Wednesday, October 11, 2006

Penyemangat Bagi yang Puasa Ramadhan

Rating:★★★★★
Category:Other
1. Pengampunan Dosa

Allah dan Rasul-Nya memberikan targhib (spirit) untuk melakukan puasa Ramadhan dengan menjelaskan keutamaan serta tingginya kedudukan puasa, dan kalau seandainya orang yang puasa mempunyai dosa seperti buih di lautan niscaya akan diampuni dengan sebab ibadah yang baik dan diberkahi ini.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, (bahwasanya) beliau bersabda (yang artinya) :

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisab (mengharap wajah ALLAH) maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu" [Hadits Riwayat Bukhari 4/99, Muslim 759, makna "Penuh iman dan Ihtisab' yakni membenarkan wajibnya puasa, mengharap pahalanya, hatinya senang dalam mengamalkan, tidak membencinya, tidak merasa berat dalam mengamalkannya]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu juga, -Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda (yang artinya) :

“Shalat yang lima waktu, Jum'at ke Jum'at. Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa yang terjadi di antara senggang waktu tersebut jika menjauhi dosa besar" [Hadits Riwayat Muslim 233].

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu juga, (bahwasanya) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah naik mimbar kemudian berkata :

“Amin, Amin, Amin" Ditanyakan kepadanya : "Ya Rasulullah, engkau naik mimbar kemudian mengucapkan Amin, Amin, Amin ?" Beliau bersabda (yang artinya) :

“Sesungguhnya Jibril 'Alaihis salam datang kepadaku, dia berkata : "Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan tapi tidak diampuni dosanya maka akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia, katakan "Amin", maka akupun mengucapkan Amin...." [Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah 3/192 dan Ahmad 2/246 dan 254 dan Al-Baihaqi 4/204 dari jalan Abu Hurairah. Hadits ini shahih, asalnya terdapat dalam Shahih Muslim 4/1978. Dalam bab ini banyak hadits dari beberapa orang sahabat, lihatlah dalam Fadhailu Syahri Ramadhan hal.25-34 karya Ibnu Syahin].

2. Dikabulkannya Do'a dan Pembebasan Api Neraka

Rasullullah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) :

“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka setiap siang dan malam dalam bulan Ramadhan, dan semua orang muslim yang berdo'a akan dikabulkan do'anya" [Hadits Riwayat Bazzar 3142, Ahmad 2/254 dari jalan A'mas, dari Abu Shalih dari Jabir, diriwayatkan oleh Ibnu Majah 1643 darinya secara ringkas dari jalan yang lain, haditsnya shahih. Do'a yang dikabulkan itu ketika berbuka, sebagaimana akan datang penjelasannya, lihat Misbahuh Azzujajah no. 60 karya Al-Bushri]

3. Orang yang Puasa Termasuk Shidiqin dan Syuhada

Dari 'Amr bin Murrah Al-Juhani[1] Radhiyallahu 'anhu, ia berkata : Datang seorang pria kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian berkata :

"Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah, engkau adalah Rasulullah, aku shalat lima waktu, aku tunaikan zakat, aku lakukan puasa Ramadhan dan shalat tarawih di malam harinya, termasuk orang yang manakah aku ?"

Beliau menjawab (yang artinya) :

“Termasuk dari shidiqin dan syuhada" [Hadits Riwayat Ibnu Hibban (no.11 zawaidnya) sanadnya Shahih]

Footnote :

[1]. Lihat Al-Ansab 3/394 karya As-Sam'ani, Al-Lubab 1/317 karya Ibnul Atsir

Judul Asli : Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. Ke 5 th 1416 H. Edisi Indonesia Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka Al-Mubarok (PMR), penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H.

Tuesday, October 10, 2006

Istilah-Istilah dalam Ilmu Hadits

Rating:★★★★★
Category:Other
1. Hadits, Atsar dan Matan

Ashal arti hadits ialah omongan, perkataan, ucapan dan sebangsanya. Ghalibnya terpakai untuk perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Jika disebut hadits Nabi, maka maksudnya ialah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam. Terkadang disebut hadits Anas, umpamanya, maka maksudnya ialah hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Anas. Sering juga dikatakan Hadits Bukhari, umpamanya, maka maksudnya ialah Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari di dalam kitabnya.

Lafazh hadits yang diucapkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dinamakan matan hadits atau isi hadits.

Atsar ialah perkataan sahabat sebagaimana hadits perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Terkadang omongan dari sahabat dikatakan riwayat.

2. Gambaran sanad

Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam didengar oleh sahabat (seorang atau lebih), kemudian mereka (sahabat) sampaikan kepada tabi’in (seorang atau lebih). Kemudian tabi’in sampaikan kepada orang2 generasi berikutnya. Demikianlah seterusnya, hingga dicatat hadits-hadits tersebut oleh Imam-Imam ahli hadits, seperti Malik, Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan lain-lain.

