Wednesday, April 8, 2009
Website Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat
Alhamdulillah di dalam website ini banyak berserakan ilmu dan hikmah plus video nasihat juga. Insya Allah akan bermanfaat
Sunday, March 22, 2009
Umur itu bertambah, atau berkurang ?
Hari ini 28 tahun yang lalu kata ibu, saya dilahirkan ke dunia. Itu kata ibu saya lho ya karena saya juga ngga mungkin menyaksikan kelahiran saya sendiri. Jadi sudah selama ini ya saya hidup di dunia ? Waktu benar-benar terasa cepat ya, rasanya baru kemarin saya berumur 17 tahun hehe...
Satu hal yang sering saya perhatikan di tahun-tahun belakangan ini adalah tentang moment pertambahan umur. Secara rumus matematika dasar, perubahan angka dari 27 ke 28 tentu saja adalah sebuah penambahan 27 ditambah dengan angka 1, maka jadilah 28. Tapi sekarang kok saya melihatnya terbalik ya ?.
Begini, kita semua tentu mahfum bahwa Allah telah menentukan umur kita semenjak kita dilahirkan. Yaitu takdir yang diberlakukan atas manusia pada awal penciptaannya ketika pembentukan air sperma (usia empat bulan). Takdir ini mencakup rizki, ajal, kebahagiaan, dan kesengsaraan. Hal ini didasarkan sabda Rasulullah saw. berikut ini.
“…Kemudian Allah mengutus malaikat yang diperintahkan untuk meniupkan ruhnya dan mencatat empat perkara: rizki, ajal, sengsara, atau bahagia….” [HR. Bukhari]
Nah seandainya Allah sudah mentakdirkan bahwa umur kita misalnya sampai 50 tahun saja, maka sebenarnya umur kita yang secara matematika bertambah itu malah jadi berkurang menurut hitungan Allah. Seandainya umur kita sekarang 25 tahun maka sisa hidup kita tinggal 25 tahun lagi. Begitu juga ketika kita berumur 26 tahun, maka sisa hidup kita tinggal 24 tahun lag dan akan begitu terus selamanya. Bertambah atau berkurangkah umur kita ? Nah lho....
Tapi Allah Maha Adil, rahasia umur seseorang hanyalah Allah saja yang punya sehingga kita ngga dibuat panik setiap kali berulang tahun, moment yang justru seringkali identik dengan perayaan. Tapi kadang dengan itu pulalah kita juga berpikir, "Hey i'm still young enough so why bother about end of life ?". Padahal bukankah akhir ajal kita bisa hadir kapan saja tanpa memandang umur dan kondisi fisik kita ?
Saya justru "nyaman" dengan perasaan ini, perasaan yang seringkali datang setiap saya berulang tahun. Yaitu perasaan semakin berkurangnya umur ini yang pada akhirnya mau tidak mau akan berimplikasi kepada cara pandang kita terhadap kehidupan yang fana ini. Apakah ini sebuah cara pandang pesimistis ? Jelas tidak karena bagi saya justru cara pandang seperti ini akan lebih memotivasi seseorang untuk berbuat lebih baik kepada Tuhannya dari berbagai sisi kehidupan.
Itu sebabnya kalau ngga memberatkan, di setiap hari lahir saya, saya selalu minta didoakan agar sisa umur yang saya jalani ini bisa berkualitas, bermanfaat bagi orang banyak dan tentunya bernilai ibadah dihadapan Allah Rabbul 'Izzati.
Terima kasih juga buat semua yang telah mendoakan saya dengan doa-doa yang baik, insya Allah doanya orang yang sholeh dan sholeha akan lebih mudah dikabulkan :). Semoga kita semua diberikan umur yang berkualitas dan punya nilai ibadah di hadapan-Nya. Amin Ya Rabbal 'Alamin.
Wassalamu'alaikum
Wednesday, March 18, 2009
Kuliah Dhuha RISMATA bersama Ust. DR. Daud Rasyid, MA
| Start: | Mar 22, '09 |
| Location: | Masjid At Taqwa, Kemanggisan Jak-Bar |
Click picture for larger file
Masjid At Taqwa Kemanggisan di Jl. Sakti IV No. 8 Komplek Pajak, Kemanggisan Jakarta Barat. Call 021- 535 69 66 for more info.
Wassalamu'alaikum
Monday, February 9, 2009
Iklan Bahaya Rokok & Surat Yasin....
Hehehe idenya kreatif....
Tapi kayanya perlu dipertanyakan lagi kenapa Surat Yasin selalu identik dengan kematian atau sebaliknya ?...
Hhmmm...
Monday, February 2, 2009
Lembaga Sensor Film : Film ''Perempuan Berkalung Sorban'' Dibahas Dua Kali
| Rating: | ★ |
| Category: | Movies |
| Genre: | Comedy |
Biasanya, kata dia, pembahasan sensor film cukup sekali. Pembahasan dilakukan hingga dua kali karena pertemuan pertama tak dihadiri perwakilan ahli agama.
