tanggal: 17-Mar-07
Tema: Poligami: Solusi atau Masalah
Pembicara: Ust. Satria Hadi Lubis, MM. MBA

Partisipasi Acara: Rp.10.000,- (1x pertemuan bayar di tempat)
Info LEngkap: 021-92921514 / 08588 58 58 273

Semoga Manfaat...

Wassalamualaikum

Diskusi di INSISTS "Relativisme Kebenaran: Tren Baru Beragama Masyarakat Modern (Dari Nurcholish Madjid sampai Nasr Hamid Abu Zaid)"

Start:     Feb 17, '07
Location:     INSISTS Jakarta Jalan Kalibata Utara II/84 Jakarta

Hadiri diskusi Sabtuan di kantor INSISTS dengan tema; "Relativisme Kebenaran: Tren Baru Beragama Masyarakat Modern (Dari Nurcholish Madjid sampai Nasr Hamid Abu Zaid)"


Hidayatullah.com--Hampir tidak satu pun kalangan pemikir liberal yang menolak keabsahan paham relativisme; sebagai pola pikir, metode bahkan mendudukkannya sebagai hakekat kebenaran itu sendiri.

Relativisme adalah akar dari liberalisme, sekularisme, pluralisme agama dan feminisme. Dalam dunia akademis saat ini,--di samping dunia politik tentunya-- paham relativisme seringkali dijumpai. Bahkan oleh banyak khalayak, paham relativisme diyakini sebagai paham moderat yang tidak suka main "hitam-putih".

Hampir tidak satu pun kalangan pemikir liberal yang menolak keabsahan paham relativisme; sebagai pola pikir.

Bahkan, Prof. Dr. Syafii Maarif, mantan Ketua PP Muhammadiyah menegaskan mutlaknya kebenaran relatif dengan mengatakan bahwa kebenaran Al-Quran adalah mutlak, karena berasal dari yang Maha Mutlak. Tetapi kemutlakan tersebut menjadi nisbi saat memasuki otak dan hati manusia. Maka segala penafsiran tentang Al-Quran, kata dia, tidak pernah mencapai posisi mutlak benar, siapa pun manusianya. Syafii memandang orang yang memutlakkan penafsirannya, berarti ia telah mengambil alih otoritas Tuhan, yang artinya sejajar dengan syirik.

Relativisme, adalah sebuah doktrin bahwa ilmu pengetahuan, kebenaran dan moralitas wujud dalam kaitannya dengan budaya, masyarakat maupun konteks sejarah, dan semua hal tersebut tidak bersifat mutlak. (the doctrine that knowledge, truth, and morality exist in relation to culture, society, or historical context, and are not absolute).

Di jaman modern ini, relativisme digunakan sebagai pendekatan ilmiah dalam kajian sosiologi dan antropologi. Anehnya, relativisme sebagai pendekatan dalam disiplin ilmu sosiologi dan antropologi, oleh sebagian tokoh justru digunakan untuk membedah dan menjadi hakim atas teks-teks keislaman; termasuk Al-Qur'an dan al-Hadits.

Tak mengherankan, bila kemudian "ijtihad" yang dihasilkannya pun terkesan benar-benar "baru" dan belum pernah dikenal sebelumnya. Sebagai contoh persamaan bagian waris antara laki-laki dan perempuan, bolehnya pernikahan Muslimah dengan non Muslim, Al-Qur'an bukanlah kitab suci dan tidak pernah diniatkan untuk itu, halalnya homoseksual, laki-laki harus terkena 'iddah seperti halnya wanita, semua agama sama-sama benarnya dan punya hak yang sama mendapatkan surga dsb.

Bagaimana sebenarnya kedudukan relativisme dalam kajian agama? Bukankah Imam Syafii juga pernah mengatakan: "Pendapatku benar namun mengandung kesalahan, dan pendapat selainku salah namun mengandung kebenaran?" Dan apakah dampak serius relativisme bila diterapkan dalam studi agama Islam? Apakah perbedaan relativisme dengan konsep ilmu dalam Islam?