Ketika meriwayatkan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam, Bukhari (misalnya) berkata bahwa hadits ini disampaikan kepada saya melalui seseorang, namanya A. Dan A berkata, disampaikan kepada saya dari B. B berkata, disampaikan kepada saya dari C, dan seterusnya sampai G (misalnya). G berkata bahwa diucapkan kepada saya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Menurut contoh ini, antara Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Bukhari ada 7 orang (A - G). Adapun dalam sebuah sanad, tidak selalu ada 7 orang perantara. Bisa kurang dan bias lebih.

3. Rawi, Sanad dan Mudawwin

Tiap-tiap orang dari A sampai G yang tersebut pada contoh diatas dinamakan Rawi, yakni yang meriwayatkan hadits. Adapun kumpulan rawi-rawi tersebut dinamakan Sanad, yakni sandaran, jembatan, titian, atau jalan yang menyampaikan sesuatu hadits kepada kita. Sanad terkadang disebut juga isnad.

Mudawwin artinya pembuku, pencatat, pendaftar, yaitu orang alim yang mencatat/membukukan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam, seperti : Malik, Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dll.

4. Shahabi (Shahabat) dan tabi’i

G yang mendengar hadits dari Nabi shallallahu alaihi wasallam seperti contoh nomor 2 tersebut adalah sahabi (sahabat), dan F yang mendengar hadits dari G dan tidak berjumpa dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam disebut tabi’i.

5. Awal dan akhir sanad

Menurut para ahli hadits, ada awal dan akhir dalam sebuah sanad. Awal sanad adalah A dan akhir sanad adalah G. Jadi, orang yang memberitahu mudawwin (BUkhari, Muslim, dll) dinamakan awal sanad, dan G adalah akhir sanad.

6. Sifat-sifat Rawi

Tiap-tiap orang dari rawi sebuah hadits haruslah mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :

   1. Bukan pendusta
   2. Tidak dituduh sebagai pendusta
   3. Tidak banyak salahnya
   4. Tidak kurang ketelitiannya
   5. Bukan fasiq
   6. Bukan orang yg banyak keraguan
   7. Bukan ahli bid’ah
   8. Kuat hafalannya
   9. Tidak sering menyalahi rawi-rawi yang kuat
  10. Terkenal

(Rawi yang terkenal adalah rawi yang dikenal oleh sedikitnya 2 orang ahli hadits di jamannya)

7. Bagaimana mengetahui sifat-sifat rawi ?

Setiap rawi hendaklah dikenal oleh sedikitnya 2 orang ahli hadits di zamannya masing-masing. Sifat masing-masing rawi pun hendaknya diterangkan oleh ahli hadits di masing-masing masanya.

Semua rawi-rawi hadits dari zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam hingga zamannya mudawwin dicatat oleh para Imam ahli hadits di zamannya masing-masing dan telah ada di kitab-kitab mereka dari zaman sahabi hingga zaman tabi’I dan dibawahnya. Tiap ulama ahli hadits di suatu masa telah mencatat tarikh lahir dan wafat para rawi tersebut untuk diketahui oleh orang-orang di bawah mereka. Tidak seorangpun dari rawi-rawi hadits yang terluput dari catatan para ulama hadits.

Rawi yang tidak ada catatannya dinamakan maj-hul (tidak terkenal). Rawi-rawi yang maj-hul tidak diterima hadits yang diriwayatkan oleh mereka. Diantara kitab yang menerangkan tarikh para rawi adalah sebagai berikut :

   1. Tahdzibuttahdzib (Ibn Hajar) – 12.460 nama rawi
   2. Lisanul mizan (Ibn Hajar) – 15.343 nama rawi
   3. Mizanul I’tidal (Adzdzahabi) – 10.907 nama rawi
   4. Al-I shabah (Ibn Hajar) – 11.279 nama sahabat
   5. Usudul Ghobah (Ibn Al Atsir) – 7.500 nama sahabat
   6. Attarikhul khabir (Imam Bukhari) – 9.048 nama rawi
   7. Al Fihrist (Ibnun Nadim)
   8. Al Badruththoli’ (As Syaukani) – 441 nama rawi
   9. Al Jarh wa atta’dil (Ibn Abi Hatim) – 18.040 nama rawi
  10. Ad Durarul Kaminah (Ibn Hajar) – 5.320 nama rawi
  11. Dan lain-lain.

8. Marfu’

Satu hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam oleh seorang rawi hingga sampai kepada ulama Mudawwin (BUkhari, muslim, dll) dinamakan hadits Marfu’, yaitu hadits yang riwayatnya sampai kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Bila ada seorang ahli hadits mengatakan bahwa “hadits itu dirafa’kan oleh seorang sahabi”, misalnya Ibn Umar, maka maksudnya ialah Ibn Umar meriwayatkan hadits tersebut dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan bukan dari fatwanya sendiri.

