Tuesday, November 28, 2006

Syaikh Nashiruddin Al-Albani

Rating:★★★★★
Category:Other
www.eramuslim.com
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Syaikh Nashiruddin Al-Albani adalah salah satu tokoh yang pernah hidup di abad 20 sebagai ulama yang mendalami masalah kritik sanad hadits. Menjadi tenar -salah satunya- karena pendapat-pendapat beliau yang cenderung berbeda dari kebanyakan pendapat yang sudah dianut oleh umat Islam, baik di bidang ilmu hadits atau pun di bidang fiqih.

Salah satunya adalah pandangan beliau yang mengajak orang untuk tidak terpaku kepada pandangan dari mazhab-mazhab fiqih peninggalan para ulama. Sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu asing, karena sudah banyak dikampanyekan oleh para tokoh sebelumnya seperti Muhammad Abduh atau Rasyid Ridha. Namun beliau menyampaikan dengan format yang berbeda dan lebih spesifik serta didukung oleh keahlian beliau di bidang kritik sanad hadits.

Kelahiran di Albania dan Hijrah ke Damaskus

Syeikh Nashiruddin Al-Albani lahir tahun 1914 masehi atau bertepatan dengan tahun 1333 hijriyah, di ibukota Albania saat itu, Asyqodar.

Keluarga beliau boleh dibilang termasuk kalangan kurang berada, namun bertradisi kuat dalam menuntut ilmu agama. Ayahanda beliau bernama Al-Haj Nuh, lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syari'ah di ibukota negara dinasti Utsmaniyah (kini Istambul) dan menjadi rujukan orang-orang dalam masalah agama.

Keluarga beliau kemudian berhijrah ke Damaskus, ibu kota Syria, dan menetap di sana setelah Ahmad Zaghu raja Albania saat itu menyimpangkan negaranya menjadi kebarat-baratan.

Pendidikan Agama

Beliau boleh dibilang tidak menyelesaikan pendidikan formal yang tinggi, kecuali hanya menyelesaikan sekolah madrasah ibtidaiyah dengan baik. Kemudian beliau meneruskan ke madarasah An-Nizhamiyah yang sangat fenomenal di dunia Islam. Namun setelah itu ayahnya punya pendapat tersendiri tentang madrasah An-Nizamiyah sehingga beliau keluar dan belajar dengan sistem tersendiri pelajarannya, seperti Quran, tajwid, nahwu, sharf serta fiqih mazhab Hanafi.

Beliau mengkhatamkan Al-Quran di tangan ayahnya sendiri dengan bacaan riwayat Hafsh dari Ashim. Beliau belajar kitab fiqih mazhab Al-Hanafi yaitu Maraqi al-Falah kepada Syeikh Said Al-Burhani, selain juga belajar lughah dan balaghah.

Secara pendapatan finansial, beliau bekerja sebagai tukang jam, sebuah keahlian yang diwariskannya dari ayahnya sendiri. Bahkan beliau sampai menjadi termasyhur di bidang service jam di Damaskus.

Sesungguhnya ayah beliau telah mengarahkan beliau untuk mendalami agama khususnya pada mazhab Al-Hanafi serta memperingatkan beliau untuk tidak terlalu menekuni ilmu hadits. Namun beliau tetap belajar ilmu hadits dan ilmu-ilmu lainnya yang menunjang. Sehingga paling tidak beliau menghabiskan 20 tahun dari hidupnya dalam mempelajari ilmu hadits, karena pengaruh dari bacaan beliau pada majalah Al-Manar yang diterbitkan oleh Syaikh Rasyid Ridha rahimahullah.

Mendalami Ilmu Hadits di Perpustakaan

Beliau menyenangi ilmu hadits dan semakin asyik dengan penelusuran kitab-kitab hadits. Sampai pihak pengelola perpustakaan adz-Dzhahiriyah di Damaskus memberikan sebuah ruangan khusus di perpustakaan untuk beliau.

Bahkan kemudian beliau diberi wewenang untuk membawa kunci perpustakaan. Dengan demikian, beliau menjadi leluasa dan terbiasa datang sebelum yang lainnya datang. Begitu pula pulangnya ketika orang lain pulang pada waktu dhuhur, beliau justru pulang setelah sholat isya. Hal ini dijalaninya sampai bertahun-tahun.