Ikuti diskusi Sabtu-an di kantor INSISTS Jakarta Jalan Kalibata Utara II/84 Jakarta, telpon, 021-7940381 dengan tema; "Relativisme Kebenaran: Tren Baru Beragama Masyarakat Modern (Dari Nurcholish Madjid sampai Nasr Hamid Abu Zaid)".

Pemateri: Henri Shalahuddin, MA, alumni Pesantren Modern Darussalam Gontor, Ponorogo dan lulusan ISTAC, Malaysia, pada Pukul 10-12 WIB; 17 Februari 2007.

Untuk konfirmasi tempat, silahkan hubungi 021-7940381; atau sms (08176895797; 081316663707). Bagi peserta akan disediakan makalah.

Sunday, February 11, 2007

Daftar Tema Diskusi INSISTS Tahun 2007

Rating:★★★★★
Category:Other
Daftar Tema Diskusi INSISTS Thn 2007




NoTemaTanggalPemateri
1Mengapa Barat menjadi sekuler-Liberal?10-FebAdian Husaini, MA
2Membedah Relativisme Beragama Nurcholish Madjid17-FebHenri Shalahuddin, MA
3Tafsir al-Maidah 69 dan al-Baqarah: 6224-FebDR. Mukhlis Hanafi
4Kritik terhadap Sekularisasi Nurcholish Madjid03-MarAdnin Armas, MA
5Konsep Islam sebagai satu-satunya Agama Wahyu10-MarAdian Husaini, MA
6Konsep Islamisasi Ilmu17-MarAdnin Armas, MA
7Teori Penafsiran al-Qur'an Nasr Hamid Abu Zaid24-MarHenri Shalahuddin, MA
8Membedah Hermeneutika Filsafat31-MarAdnin Armas, MA
9Respon Kristen terhadap Modernitas: Studi Kasus Gereja Katolik07-AprAdian Husaini, MA
10Integritas Pemikiran Islam: Studi Kasus Kitab Ihya Imam al-Ghazali14-AprHenri Shalahuddin, MA
11Kritik Pemikiran Arkoun tentang Studi al-Qur'an21-AprAdnin Armas, MA
12Sejarah Konflik Islam dan Barat28-AprAdian Husaini, MA
13Apa Bedanya Mu'tazilah dan Islam Liberal? Studi Kasus al-Quran05-MayHenri Shalahuddin, MA
14Pluralisme, Freemason dan Teoshopi12-MayAdnin Armas, MA
15Kristenisasi di Indonesia: Tinjauan Historis dan Teologis19-MayAdian Husaini, MA
16Pengaruh Kristen terhadap Pemikiran Nasr Hamid Abu Zayd26-MayHenri Shalahuddin, MA
17Mengkaji Perdebatan Filsafat antara al-Ghazali dan Ibn Rusyd 02-JunAdnin Armas, MA
18al-Ghazali dan Perang Salib: Studi Kasus Kebangkitan Islam Abad 1209-JunAdian Husaini, MA
19Konsep Ilmu dalam Islam16-JunAdnin Armas, MA





* Susunan tanggal dan tema menyesuaikan waktu dan kesediaan pemateri


Tempat: Kantor INSISTS


Jl. Kalibata Utara II/84 Telp 021 7940381


Waktu: 10.00 - 12.00 WIB

Friday, February 9, 2007

Seminar Gerakan Pembaharuan Islam, 3 February 2007


Adian Husaini, MA, lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, Indonesia, pada tanggal 17 Desember 1965. Pendidikan Islam diperoleh dari Madrasah Diniyah Nurul Ilmi Bojonegoro (1971-1977), Pondok Pesantren Ar Rasyid Kendal Bojonegoro (1981-1984), Pondok Pesantren Ulil Albab Bogor (1988-1989), dan Lembaga Pendidikan Bahasa Arab, LIPIA Jakarta (1988).