Jika ada di kitab-kitab para ahli hadits “rafa’kan suatu hadits”, maka maksudnya untuk menunjukkan bahwa sanadnya sampai kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan bukan hanya sampai sahabat saja. Bila ada perkataan “tidak sah rafa’nya”, maka sanadnya hanya sampai kepada sahabat saja.

Kalimat “marfu’ gholibnya’ dipakai untuk hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam. Bila ada perkataan “Bukhari tarjihkan rafa’nya”, berarti hadits tersebut ada yg menganggap marfu’ dan ada yg anggap mauquf, namun anggapan yang kuat adalah marfu’.

9. Maushul

Hadits yang sanadnya sampai kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan tidak putus dinamakan maushul atau mut-tashilus-sanad, yaitu yang bersambung dan tidak putus sanadnya. Perkataan maushul ini juga dipakai buat sanad atau riwayat atau atsar sahabat atau tabi’in yang tidak putus. Apabila ulama berkata bahwa Tirmidzi washalkan hadits itu, artinya Tirmidzi bawakan bagi hadits itu atau bagi atsar itu sanad yang tidak putus.

10. Mauquf

Fatwa sahabat atau anggapan sahabat sendiri yang diriwayatkan kepada kita, dinamakan mauquf, yaitu sanadnya terhenti di sahabat dan tidak sampai ke Nabi shallallahu alaihi wasallam. Bila dalam satu perkataan yang dikatakan hadits, namun bila diperiksa sanadnya hanya terhenti sampai sahabat, maka dinamakan hadits mauquf.

Perkataan ulama misalnya bahwa hadits itu diwaqafkan oleh Tirmidzi, maka artinya bahwa Tirmidzi membawakan sanad yang hanya sampai kepada sahabat. Bila ada ulama yang mengatakan ‘mauqufnya lebih rajih’, maka artinya adalah hadits tersebut masih diperdebatkan sanadnya apakah ia marfu’ atau mauquf, namun yang lebih rajah (berat) adalah mauqufnya.

11. Mursal

Apabila ada seorang tabi’I yang pastinya tidak bertemu Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata :”telah bersabda Nabi shallallahu alaihi wasallam…….”, maka apa yang diriwayatkan dinamakan hadits mursal, karena hadits tersebut dilangsungkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tanpa melalui perantara sahabat.

12. Mudallas

Jika seorang perawi berkata bahwa ‘hadits ini dari si fulan’ atau ‘si fulan berkata’ atau ‘si fulan ucapkan’ dan lain-lain dengan tanpa kata ‘kepada saya’, maka perkataan-perkataan itu tidak menunjukkan dengan tegas bahwa si fulan telah menyampaikan kepadanya dengan langsung, karena bias jadi dengan perantaraan seseorang yang tidak dikenal/tidak terkenal. Hadits ini dinamakan hadits mudallas. Dan si perawi tersebut yang men-tadlis, dinamakan mudallis.

13. Maqthu’

Hadits yang sanadnya hanya sampai kepada tabi’I atau yang dibawahnya dinamakan hadis Maqthu (dibawah hadits marfu yang sanadnya sampai ke Nabi shallallahu alaihi wasallam dan hadits mauquf yang sanadnya sampai kepada sahabat)

14. Munqathi’ dan Mu’dhal

Di dalam satu sanad, jika gugur nama seorang rawi, selain sahabat, atau gugur dua orang rawi yang tidak berdekatan (maksudnya gugurnya dalam sebuah sanad berselang), maka sanad tersebut dinamakan munqathi’. Dan jika yang gugur adalah dua orang rawi yang berdekatan (tidak berselang / ditengah sanad), maka dinamakan Mu’dhal.

15. Mudhtharib

Sebuah hadits yang dibawakan oleh seorang perawi dengan satu rangkaian/sanad, namun dia bawakan juga dengan sanad lain namun dengan makna yang berbeda. Atau dia bawakan sebuah hadits dengan satu sanad, namun dia bawakan juga hadits tersebut dengan sanad yang sama, namun dengan perubahan lafazh. Sehingga tidak dapat diputuskan mana yang harus digunakan. Ini adalah hadits mudhtharib, artinya guncang, lantaran tidak tetap.

16. Maqlub

Maqlub artinya dibalik atau terbalik. Misalnya, sebuah hadits berbunyi:”tangan dulu baru lutut”, sementara diriwayatkan oleh orang lain:”lutut dulu baru tangan”. Oleh karena terbaliknya di matan hadits, maka disebut maqlub fil matan.