Begitulah, hadits menjadi kesibukan rutinnya, sampai-sampai beliau menutup kios reparasi jamnya. Beliau lebih betah berlama-lama dalam perpustakaan azh-Zhahiriyah, sehingga setiap harinya mencapai 12 jam. Tidak pernah istirahat mentelaah kitab-kitab hadits, kecuali jika waktu sholat tiba. Untuk makannya, seringkali hanya sedikit makanan yang dibawanya ke perpustakaan.


Kontroversi Tentang Sosok Beliau

Syeikh Nashiruddin Al-Albani oleh beberapa kalangan sangat dihormati sebagai ulama yang setuju dengan pandangan-pandangannya, namun memang ada juga sebagian lainnya yang kurang suka kepada pendapatnya serta cara penyampaiannya yang khas.

Mereka yang gemar dengan pendapat beliau umumnya adalah kalangan muda yang getol mempelajari ilmu hadits. Namun kurang dalam mempelajari ilmu fiqih serta perangkat-perangkatnya. Paling tidak, sistematika fiqih yang beliau kembangkan beliau tidak sebagaimana umumnya sistematika ilmu fiqih yang digunakan oleh para ahli fiqih umumnya.

Misalnya buat beliau, kesimpulan hukum suatu masalah lebih sering ditetapkan semata-mata berdasarkan kekuatan riwayat suatu hadits. Sedangkan pertimbangan lainnya sebagaimana yang ada di dalam ilmu fiqih, termasuk pendapat para imam mazhab, seringkali ditepis oleh beliau.

Ketidak-sukaan sebagian orang kepada beliau biasanya dilatar-belakangi oleh kekurang-mengertian mereka kepada sosok beliau. Sehingga melahirkan pandangan yang kurang baik pada citra diri beliau. Bahkan beliau pernah mengalami dua kali dipenjara, yang konon disebabkan oleh masalah seperti ini.

Memang terkadang bahasa yang beliau gunakan boleh dibilang agak terbuka dan terlalu apa adanya. Sehingga membuat telinga sebagian orang yang membacanya dan kebetulan kena sindir beliau menjadi merah telinganya.

Selain itu beliau memang dikenal sebagai tokoh di bidang ilmu hadits yang cenderung tidak mau berpegang kepada pendapat-pendapat dari mazhab-mazhab fiqih yang ada. Kesan itu akan sangat terasa menyengat bila kita banyak mengkaji ceramah dan tulisan beliau, terutama yang menyangkut kajian fiqih para ulama mazhab.

Bagi beliau, pendapat para ulama mazhab harus ditinggalkan bila bertentangan dengan apa yang beliau yakini sebagai hasil ijtihad beliau dari hadits-hadits shahih. Apalagi bila menurut beliau, pendapat para ulama mazhab itu tidak didasari oleh riwayat hadits yang kuat sanadnya.

Bahkan beliau mudah menjatuhkan vonis ahli bid'ah kepada siapa saja yang menurut beliau telah berdalil dengan hadits yang lemah. Maksudnya lemah di sini adalah lemahmenurut hasil penelitian beliau sendiri. Termasuk juga pada masalah-masalah yang umumnya dianggap sudah final di kalangan para ahli fiqih. Buat beliau, semua itu harus diabaikan, bila berbeda dengan pandangan beliau dengan landasan ijtihad beliau di bidang ilmu hadits.

Barangkali hal-hal inilah yang sering menimbulkan pandangan tertentu di kalangan sebagian orang tentang sosok beliau.

Namun apa yang beliau sampaikan itu sebenarnya bukan sekedar omongan belaka, namun berangkat dari hasil ijtihad beliau pribadi. Dengan kapasitas ilmu hadits yang beliau miliki serta banyaknya beliau membaca di perpustakaan, maka apa yang menjadi pendapat beliau punya landasan ilmiyah, bukan asal bunyi.

Namun sebagaimana tradisi keilmuwan di dalam peradaban Islam, boleh saja para ulama saling berbeda pandangan satu dengan yang lainnya, namun kita diharamkan untuk saling ejek, saling cemooh, saling cela dan saling boikot, hanya lantaran perbedaan pandangan.

Apa yang menjadi pandangan Albani harus dihormati sebagai sebuah hasil ijtihad seorang yang telah menguasai satu cabang ilmu. Tentunya beliau berhak atas pendapatnya. Namun ijtihad yang dihasilkan oleh seorang ulama tidaklah harus menggugurkan ijtihad ulama lain yang juga telah mengerahkan semua kemampuannya. Biarlah hasil-hasil ijtihad saling berbeda, sehingga memberikan ruang gerak yang luas kepada umat Islam ini.