Gelar Master dalam bidang Hubungan Internasional diperoleh dari Pasca Sarjana Program Hubungan Internasional Universitas Jayabaya Jakarta, dengan tesis berjudul PRAGMATISME POLITIK LUAR NEGERI ISRAEL. Saat ini sedang menempuh pendidikan program Ph.D. di Institute of Islamic Thought and Civilization-International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM).

Aktivitas ilmiah dan organisasi adalah sebagai peneliti di Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) Jakarta, peneliti di Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSIST), Staf di Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (PKTTI-UI) Jakarta. Juga menjabat sebagai Sekjen Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam/KISDI, Sekjen Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina-Majelis Ulama Indonesia (KISP-MUI), dan Anggota Komisi Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Pernah menjadi wartawan di Harian Berita Buana Jakarta, Harian Republika Jakarta, dan analis berita di Radio Muslim FM Jakarta, serta dosen Jurnalistik dan pemikiran Islam di Universitas Ibnu Khaldun Bogor dan Pesantren Tinggi (Ma’had ‘Aly) Husnayain Jakarta.

Inilah sedikit oleh-oleh foto dari seminar tanggal 3 kemarin. Untuk file audio seminarnya bisa didownload disini :

http://indrayogi.multiply.com/music/item/133

Semoga bermanfaat !


"Barangsiapa yang menempuh jalan yang menuju ke pengetahuan, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga, dan para malaikat mengembangkan sayapnya karena senang pada orang yang mengincar ilmu, serta seluruh penghuni surga dan bumi bahkan ikan di kedalaman lautan, memohon ampunan untuknya" [HR.Ibnu Hanbal 196]

Tuesday, February 6, 2007

Diskusi di INSISTS (Mengapa Barat Menjadi Sekular-Liberal?)

Start:     Feb 10, '07
Location:     Kantor INSISTS, Jl. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta
Mengapa Barat Menjadi Sekular-Liberal?

Dari delapan peradaban besar yang eksis, menurut Huntington, peradaban Barat lah yang sekarang menguasai umat manusia. Tapi mengapa Barat menjadi Sekuler-Liberal?

Hidayatullah.com--Pada kondisi di mana hegemoni peradaban Barat terjadi pada hampir seluruh aspek kehidupan umat Islam – termasuk dalam bidang pemikiran Islam – maka disamping memahami Islam, memahami peradaban Barat juga sebuah keniscayaan.

Dari delapan peradaban besar yang eksis saat ini (menurut Huntington), maka peradaban Barat adalah beradaban besar yang sekarang menguasai umat manusia. Karena itu, peradaban Barat perlu dikaji dengan cermat dan serius.

Banyak ilmuwan muslim telah melakukan pengkajian yang mendalam tentang peradaban Barat, seperti Dr. Moh. Iqbal, Sayyid Quthub, Abul Hasan Ali an-Nadwi, Mohammad Asad (Leopold Weiss), Prof. Syed Muhammad Nuquib al-Attas, dan sebagainya. Pandangan dan kritik al-Attas telah dimasukkan ke dalam buku Powerful Ideas yang terbit di Australia dan dipandang sebagai salah satu pemikiran penting dalam sejarah manusia.

Apa sebenarnya peradaban Barat dan mengapa peradaban ini berkembang dari peradaban yang didominasi Kristen kemudian berubah menjadi sekular-liberal?

Bagi seorang Muslim, sangatlah penting untuk melihat peradaban Barat dalam perspektif yang tepat. Bisa dikatakan, munculnya berbagai corak dalam pemikiran Islam modern, salah satunya berawal dari cara mempersepsikan peradaban Barat. Bagi tokoh Gerakan Turki Muda, Abdullah Chevdet, misalnya, jika umat Islam mau maju, maka mereka harus mengambil Barat secara total. Jika mengambil mawar, katanya, maka ambil bunganya sekaligus durinya.

Pengalaman Barat sampai menjadi sekular-liberal sangat penting untuk dikaji, sehingga bisa ditelaah dengan tepat, apakah umat Islam perlu atau tidak mengikuti jejak Barat dalam pengembangan sekularisasi dan liberalisasi. Untuk mendiskusikan masalah ini, silakan hadir dalam diskusi Sabtuan di kantor INSISTS-Jakarta.