Bila dalam sebuah sanad ditemukan nama misalnya Muhammad bin Ali, namun dalam hadits yang sama ditemukan nama Ali bin Muhammad, maka ini disebut maqlub fil sanad.

17. Mudraj

Diantara lafazh-lafazh hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, jika ditemukan terdapat tambahan-tambahan dengan maksud untuk menerangkan, tapi terbukti bukan berasal dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka tambahan ini dinamakan mudraj. Sementara pekerjaan menyelipkannya dinamakan idraj. Idraj dalam matan disebut idraj fil matani. Idraj dalam sanad disebut idraj fil sanad.

18. Ma’lul, Mu’allal, Mu’tal

Yaitu hadits yang terdapat didalamnya cacat yang tersembunyi. Namun bukan cacat-cacat biasa yang terdapat di point nomor 6 diatas, melainkan cacat yang hanya dapat dibuktikan dengan ketelitian dan tidak diketahui selain oleh orang yang sebenar-benar ahli hadits. Cacat tersebut dinamakan ‘illat, artinya penyakit.

19. Mu’allaq

Yaitu hadits yang diriwayatkan tanpa memakai sanad. Misalnya, “RAsulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda………” atau “Diriwayatkan dari Ibn Umar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam………” atau Bukhari meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam…….” Hadits mu’allaq ini kadang tidak disebut sanadnya oleh seorang ahli hadits karena hendak memperingkasnya, padahal sanadnya ada. Namun ada juga yang memang diriwayatkan begitu saja tanpa menggunakan sanad.

20. Maudhlu’ dan matruk

Hadits yang didalam sanadnya terdapat seorang pendusta dinamakan hadits maudhlu. Atau hadits yang dibuat oleh seseorang, namun dikatakan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Hadits yang didalam sanadnya terdapat seseorang yang dituduh sebagai pendusta dinamakan matruk. Orang yang tertuduh juga dikatakan matruk, artinya yang ditinggalkan/dibuang.

21. Syahid dan mutabi’

Jika ada sebuah hadits, misalnya yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas, namun ditemukan juga hadits lain yang maknanya sama namun diriwayatkan oleh sahabat yang lain, maka hadis ini dinamakan syahid (penyaksi). Namun bila ada sanad lain yang juga diriwayatkan oleh Ibn Abbas, maka hadits ini dinamakan mutabi’ (yang mengikuti/pengiring)

22. Mahfuzh dan syaadz

Jika diriwayatkan dua hadits shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang se-olah2 artinya berlawanan, maka yang lebih kuat dinamakan mahfuzh dan yang kurang kuat dinamakan syaadz.

23. Ma’ruf dan munkar

Jika diriwayatkan dua hadits lemah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang artinya berlawanan, maka yang lemah dinamakan ma’ruf, sementara yang lebih lemah lagi dinamakan munkar.

24. Mutawatir, Masyhur, ‘aziz dan gharib

Hadits mutawatir adalah hadits yang memiliki banyak sanadnya (lebih dari 3)
Hadits Masyhur adalah hadits yang memiliki se-kurang2nya 3 sanad
Hadits ‘aziz adalah hadits yang memiliki se-kurang2nya 2 sanad
Hadits Ahad adalah hadits yang memiliki hanya 1 sanad.

25. Hadits Qudsi

Yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala yang tidak tercantum dalam Al-Quran. Diriwayatkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam namun tidak dimasukkan dalam Al-Quran. Dalam hadits qudsi pun juga dikenal istilah shahih, dha’if dan lain-lain.

26. Dha’if

Yaitu sebuah hadits yang tidak dapat memenuhi syarat-syarat hadits shahih, juga hadits hasan. Hadits ini menjadi dha’if juga dikarenakan ketidaksesuaian yang terdapat didalam sanadnya.

27. Shahih dan hasan

Yaitu hadits yang seluruh rawi dalam sanadnya sudah memenuhi syarat seperti tercantum di point 6 diatas. Hadits shahih wajib digunakan sebagai dasar hukum dan amal. Beberapa hadits shahih walaupun kelihatan seperti bertentangan, namun bila diteliti akan ditemukan persamaanya, karena tidak mungkin ada 2 hadits shahih yang bertentangan. Dan, hadits shahih tidak mungkin bertentangan dengan Al-Quran. Kalau kita berfikir, bahwa sebuah hadits sanandnya shahih, mana mungkin matannya buruk?

28. Sifat rawi yang lemah

Sebuah hadits tidak akan dianggap shahih bila didalam sanadnya terdapat seorang rawi yang lemah. Sifat2 lemah tersebut antara lain :

   1. Pendusta, pembohong
   2. pemalsu
   3. lembek
   4. jelek hafalannya/pelupa
   5. munafiq
   6. dan lain-lain

29. Musnad dan sunan

Sebuah kitab yang urutan penulisannya berdasarkan perawi, maka disebut kitab musnad. MIsalnya Kitab musnad Ahmad, maka sistematika penulisannya berdasarkan pasal perawi, misalnya Pasal Ibn Abbas, Pasal Ibn Umar, dst.