Beberapa Tugas yang Pernah Diemban

Syeikh al-Albani Beliau pernah mengajar hadits dan ilmu-ilmu hadits di Universitas Islam Madinah meski tidak lama, hanya sekitar tiga tahun, sejak tahun 1381-1383 H.

Setelah itu beliau pindah ke Yordania. Pada tahun 1388 H, Departemen Pendidikan meminta kepada Syeikh al-Albani untuk menjadi ketua jurusan Dirasah Islamiyah pada Fakultas Pasca Sarjana di sebuah Perguruan Tinggi di kerajaan Yordania. Tetapi situasi dan kondisi saat itu tidak memungkinkan beliau memenuhi permintaan itu.

Pada tahun 1395 H hingga 1398 H beliau kembali ke Madinah untuk bertugas sebagai anggota Majelis Tinggi Jam'iyah Islamiyah di sana. Mendapat penghargaan tertinggi dari kerajaan Saudi Arabia berupa King Faisal Fundation tanggal 14 Dzulkaidah 1419 H.

Wafat Beliau dan Warisannya

Beliau wafat pada hari Jum'at malam Sabtu tanggal 21 Jumada Tsaniyah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yoradania. Karya-karya beliau amat banyak yang menjadi warisan kepada dunia Islam, sebagian sudah dicetak, namun ada yang masih berupa manuskrip, bahkan ada yang hilang, semua berjumlah 218 judul. Antara lain:

  1. Adabuz-Zifaf fi As-Sunnah al-Muthahharah
  2. Al-Ajwibah an-Nafi'ah 'ala as'ilah masjid al-Jami'ah
  3. Silisilah al-Ahadits ash-Shahihah
  4. Silisilah al-Ahadits adh-Dha'ifah wal maudhu'ah
  5. At-Tawasul wa anwa'uhu
  6. Ahkam Al-Jana'iz wabida'uha

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Rujukan lain - Click

Biografi tokoh-tokoh lain - Click


Saturday, November 11, 2006

Menyambut Kedatangan Presiden Bush

Rating:★★★★★
Category:Other
Oleh : Adian Husaini, M.A
http://adianhusaini.blogspot.com/

Pada hari-hari ini, pemerintah Indonesia sedang disibukkan dengan rencana kedatangan Presiden AS George W. Bush pada 20 November 2006 mendatang. Berbagai elemen umat Islam dan tokoh-tokoh masyarakat Indonesia sudah melakukan protes dan menyampaikan imbauan kepada pemerintah, agar menolak kedatangan Bush. Apalagi, terlihat jelas, bagaimana sikap dan tindakan pemerintah yang dinilai sangat berlebihan dalam menyambut rencana kedatangan Presiden AS tersebut. Di Istana Bogor, misalnya, sampai perlu dibuatkan landasan pendaratan helikopter khusus untuk sang Presiden AS.

Untuk apa Bush datang dan mengapa Indonesia begitu sibuk menyambut kedatangan Presiden Bush? Sejumlah pejabat Indonesia menyatakan, bahwa Bush datang --selain untuk memenuhi undangan Presiden RI-- juga untuk memberikan bantuan kepada Indonesia, utamanya dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Apakah hanya untuk itu Bush datang? Tentulah tidak. Sagat mungkin ada agenda lain yang kita tidak tahu, apakah menyangkut masa depan proyek minyak dan gas Natuna atau pesan-pesan tertentu yang akan langsung diberikan kepada Presiden kita, Susilo Bambang Yudhoyono. Wallahu a’lam.

Memang, penyambutan dan pengamanan yang sangat berlebihan terhadap rencana kedatangan Presiden Bush, seharusnya tidak dilakukan oleh bangsa Indonesia. Apalagi, dalam kondisi rakyat yang sedang menghadapi dan mengalami begitu banyak bencana. Di Sudoarjo, Jawa Timur, hingga kini, para korban lumpur panas masih belum jelas nasibnya. Masih banyak yang tinggal di barak-barak pengungsian yang tidak layak. Menyambut datangnya musim hujan, nasib mereka juga semakin mengkhawatirkan.