Pada tahap pertama, imbuhnya, film itu sudah mengantongi izin lulus dewasa dengan potongan. Titie mengatakan, film itu sempat terkena gunting sensor LSF.
Titie juga mengaku saat ini pihaknya masih terus mencermati perkembangan yang ada di masyarakat.
‘’(Hal semacam ini) kan sudah banyak contohnya, seperti film Buruan Cium Gue!. Tetapi, semua itu ada di tangan menteri, kita hanya menjalankannya,’’ kata Titie menjawab kemungkinan film ini dihentikan dari peredaran.
Sedangkan pada pembahasan kedua di tingkat pelaksana harian, film ini mendapat potongan gunting sensor untuk adegan ranjang. ‘’Pada diskusi pelaksana harian ini, perwakilan agama yang datang ada dua.
Satu dari kiai dan satu lagi ahli agama.’’ Ahli agama yang dimaksud Titie adalah sarjana lulusan IAIN, tetapi tidak menyandang status kiai.
Film yang disutradarai Hanung Bramantyo itu dinilai sejumlah kalangan telah menyudutkan umat Islam. Film itu telah menggambarkan Islam sebagai agama tak sempurna dan mendiskreditkan pesantren.
Sineas senior di Tanah Air, Deddy Mizwar, menilai, cerita yang disajikan dalam film itu sangat menyudutkan Islam. Deddy menyebutkan, fikih-fikih Islam yang dihadirkan dalam Perempuan Berkalung Sorban cenderung tak jelas serta memiliki penafsiran sepihak saja.
‘’Sehingga, bisa menyudutkan pihak lain, terutama dari kalangan Islam Salafiah. Seharusnya dalam mengkritisi Islam dengan kearifan sehingga tidak menimbulkan mudharat,’’ kata pemeran Nagabonar ini saat berbincang kepada Republika melalui saluran telepon di Jakarta, Senin (2/2) siang.
Deddy melontarkan kritik keras itu setelah menyaksikan film yang dibintangi Revalina S Temat itu. Aktor gaek yang juga menjabat ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) itu menegaskan, secara umum film itu sangat menyakitkannya.
Ia menyesalkan film itu bisa lolos sensor dari Lembaga Sensor Film (LSF). ‘’Barangkali perwakilan MUI-nya tidak datang,’’ sesal Deddy. MUI sendiri merupakan salah satu lembaga yang duduk di LSF.
‘’Film ini sangat menyakitkan hati umat Islam,’’ ungkap Ahmad Maulana, seorang advokat. Ia menilai, film itu mengambarkan Islam sangat tak seimbang. ‘’Islam digambarkan sebagai agama yang tak sempurna. Ini sungguh sangat melecehkan,’’ katanya tegas. Ia mendesak agar pembuat film itu meminta maaf kepada umat Islam.
Protes yang sama juga dilontarkan Indra Jaya. Dalam suratnya kepada Republika, Indra menilai film itu sangat menyesatkan. ‘’Film ini telah membuat kalimat Allah atau hadis hanya untuk diperolok-olok dan menjadi pembenar perilaku yang buruk,’’ ujarnya. Film itu dinilainya telah membuat pandangan orang terhadap Islam menjadi jelek.
Wartawan Republika yang dua kali menonton film itu dan mendapatkan sejumlah kejanggalan di dalamnya. Dalam film itu digambarkan seorang kiai menyatakan bahwa dalam Islam perempuan dilarang keluar rumah.
Sutradara Hanung Bramantyo saat peluncuran perdana menyatakan telah siap 100 persen untuk menghadapi kritik dan protes terhadap film Perempuan Berkalung Sorban. akb/hri
Kejanggalan yang Menyulut Kontroversi
* Seolah-olah Islam mengharamkan perempuan keluar rumah, baik untuk bekerja maupun belajar. Padahal, Islam tak melarang perempuan untuk keluar rumah. (Menit ke-16 dan 20).
* Orang tua Annisa yang seorang kiai melarang keras Annisa menunggang kuda dengan alasan perempuan tidak pantas menunggang kuda dan hanya laki-laki yang boleh.
* Perempuan tidak boleh menjadi pemimpin, terlihat jelas dalam adegan pemilihan ketua kelas di sekolah Annisa saat duduk di sekolah dasar. Meski dia menang, lalu dianulir. Hal itu dibenarkan kiai.
* Kiai sebagai pemimpin pesantren digambarkan materialistis.
* Seolah-olah Islam membenarkan tindakan kekerasan terhadap istri dengan mendasarkan pada kitab-kitab kuning.
* Ayat-ayat Alquran ditampilkan sebagai pembenaran atas perilaku salah.