Sementara, kitab yang yang urutannya didasarkan pada fiqh, maka disebut kitab sunan. MIsalnya kitab sunan Abu dawud, maka sistematika penulisannya berdasarkan ilmu fiqh, misalnya thaharah, shalat, jinayah, dst.

30. Sunnah RAsulullah shallallahu alaihi wasallam

Yang dikatakan sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam itu terdiri dari 3 perkara, yaitu :

   1. Sabdanya
   2. Perbuatannya
   3. Perbuatan atau perkataan orang lain yang dibiarkannya.

Inilah yang disebut qauluhu, fi’luhu dan wataqriruhu

Maraji' :
Pengantar Bulughul Maram
Ditulis ulang oleh Syaikh Abd.Qadir Hassan
dari : Terjemah Bulughl Maram (Syaikh Ibn Hajar Al-Asqalany)
oleh Syaikh A.Hassan


Belajar Hadis Itu Nikmat

Rating:★★★★★
Category:Other

Banyak penafsiran yang kurang tepat atas hadis-hadis selama ini. Dan itu terus berkwmbang dalam masyarakat. Adalah Prof KH Ali Mustafa Yaqub MA, yang mengamatinya, sekaligus berupaya meluruskannya. Ia adalah master lulusan Jurusan Tafsir Hadis Universitas King Saud, Riyad, Arab Saudi (1985).

Salah satu cara yang ia lakukan adalah menerbitkan buku, antara lain berjudul Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan. KH Ali Mustafa lantas menyebutkan tindakan Nabi Muhammad yang hanya membagi masa Ramadhan yang hanya menjadi dua, menurut hadis riwayat Aisyah. ''Pertama, 1-20, kemudian 21 sampai akhir Ramadhan. Satu sampai 20, Nabi masih biasa-biasa saja. Tapi ketika 21 sampai akhir, itu sudah tancap gas,'' ujar lulusan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, itu.

Aktivitas ibadah yang meninggi di 10 hari terakhir Ramadhan terjadi karena di situ ada lailatul qadar. ''Jadi untuk mendapatkan lailatul qadar tidak usah dicari di malam-malam ganjil. Sepuluh itu dikerjakan terus, kena kan lailatul qadar. Tapi kalau spekulasi, kadang-kadang meleset,'' kata kiai yang menyelesaikan pendidikan S1-nya di Fakultas Syariah Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Arab, pada 1980.

Hal ini justru berbeda dengan kebiasaan Muslim Indonesia yang membagi Ramadhan menjadi tiga bagian, dan memburu lailatul qadar di malam ganjil 10 hari terakhir. ''Ada tiga hal yang menjadi ciri khas Nabi dalam 10 hari terakhir. Pertama, beliau selalu membangunkan keluarganya untuk beribadah di masjid. Kedua, beliau sudah tidak mengumpuli istri-istrinya lagi. Dalam bahasa Siti Aisyah itu, sudah mengencangkan sarungnya. Ketiga, setiap malam diisi dengan ibadah. Jadi, 10 hari terakhir diisi dengan ibadah di masjid dan sebagainya. Itu lebih digiatkan dibanding 20 yang pertama,'' papar kiai kelahiran Batang, Jawa Tengah, pada 1952 itu.

Untuk mengetahui lebih jauh sosok yang kini menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, itu, wartawan Republika, Burhanudin Bella, menemuinya di rumah kediamannya di Ciputat, Rabu (27/9) lalu.

Mengapa Anda mendalami ilmu hadis?
Alasannya karena di Indonesia langka orang yang mau mendalami ilmu hadis. Yang fikih banyak, yang tafsir juga. Ilmu hadis ini yang banyak orang tidak berminat. Makanya saya masuk situ sajalah. Ini masalahnya penting juga, sebagai sumber agama kok.

Ada dorongan lain?
Ada juga. Belajar hadis itu lebih nikmat dari pada belajar yang lain. Karena ketika kita mempelajari, seolah-seolah kita sedang berada dengan Nabi. Itu nikmatnya. Saya belajar juga fikih, yang lain-lain juga, tapi tidak senikmat belajar hadis. Selain karena kelangkaan dan kenikmatan, orang kalau belajar hadis akan sering mendapatkan nama Nabi Muhammad. Nah, ketika itu dia akan membaca shalawat. Banyak baca shalawat kan semakin banyak pahalanya.

Kalau di sini kurang ahli hadis, bagaimana Anda memperkaya pengetahuan itu?
Pertama saya pernah belajar secara formal. Kedua, saya masih punya guru di Saudi Arabia, dan saya selalu konsultasi, di samping saya membaca kitab. Kalau ada satu hal yang musykil bagi saya, baru konsultasi dengan guru saya.