Di Bantul Yogyakarta, masih banyak rakyat yang belum dapat membangun rumahnya kembali. Pemerintah belum dapat menyelesaikan semua itu. Tapi, untuk persiapan penyambutan Bush, dana milyaran rupiah dengan mudah bisa dikucurkan.

Bagi umat Islam, Bush memang agak lain dengan Presiden AS sebelumnya. Semasa pemerintahannya, Presiden yang satu ini secara jelas merupakan pemimpin yang mengobarkan perang melawan umat Islam di berbagai tempat. Sebagai bagian dari kelompok neo-konservatif dari unsur fundamentalis Kristen, Bush telah memberikan corak yang khas dalam pemerintahannya.

Esther Kaplan, dalam bukunya, With God on Their Side: How Christian Fundamentalists Trampled Science, Policy, and Democracy in George W. Bush’s White House, (New York: The New Press, 2004), menggambarkan bagaimana cengkeraman kelompok Kristen Fundamentalis dalam pemerintahan Bush. Di masa Bush inilah, untuk pertama kalinya diadakan pengajian Bibel seminggu sekali di Gedung Putih dan dihadiri oleh separoh lebih staf Gedung Putih. Di Department of Justice, setiap hari dibacakan ayat-ayat Bibel.

Tidak dapat dipungkiri, kebijakan perang melawan terorisme yang diluncurkan Bush adalah kebijakan yang diarahkan memerangi kelompok-kelompok Islam yang dipandang membahayakan kepentingan AS dan Israel.

Karena itu, meskipun dunia Islam tetap menolak, AS dan Israel tetap menempatkan Hamas sebagai kelompok teroris yang boleh dibunuhi kapan saja, tanpa pertanggungjawaban hukum internasional. Kebijakan Bush dan kelompok neo-konservatif di AS, telah menimbulkan reaksi keras di berbagai penjuru dunia, termasuk di dalam negeri AS sendiri. Penyerbuan terhadap Iraq tahun 2003 telah menuai arus protes dan menjadi bumerang dalam pemilihan anggota Kongres dan Senat di AS bulan ini. Partai Republik kalah suara dengan Partai Demokrat. Lalu, salah satu tokoh kelompok garis-keras AS, Donald Rumsfeld mengundurkan diri dari jabatannya.

Apakah kita patut ikut bergembira dengan kekalahan partai Bush itu? Melihat pengalaman yang lalu-lalu, kita tidak sepatutnya terlalu berharap banyak. Saya menduga, kebijakan AS terhadap Islam tidak akan banyak berbeda secara substansi antara Presiden Bush atau Presiden AS lainnya di masa mendatang.

Sebab, di AS, yang berkuasa secara riil bukan hanya pemerintah yang terlihat. Ada ‘invisible government’ yang perlu diperhitungkan. Kebijakan itu begitu kuat menekan, mengatur, dan mengarahkan kebijakan politik luar negeri AS, siapa pun yang akan menjadi Presiden AS. Ingatlah nasib Presiden John F. Kennedy yang mencoba keluar dari jeratan ‘invisible government’ ini. Film

JFK, garapan Oliver Stone, mengarahkan kesimpulan bahwa pembunuh Kennedy adalah CIA. Tetapi, buku ‘Final Judgement’, karya Michel Colin Piper, menyimpulkan, bahwa pembunuh Kennedy adalah Mossad.

William Blum, mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS, menulis sebuah buku berjudul “Rouge State: A Guide to the World’s Only Superpower” (2002). Buku ini membongkar perilaku politik dan berbagai intervensi AS. Blum menyimpulkan, intervensi-intervensi AS antara lain bertujuan untuk mengokohkan AS sebagai satu-satunya superpower. Tidak boleh ada pesaing AS. Bahwa, di dunia ini tidak boleh ada dua jagoan, kecuali Paman Sam.

Meskipun seringkali dibantah, kita masih melihat, kebijakan politik luar negeri AS tidak mampu keluar dari skenario politik kaum neo-konservatif yang menempatkan Islam sebagai potensi ancaman terbesar bagi AS. Karena itu, ketika berhadapan dengan Islam, para pejabat AS bersikap sangat paranoid, menunjukkan ketakutan nyang membabi-buta.