Diskusi akan dilaksakan pada tanggal 10 Februari 2007, pukul 10.11 WIB sampai 12.00 WIB. Pemateri dalam kajian ini adalah peneliti INSISTS Adian Husaini, yang juga penulis buku ”Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal”, sebuah buku yang mendapat penghargaan sebagai buku terbaik dalam kategori non-fiksi pada Islamic Book Fair di Jakarta, tahun 2006.

Peminat silakan mendaftar ke sekretariat INSISTS, 021-7940381 atau ke Henri Shalahuddin MA, 0813-35205040, karena tempat diskusi terbatas untuk sekitar 30-40 orang.

Friday, February 2, 2007

Sorotan Total Ulama Salaf

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Reference
Author:Abdul Aziz bin Muhammad as-Sadhan

Judul buku: Sorotan Total Ulama Salaf
Penulis: Abdul Aziz bin Muhammad as-Sadhan
Penerjemah: Ibnu Ali
Penerbit: Pustaka as-Sunnah
Cetakan: I, Juli 2005



Memilih Rujukan yang Benar


Islam sangat kaya dengan khazanah berupa sejarah, kitab-kitab dan orang-orang besar. Semua itu merupakan harta kekayaan terbesar kaum Muslimin, sebab di dalamnya terkandung mozaik keilmuan yang sangat kaya.


Sayangnya, banyak kerancuan, kontradiksi dan pertentangan yang menyelimuti khazanah Islam tersebut. Akibatnya, tak jarang muncul pertanyaan di benak kaum Muslimin, misalnya, apakah setiap sejarah yang populer saat ini dapat diyakini kebenarannya? Lalu, bagaimana dengan kitab orang-orang besar yang populer saat ini, apakah sudah tidak ada lagi kontradiksi dan semuanya dapat dijadikan teladan?


Penulis buku ini, yang merupakan seorang ulama salaf,mencoba mengkritisi khazanah Islam tersebut. Melalui hasil penelitiannya yang mendalam, ia melakukan koreksi terhadap hadits-hadits, filosof, sastrawan, kisah, dan kitab-kitab populer.


Termasuk ke dalam kitab-kitab yang ditelaah itu adalah Nahju al-Balaghah, al-Kabair, Musnad al-Imam Abu Hanifah, Al-Majmu', dan Ihya 'Ulum ad-Din. Seluruhnya mencakup 43 kitab terkenal.


Kisah-kisah yang disoroti oleh penulis antara lain perintah Nabi untuk menghilangkan gambar yang ada di dalam Kabah, kecuali gambar Maryam, Thariq bin Ziyad membakar perahu-perahu, penemuan Tanjung Harapan oleh Vasco da Gama, Ali bersedekah dengan cincinnya dalam keadaan shalat, dan masuk Islamnya 20.000 Yahudi, Nasrani, dan Majusi pada hari meninggalnya Imam Ahmad. Hal lain, misalnya sebab kelunya lidah Nabi Musa as, Hawa bersama setan, dan pernyataan Islamnya Abu Thalib.


Adapun tokoh-tokoh yang disorot oleh penulis antara lain Ibnu Sina, Thaha Husain, Najib Mahfuzh, dan Ar-Razi. Sedangkan hadis-hadis yang disorot antara lain hadis tentang kebersihan sebagian dari iman, tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina, perselisihan umat adalah rahmat, dan doa sebagai senjata Mukmin.


Melalui bukunya ini, penulis mengingatkan kaum Muslimin agar selektif dalam memilih sumber rujukan. Seperti diketahui, berbagai khazanah Islam di atas selama ini merupakan sumber rujukan kaum Muslimin dalam menyikapi berbagai hal yang menyangkut kehidupan pribadi, masyarakat, bangsa, negara, maupun agamanya.


Buku ini memudahkan kaum Muslimin untuk memilih rujukan yang benar. Karena itu, buku ini patut dibaca oleh kaum Muslimin, terutama para santri, mahasiswa, guru mengaji, da'i, dan intelektual Muslim lainnya.