Rujukan ilmu hadis kan susah?
Betul. Tapi saya katakan, sekarang lebih bagus dibandingkan dengan 20-30 tahun lalu. Dulu kita tahunya cuma Bukhari-Muslim saja. Yang lain sulit. Tapi sekarang mencari kitab-kitab seperti Abu Daud, Tarmidzi, an-Nasa'i, dan sebagainya sudah banyak. Jadi ada perkembangan ilmu hadis di Indonesia, cuma mungkin tidak laris.

Jika sudah banyak buku hadis, tapi mengapa masih banyak hadis keliru yang dipakai?
Orang nggak mau belajar ilmu hadis. Kedua, ada fanatisme. Ada orang yang memanfaatkan buku saya bukan main. Saya dapat laporan, ada yang sampai seluruh buku saya dia kumpulkan. Tapi ada juga yang ketika membaca buku saya, disebut ini hadis adalah palsu, dia bilang, 'Kata guru saya nggak. Guru saya memakai hadis itu, ya saya ikuti. Di buku itu kan pengarangnya bukan guru saya'. Nah, ada yang seperti itu juga.

Apa reaksi Anda?
Biarlah seperti itu. Yang penting saya sudah menyampaikan untuk meluruskan hal-hal yang tidak tepat di masyarakat.

Ada yang mengecam Anda?
Mengecam ya, tidak. Tapi dalam pengertian mengoreksi biar lebih bagus, itu banyak sekali. Dan itu bagus, hingga terbitan berikutnya saya perbaiki. Salah kata, dan sebagainya.

Yang Anda tulis hadis keliru, tidak ada yang membantah?
Tidak ada. Sampai sekarang, saya justru kalau ada orang yang mau membantah, silakan. Itu ilmu bagi saya. Asal dia punya argumen yang kuat. Tapi kebanyakan tidak sampai situ.

KH Mustafa telah menulis 20 buku sejak 1986. Saat ini ada satu buku lagi dalam proses penyuntingan. Ia selalu memegang teguh pesan gurunya, yangkemudian ia jadikan sebagai falsafah hidupnya. ''Dia bilang, jadilah kamu orang yang dibutuhkan oleh masyarakat,'' kata Mustafa.

Maka, ia merasa perlu mencerahkan masyarakat. Adanya banyak hadis palsu yang beredar dandiyakini kebenarannya oleh banyak orang, mendorong Mustafa untuk meluruskannya. ''Sebab, orang kalau sudah dikatakan ini hadis, dia percaya itu adalah sabda Rasul, kemudian dipegang erat-erat. Padahal belum tentu yang disebut hadis itu benar-benar memenuhi syarat sebagai sebuah hadis yang valid. Banyak sekali, tapi yang saya tulis hanya yang berkembang dalam masyarakat,'' jelas dia.

Banyak orang salah memahami hadis. Sebagai ahli hadis, apa yang Anda lakukan?
Di Indonesia, langka yang dapat disebut sebagai ahli hadis. Karena itu banyak ulama, terutama mubalig-mubalig, menyampaikan hadis ternyata hadisnya itu palsu. Untuk memperbaiki itu, perlu waktu. Saya merasa berkewajiban meluruskan. Saya tidak menyalahkan mereka, mungkin mereka tidak tahu. Ya, salah satu cara saya untuk memberikan pelurusan dalam hal ini, pertama saya menulis. Itu melalui tulisan, ceramah-ceramah, dan sebagainya. Baik di buku, di majalah, di koran. Makanya terus terang, saya menulis buku tidak melihat royalti bagaimana. Yang penting menyebar ke masyarakat dan bermanfaat buat mereka. Itu yang penting. Kedua, untuk mengkader orang-orang yang ahli hadis, saya bikin pesantren (Darus-Sunnah, high institute for hadith science) tingkat S-1. (Bahasa pengantar di pesantren ini adalah Bahasa Arab). Itu mulai 1997 dan sudah wisuda empat kali, sudah mengeluarkan 66 sarjana ilmu hadis.

Sengaja memilih media buku?
Bagi saya, ilmu yang disebarkan melalui tulisan itu lebih awet dan lebih efektif. Memang kadang-kadang perkembangannya lambat, tapi pasti. Lain dengan ilmu yang disampaikan melalui ceramah, seketika kayak bom, tapi hilang setelah itu. Yang menarik bagi saya, kenapa saya punya keinginan yang tinggi untuk menulis? Ketika saya menulis tesis MA, saya mendapatkan referensi yang orangnya tidak terkenal sama sekali. ''Ini orang sudah meninggal 10 abad lalu, masih dibaca bukunya di perpustakaan.'' Kemudian ada syair yang menyebutkan, ''Karya tulis kekang sepanjang masa, sementara penulisnya hancur di bawah tanah. Ini berarti, orang punya buku meskipun sudah mati, itu mendapat 'kiriman' terus. Kenikmatannya seperti itu.