Hari Jumat (10 November 2006) ini, Harian Republika menurunkan sebuah tulisan menarik dari Dr. Indrawadi Tamin MSc, mantan Deputi Protokol, Pers, dan Media, Sekretariat Presiden. Tulisan itu berjudul “Bush, Denpasar, dan Bogor”. Berdasarkan pengalamannya saat berunding dengan para pejabat AS menjelang kedatangan Presiden Bush di Bali, Oktober 2003, Indrawadi menuturkan bahwa disamping keprofesionalan mereka, pengawal Presiden AS dan protokol Gedung Putih memang bersikap paranoid dan membuatnya pusing. Paranoid, karena – menurut mereka -- Presiden AS dipandang sebagai target teroris, dan juga ada unsur-unsur arogan, dan sikap tidak menghormati tuan rumah.

Dalam bukunya, The High Priests of War, Michel Colin Piper menyebutkan, belum pernah dalam sejarah AS terjadi dominasi politik AS yang begitu besar dan mencolok oleh ‘tokoh-tokoh pro-Israel’ seperti dimasa Presiden George W. Bush. Sebagian besar anggota neo-kon adalah Yahudi. Salah satu prestasi besar kelompok ini adalah memaksakan serangan AS atas Iraq, meskipun elite-elite militer AS dan Menlu Colin Powell sendiri, semula menentangnya.

Piper membahas peran kelompok garis keras Zionis Yahudi di AS dengan menguraikan satu persatu latar belakang dan tokoh-tokoh yang terlibat dalam konspirasi neo-konservatif ini, seperti Richard Perle, William Kristol, Donald Rumsfeld, Paul Wolfowitz, Rupert Murdoch, juga ilmuwan dan kolomnis terkenal seperti Bernard Lewis, Charles Krauthammer, dan tokoh-tokoh Kristen fundamentalis seperti Jerry Falwell, Pat Robertson, dan Tim LaHaye. Cengkeraman atau pembajakan kelompok neo-kon terhadap politik AS sebenarnya meresahkan banyak umat manusia. Mereka sedang menjalankan satu skenario besar “Perang Global”, dengan menempatkan Islam sebagai musuh utama peradaban dunia.

Karena itu, mungkin karena melihat Indonesia sebagai bangsa Muslim terbesar dan dianggap sebagai ‘sarang teroris’, maka AS meminta pengamanan yang super ketat terhadap Bush saat datang ke Indonesia. Apa yang pernah dialami oleh Indrawadi Tamin sebagai pejabat istana sangatlah menarik, karena menunjukkan sikap paranoid AS yang sangat tidak beralasan. Sikap paranoid itu tentulah juga karena diakibatkan oleh bayang-bayang dosa yang diperbuatnya sendiri.

William Blum sendiri menyatakan, bahwa lebih dari 50 tahun, secara klinis, politik luar negeri AS bisa dikatakan “gila” (However, it can be argued, that for more than half century American foreign policy has, in actuality, been clinically mad.). Karena itu, untuk mengkahiri kemelut internasional dan menciptakan rasa aman bagi masyarakat AS, Blum mengajukan konsep sederhana. Jika ia menjadi Presiden AS, kata Blum, ia akan sanggup menghentikan aksi terorisme terhadap AS hanya dalam beberapa hari. Dan itu bersifat permanen.

Caranya, pertama, ia akan meminta maaf kepada semua janda dan anak yatim, orang-orang yang terluka dan termiskinkan akibat ulah imperialisme AS. Kedua, ia umumkan dengan jiwa yang tulus, ke seluruh pelosok dunia, bahwa intervensi global AS telah berakhir, dan umumkan bahwa Israel tidak lagi menjadi negara bagian AS yang ke-51. Lalu, Blum – andai jadi Presiden AS– akan memotong anggaran belanja pertahanan AS, sekurangnya 90 persen, dari angka 330 milyar USD per tahun. Jumlah itu sama dengan pembelanjaan dana pertahanan sebesar 18.000 USD per jam, sejak kelahiran Yesus. Itulah yang akan dikerjakan Blum pada tiga hari pertamanya di Gedung Putih. Tapi, katanya, pada hari keempat, ia akan dibunuh. “On the fourth day, I’d be assassinated.”

Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi, jauh-jauh sudah menyatakan tidak bersedia datang, jika diundang lagi untuk bertemu Bush. Saat pertemuan di Bali, tahun 2003 lalu, Hasyim Muzadi dan sejumlah tokoh agama sudah mengajukan berbagai usulan terhadap Bush, termasuk agar AS lebih menjadi ‘Bapak dunia’ dan bukan sebagai ‘polisi dunia’. Tetapi, berbagai usulan itu, tidak dipandang sebelah mata.