Republika, 3 Februari 2009
* Catatan dari saya : Sedih melihat bahwa Islam dalam film hanya menjadi simbol yang digambarkan dengan pemakaian jilbab dimana dan kalimat2 "Islami" yang bertaburan tapi tidak selaras dengan proses pembuatannya yang terjadi ihktilat dimana-mana bahkan bersentuhan dengan yang bukan mahromnya. Mudah-mudahan sineas lain bisa belajar dari pengalaman ini sebelum berniat membuat film Islami.
Film "Perempuan Berkalung Sorban" Dianggap Menyesatkan
| Rating: | ★ |
| Category: | Movies |
| Genre: | Comedy |
Salah satu pesan yang dianggap menyesatkan dalam film itu adalah dialog antara Kiai Hanan, ayah Anissa (Joshua Pandelaky) dengan Annisa (Revalina S Temat). Dalam dialog itu, Kiai Hanan berkata, "Jelas Alquran dan Hadits mengharamkan perempuan keluar rumah sendiri tanpa muhrim, meski untuk belajar."
''Yang membuat saya kaget, dialog itu dihadirkan secara berulang dengan adegan yang berbeda,'' cetus staf pengajar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Fitriyani Aminudin kepada Republika, Ahad (1/2). Padahal, kata Fitriyani, tak ada satupun ayat dalam Alquran dan Hadits yang melarang perempuan untuk keluar rumah.
Ia menegaskan, penggunaan kata ''berdasarkan Alquran dan Hadits'' dalam film itu sebagai bentuk pelecehan kitab suci yang amat menyakitkan. Reaksi keras terhadap Film ''Perempuan Berkalung Sorban'' juga dilontarkan Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Ali Mustafa Yakub. Pakar ilmu Hadits itu menyatakan, tak ada satu pun ayat dalam Alquran dan Hadits yang mengharamkan perempuan untuk keluar rumah.
"Yang ada justru hadits yang sebaliknya,'' tegas Kiai Ali Mustafa. ''Janganlah kamu melarang perempuan-perempuanmu untuk ke masjid (menimba ilmu),'' ucapnya mengutip sebuah hadits. Anggota Komisi Fatwa MUI itu menilai, Film ''Perempuan Berkalung Surban'' telah menyesatkan. "Mereka menggambarkan persepsi yang salah, padahal keadaan yang sebenarnya tidak seperti itu. Itu sangat tidak benar. Menurut saya film itu menyesatkan."
Kiai Ali juga menyoroti adegan Anissa menunggang kuda. ''Dalam film itu digambarkan bahwa perempuan dilarang menunggang kuda. Padahal pada zaman Nabi banyak perempuan yang sudah menunggang kuda,'' tuturnya. Menurut dia, film tersebut telah menyampaikan ajaran agama yang salah. ''Sebaiknya tidak usah ditonton."
Selain itu, Fitriyani juga memaparkan banyaknya adegan yang ganjil dalam film itu. Ia mengkritisi sejumlah dialog dan gambar yang mencoba membandingkan Alquran serta Hadits dengan buku Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Tur. "Siapapun yang menontonnya, dalam film ini terdapat kesan kuat yang menggambarkan kebodohan kaum santri mengharamkan buku-buku Komunis,'' cetus Fitriyani.
Fitriyani menilai film itu mengedepankan pesan utama kebebasan yang mencoba membandingkannya dengan pesantren. "Ada sebuah kesalahan fatal, karena mereka (pembuat film) tak mendalami lebih dahulu karakter dan tradisi pendidikan pesantren,'' tegasnya. Ia menilai mereka yang terlibat dalam film itu sangat terlihat sekali ketidakpahaman mereka terhadap sejarah, tradisi, karakteristik dan jiwa pesantren.
''Ini merupakan pelecehan dan penghinaan terhadap pesantren," kata wanita yang juga pernah mondok di salah satu pesantren Jawa Timur itu. Menanggapi reaksi keras dari kalangan umat Islam itu, Sutradara Film ''Perempuan Berkalung Sorban'', Hanung Bramantyo membantah adanya dialog haramnya perempuan keluar rumah yang didasarkan pada Alquran dan Hadits. "Tak ada dialog seperti itu, itu hanya pendapat sang Kiai yang notabene pemilik pesantren bukan berdasarkan Alquran dan Hadits,'' kilahnya.
Hanung menambahkan, ia mengadopsi keadaan pesantren dan kegiatannya dari novel karya Abidah Al Khalieqy yang merupakan hasil pengamatan Abidah. c63 (-)
Republika, 2 Februari 2009
Wednesday, January 14, 2009
Michael Heart - We Will Not Go Down (Tribute to Gaza)
The song MP3 is available for download at:
http://michaelheart.com/Song_for_Gaza.html
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they're dead or alive
They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who's wrong or right
But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In the night, without a fight
We will not go down
In Gaza tonight