Sejak mahasiswa Anda sudah berniat menulis buku?
Justru ketika mahasiswa. Dulu saya belajar di Arab Saudi 9 tahun, S-1 dan S-2 di sana. Saya mencoba apakah tulisan saya dibaca orang atau tidak. Saya coba kirim dulu ke majalah Panji Masyarakat, 1977. Terus kirim ke Kiblat. Udah, setelah dimuat di Panji Masyarkat dimuat di Kiblat, saya tidak meneruskan menulis, tapi saya belajar dulu, biar lebih konsen. Tapi dengan dimuatnya tulisan saya itu, berarti tulisan saya sudah layak terbit. Itu jadi modal saya, saya kemudian belajar saja. Setelah selesai belajar, kemudian mulai menulis. Dan saya wariskan kepada santri-santri Darus-Sunnah, 'kamu jangan mati sebelum menulis buku'. Alhamdulillah sudah banyak yang menulis buku. Bahkan ada yang lebih banyak dari saya.

Anda senang?
Saya merasa bersyukur. Berarti, ibarat saya menanam, tumbuh subur. Bukan saya merasa disaingi, saya bersyukur.

Salah satu buku Anda berjudul Haji Pengabdi Setan...
Rasulullah punya kesempatan untuk haji tiga kali, mengapa haji cuma satu kali? Rasulullah punya kesempatan umrah, ratusan bahkan ribuan kali. Tapi umrah yang sunah hanya dua kali, tiga kali dengan yang gagal. Apa sebabnya? Mestinya kita berpikir itu. Seandainya umroh berkali-kali, haji berkali-kali sesuatu hal yang afdal dari pada ibadah yang lain, mungkin Rasulullah sudah mengerjakan.

Saya mencoba mencari jawabannya, ternyata di Medinah saat itu banyak anak-anak yatim akibat perang. Banyak janda-janda yang memerlukan santunan, banyak mahasiswa yang tidak punya apa-apa, yang belajar rutin dengan nabi. Ini kan memerlukan santunan.
Uang Rasullullah dan para sahabat disalurkan untuk menyantuni mereka. Bukan untuk haji berkali-kali dan bukan untuk umrah berkali-kali. Itu adalah ibadah sosial, lebih utama dari pada ibadah individual. Dalam bahasa fiqihnya, ''Ibadah yang dirasakan manfaatnya oleh orang lain di samping oleh pelakunya lebih utama dari pada ibadah yang hanya dirasakan oleh pelakunya saja.

Makanya Rasulullah lebih memprioritaskan ibadah-ibadah sosial. Tapi kita tidak. Kita cenderung ingin haji tiap tahun, ingin umrah tiap bulan. Saya pikir, itu tuntunan dari siapa? Apakah Allah memberikan tuntunan, apakan nabi memberikan tuntunan, tidak. Lalu tuntutan dari siapa? Dari bisikan hawa nafsu melalui setan. Makanya saya bikin buku namanya Haji Pengabdi Setan. Jadi saya sampai heran ada masjid buat brosur, siapa yang mampu ke Mekkah bulan Ramadhan supaya Anda harus pergi umrah. Ternyata setelah saya lihat, itu oh kong sungai (kali) kong dengan biro travel. Sudah tidak beres kalau begitu, sudah tidak benar lagi. Justru Rasulullah itu tidak pernah, apalagi mengirim jamaah untuk umrah Ramadhan. Umrah Ramadhan saja tidak pernah kok.

KH Ali Mustafa merasa prihatin dengan maraknya orang berhaji/berumrah berkali-kali. ''Saya dengar tahun lalu ada 5.000-10 ribu orang yang umrah. Katakan 5.000, seorang mengeluarkan biaya Rp 30 juta - Rp 50 juta. Ambil Rp 40 juta saja, berarti sudah Rp 200 miliar. Kalau dana itu kita pakai untuk mengentaskan kemiskinan, mungkin dalam beberapa tahun sudah terentas kemiskinan di Indonesia,'' kata mantan ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PII) di Riyadh itu.

Ia pun menyoroti berkembangnya kegemaran umrah di bulan Ramadhan, dan merasa perlu meluruskannya pula. ''Saya pernah membaca sebuah selebaran di sebuah masjid, di situ ditulis bahwa bagi yang mampu ke Makkah, harus pergi ke Makkah untuk umrah. Rasulullah itu tidak pernah menjalankan umrah Ramadhan itu,'' ujar ketua Lembaga Pengkajian Hadis Indonesia itu.