Dunia Islam dan juga dunia internasional juga sudah banyak menasehati Bush dan pemerintah AS. Dalam soal Palestina, dunia Islam sudah terlalu banyak menasehati AS agar jangan menjadikan Israel sebagai anak emas mereka. Tetapi, semua nasehat itu menguap, tanpa bekas. Ibarat pepatah: “Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.”

Semua fakta itu menunjukkan bahwa selama ini pihak AS tidak menganggap penting adanya dialog dengan dunia Islam. Dialog hanyalah basa-basi, karena aspirasi dunia Islam tidak didengar. Kita sudah paham sikap Barat itu, khususnya AS. Karena itu, menghadapi kedatangan Presiden Bush kali ini, umat Islam sudah seyogyanya dan wajib menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah. Kita imbau dan nasehatkan, agar Presiden SBY dan jajaran pemerintah RI tidak berlebihan dalam menyambut Bush. Jika mereka meminta yang berlebihan, lebih baik ditolak, demi martabat bangsa. Apalagi, jika mengingat, Pembukaan UUD 1945 sendiri dengan tegas menolak segala bentuk penjajahan di muka bumi.

Sedangkan AS adalah pendukung kolonialisme Israel atas Palestina. Tahun 1955, Konferensi Asia-Afrika di Bandung sudah menyatakan Zionisme sebagai bentuk kolonialisme yang paling jahat dan harus ditentang.

Banyak pertimbangan taktis dan strategis dalam menerima kehadiran Bush kali ini. Tetapi, perlu kita imbau, agar para pemimpin negara kita yang Muslim juga memasukkan pertimbangan iman dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Allah sudah jelas-jelas mengingatkan kepada kita semua dalam Al-Quran: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (pemimpin, pelindung, teman kepercayaan); sebagian mereka adalah wali bagi sebagian lainnya. Barangsiapa diantara kamu yang mengambil mereka menjadi wali, sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-Maidah: 51).

Sayang sekali, sebagai bangsa Muslim terbesar di dunia, kondisi kita sepertinya belum menyadari bahwa kita adalah bangsa yang mulia, karena iman dan taqwa. Bahkan, kita sudah diperingatkan oleh Allah, agar jangan menukar nikmat Allah dengan kehinaan dan kebinasaan:

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan.” (Ibrahim:28).

Sebagai orang beriman, mestinya para petinggi negara kita berani bersikap mandiri dan menunjukkan sikap ‘izzah (mulia) dalam berhadapan dengan siapa pun di dunia ini. Allah memerintahkan kepada kita: “Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan pula kamu berduka, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 139).

Kita memang menyesalkan penyambutan Bush yang berlebihan, tetapi kita juga perlu menyadari bahwa masalah kedatangan Bush hanyalah sebagian kecil dari masalah yang kita hadapi dari hegemoni peradaban Barat dalam berbagai bidang kehidupan. Kita perlu meletakkan masalah ini dengan proporsional, sebab agenda perjuangan umat Islam Indonesia masih sangat banyak dan besar. Perlu nafas dan energi yang panjang dalam perjuangan ini. Wallahu a’lam.

(Depok, 10 November 2006)

Monday, November 6, 2006

KISS (Kajian Islam Sabtu Sore)

Start:     Nov 11, '06
Location:     Jl. Kemanggisan Utama 2 No. 126, Slipi Jak-Bar
Assalamu'alaikum wr wb

Setelah sekian lama vakum, Insya Allah akan saya adakan lagi acara KISS (Kajian Islam Sabtu Sore) dirumah saya hari Sabtu tgl 11 November 2006 jam 3 sore, dengan ustadz Drs. HM Fauzi Nurwahid, beliau adalah pemimpin pesantren Persatuan Islam 69 atau PERSIS 69 yang beralamat di Jl. Kramat asem raya no.59 kel. Utan Kayu Selatan Matraman Jakarta Timur, juga anggota dari komisi pendidikan dan dakwah PERSIS. Pertemuan kali ini juga diharapkan menjadi ajang halal bihalal temen-temen MP yang pernah hadir di majelis KISS atau dulu namanya DKI (Diskusi Kajian Islam). Peta bisa dilihat disini.

Untuk topik lebih spesifik belum ditentukan. Tapi ada beberapa topik permintaan dari temen-temen yang MP yang biasa hadir untuk membahas lagi tentang munakahat atau kajian pra-nikah dan kalau bisa yang lebih mendalam. Juga akan membahas bagaimana mempertahankan ke-istiqomahan setelah bulan Ramadhan. Insya Allah diskusi kajian Islam kecil-kecilan ini bisa bermanfaat buat temen-temen yang mau hadir. Aamiin

Ada sedikit kisah dari hadits yang mungkin bisa memotivasi kita :

Sa’id ibn al-Musayyib, salah seorang pemimpin tabi’in, pernah duduk bersama seorang pembesar Madinah untuk belajar darinya. Maka, orang-orang disekitarnya bertanya, “Engkau adalah orang yang paling alim, tapi mengapa engkau duduk bersamanya, padahal dia adalah salah satu muridmu ?”

Dia menjawab, “Sesungguhnya Allah menyelimuti majelis ini dengan rahmat. Dan saya ingin Allah menyelimuti saya bersama mereka”. Ini adalah persis seperti sabda Rasulullah saw dari Allah SWT bahwa Dia berfirman kepada para jama’ah majelis ini, “Mereka meninggalkan majelis ini dengan mendapat ampunan,sesungguhnya kalian ridha dengan-Ku dan Aku pun ridha dengan kalian”.

Maka, para malaikat bertanya, “Wahai Tuhan, didalamnya ada seorang yang datang hanya untuk begini dan begitu”. Maka Allah berfirman, “Apa yang ada padanya telah Aku ampuni. Mereka adalah kaum yang tidak menyusahkan teman duduk mereka.” [at-Targhib wa at-Tarhib 1493, Bukhari 6261, Muslim 6790]

Mudah-mudahan Allah juga melimpahkan ampunan-Nya dan meliputi majelis KISS ini dengan rahmat dan ridha-Nya. Aamiin, Allahuma Aamiin.

Wassalamu'alaikum
 

Saturday, October 28, 2006

Idul Fitri 1427 H, 24 Oktober 2006




Saya dan Nina, juga kami sekeluarga mengucapkan Taqaballahu Minna Wa Minkum. Semoga amal ibadah puasa kita selama bulan Ramadhan kemarin diganjar oleh Allah dengan sebaik-baik ganjaran dan dosa-dosa kita dihapuskan. Amin !.

Saya pribadi, mohon maaf ya apabila selama berkutat di multiply ini mempunyai banyak kesalahan kepada temen-temen semua. Mudah-mudahan tali silahturahim yang telah terjalin dengan indah ini dapat terus dipertahankan. :)

Ingin cepat terkenal ? Hujatlah Islam !

Rating:★★★★★
Category:Other

Anda ingin cepat tenar dan dipuja Barat? Caranya gampang. Hujatlah Islam dan Anda akan mendapat berbagai pujian dan undangan, khususnya dari Negara-negara Barat!

Hidayatullah.com—Cara-cara seperti ini sudah dilakukan Irshad Manji, seorang warga Muslim asal Kanada yang kini tinggal di Belanda. Dia begitu tenar setelah gagasannya yang pernah disampaikan bahwa cendekiawan Barat seharusnya tidak takut lagi mengkritik Islam. Manji begitu tenar dan dipuja sebagai pahlawan di dunia Barat karena kritik agresif mereka terhadap Islam. Tetapi mereka dihujat di dunia Muslim.


Irsyad Manji adalah seorang aktivis yang juga penganut lesbianisme. Bagi pers asing, Manji dianggap ‘seorang provokator berjalan untuk Islam tradisional’. Tahun 2003 ia mempublikasikan bukunya "The Trouble with Islam Today", yang merupakan kritik tajam terhadap pelanggaran hak-hak perempuan dan kelompok minoritas agama lainnya atas nama Islam.


Tak urung, buku ini banyak mendapat pujian Barat. Tak cuma itu, sebuah stasiun televisi langsung menjadikannya sebagai pembawa acara talkshow televisi Kanada. Tentu saja membawakan acara seputar debat mengenai Islam.


‘Serangan-serangan’nya terhadap Islam, menjadikan dia dijululi Barat sebagai seorang Muslim modernis. Seperti halnya Hirsi Ali, Manji juga mendorong kaum cendekiawan Barat mengkritik Islam. Menurutnya kritik itu sangat dibutuhkan untuk membawa pembaharuan yang dibutuhkan. Di Barat filsafat multikultural, menurut Manji, sudah ditingkatkan menjadi pandangan ortodoks, yang seperti halnya aliran agama ortodoks lainnya, selalu mengintimidasi dan membungkam orang, sehingga tidak berani menyuarakan apa yang mereka pikirkan. Orang-orang Barat takut dicap rasialis jika mengkritik Islam.[ranesi/cha]



Tuesday, October 24, 2006

Sebuah awalan


Assalamu'alaikum

Alhamdulillah, proses akad nikah telah selesai dilaksanakan
dengan lancar kurang lebih sebulan yang lalu tanpa hambatan yang
berarti. Itu artinya berakhir sudah penantian saya dalam mencari teman hidup
untuk menemani hari-hari saya. Sampai hari ini semua masih terasa seperti mimpi.
Duduk di hadapan petugas KUA, ijab kabul, menandatangani buku nikah, etc....ah
rasanya tak terasa saya telah melewati fase itu semua dan sedang menuju fase
berikutnya yaitu membangun sebuah bangunan yang dinamakan rumah
tangga.

Pasangan hidup telah kudapat.
Seorang akhwat yang dengan ikhlas menutupi dirinya dengan hijab kemuliaan.
Seseorang yang mengerti bagaimana menghargai dan menjaga miliknya dan
menyimpannya hanya untuk suami tercinta, yaitu saya. Seorang wanita yang
mengerti posisinya sebagai istri dan dia telah membuktikannya. Seseorang yang
mungkin lebih tepat saya sebut sebagai bidadari yang terjatuh dari
surga.

Sampai ada saatnya saya berpikir apa
iya Allah tidak salah pilih memilih saya sebagai teman hidupnya. Seseorang yang
pernah mempunyai masa lalu kelam, dan sekarang kejatuhan bidadari surga ? The
angels up there must been looking one of their friend right now. Terima kasih ya
Allah...karena telah membiarkan dia terjatuh dari surga untuk jatuh dipelukanku.
Inilah sebuah awalan baru bagiku untuk terus berusaha menjadi hamba-Nya yang
istiqomah dan Allah telah memberikan teman sejati untuk menemani hari-hariku.
Doakan kami ya :)

Fa bi ayyi
aalaa-i rabbikumaa tukadzibaan........

Wassalamu'alaikum







Sunday, October 22, 2006

Pemerintah Umumkan 1 Syawal / Lebaran Hari Selasa

Hidayatullah.com--Sidang Isbat untuk menentukan jatuhnya Hari Raya Idul Fitri 1427 Hijriah yang dilakukan pemerintah hari Ahad (22/10) hari ini yang berlangsung di Departemen Agama memutuskan 1 Syawal .

Sidang yang dipimpin langsung oleh Menteri Agama Maftuh Basyuni sedang mendengarkan pengamatan hilal dari seluruh Indonesia. sejumlah anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan organisasi masyarakat serta para perwakilan kedutaan besar negara-negara Islam.

Dari hasil pemantauan hilal di berbagai daerah di Indonesia yang disampaikan oleh Ketua Hisab Rukyat Departemen Agama, Muzakir, mayoritas menyatakan belum melihat hilal yang merupakan pertanda bergantinya bulan dalam kalender Islam.

Dengan demikian, pemerintah menetapkan 1 Syawal jatuh hari Selasa. Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1427 Hijriah ditetapkan jatuh pada hari Selasa 24 Oktober 2006. Penetapan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Agama Maftuh Basyuni dalam sidang Isbat yang berlangsung di Departemen Agama, Ahad (22/10) malam tadi.

Keputusan itu diambil berdasarkan hasil pengamatan hilal dari 29 wilayah di Indonesia yang sebagian besar menyatakan hilal masih belum terlihat.

Kendati demikian, Maftuh menyatakan pihaknya menyadari bahwa ada kelompok masyarakat yang tidak menyetujui keputusan pemerintah tersebut. Iapun menghimbau agar seluruh rakyat menyingkapi perbedaan tersebut agar tidak menjurus pada perpecahan.

Sebelumnya, Muhammadiyah telah menyatakan 1 Syawal 1427 Hijriah jatuh pada hari Senin tanggal 23 Oktober 2006. Kendati demikian, ia menyatakan Muhammadiyah tetap akan menghargai keputusan pemerintah. Senada dengan Muhammadiyah, PWNU Jatim juga memutuskan berhari raya besok Senin. [cha, berbagai sumber]