Ia lantas menjelaskan bahwa Nabi hanya berumrah dua kali. Pertama di tahun keenam, tapi gagal karena Makkah masih dikuasai orang musyrik. Kemudian atas perjanjian dengan orang musyrik, boleh umrah di tahun ketujuh. Kedua, umrah lagi tahun kedelapan. ''Dan itu umrahnya bukan di bulan puasa. Nah, baru yang ketiga, Rasulullah umrah bersama haji itu pada tahun kesepuluh, tahun kesebelas Rasulullah wafat,'' papar dosen di berbagai perguruan tinggi Islam, seperti Institut Ilmu Alquran (IIQ), Institut Studi Ilmu Alquran (ISIQ/PTIQ), Sekolah Tinggi Islam Dakwah (STIDA) Al-Hamidiyah, dan IAIN Syarif Hidayatullah --sekarang UIN itu.

Menurut Kiai Ali Mustafa, memang ada hadis yang mengatakan, umrah dalam Ramadhan itu sama dengan haji. Tapi kalau hanya ingin meraih pahala, menurut Kiai Ali Mustafa, ada ibadah yang lebih murah lagi, pahalanya persis umrah dan haji, 'sempurna' kata Rasullulah. ''Ada hadis 'Siapa yang Shalat Subuh berjamaah kemudian duduk di tempat shalatnya untuk berdzikir kepada Allah sampai terbit matahari, kemudian setelah terbit matahari shalat dua rakaat, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah secara sempurna','' jelas anggota Majelis Ulama Indonesia ini.

Tapi, kata Kiai Ali Mustafa, orang tidak mau melakukan hal ini, sebab tidak akan ketahuan orang. ''Makanya orang pada umrah, panggil wartawan, bawa video, nanti diberikan kepada televisi supaya disiarkan. Itu yang menjadi masalah. Saya dapat info dari kawan-kawan, mereka yang senang umroh itu rata-rata orang-orang yang pelit untuk infak. Padahal infak itu nilainya jauh lebih tinggi dari pada ibadah umrah. Tapi infak tidak diketahui orang,'' tutur dia.

Bagaimana Anda memaknai Ramadhan?
Yang paling bagus dalam memaknai Ramadhan ialah memenuhi petunjuk Rasulullah SAW. Rasulullah dalam berpuasa, baik untuk sahur atau buka, itu tidak mengada-adakan. Bahkan dalam puasa sunnah, misalnya, pernah Rasulullah bertanya kepada Aisyah, ''Hai Aisyah, sarapan apa pagi ini?''
''Tidak ada apa-apa, ya Rasullulah.''
''Kalau begitu saya puasa aja.''

Ini menunjukkan, keseharian beliau dalam berpuasa sama dengan keseharian di luar puasa. Kita tampaknya untuk makan ini justru menjadi perhatian sangat menonjol. Ada makanan khas Ramadhan, makanan kaget. Ada makanan yang tidak pernah muncul kecuali Ramadhan. Macam-macamlah. Bahkan banyak kegiatan sebelum Ramadhan datang.


Thursday, September 28, 2006

Undangan Taaruf dan Dialog Bersama INSISTS

Start:     Oct 7, '06
Location:     INSISTS, Kalibata Utara
INSISTS dan Hidayatullah.com mengundang anda berdiskusi bersama Dr. Eliwarti Maliki (Doktor Bidang Fiqh Islam) dan Dr. Muchlis Hanafi  (Bidang Tafsir Al Qur’an), keduanya dari Universitas Al Azhar, Kairo

Bekerjasama penerbit Gema Insani Pers (GIP), Hidayatullah.com, Radio RAS FM, Radio Dakta FS dan  Hotel Sofyan,  Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS)  menggelar  taaruf dan diskusi bersama.

Acara diselenggarakan pada hari Sabtu, 7 Oktober 2006 dimulai jam 16.00 sampai selesai bertempat di Sekretariat INSISTS (Gedung Gema Insani), Jl. Kalibata Utara II/84, Jakarta, telp. (021)-7940381

Dr. Ellywarti Maliki  Al-Azhar adalah Doktor Bidang Fiqh Islam lulusan Universitas Al Azhar, Kairo. Muslimah asal Muara Labuh, beberapa saat lalu telah berhasil meraih cumlaude dengan disertasi berjudul, “Al-Ahkam As-syar’iyah Al-musthambathah min Qaidah Saddizara’i fi Fiqhil Mar’ah wa Taksyiruhu ‘alal binail Mujtama.” (Hukum-hukum syari’ah Islam yang diprediksikan dari Kaidah Saddizara’i dalam Fiqih Wanita dan penerapannya terhadap pembinaan masyarakat). Disertasinya itu bahkan direkomendasikan untuk dicetak oleh Universitas Al-Azhar.

Pembicara kedua adalah  Dr. Muchlis M. Hanafi. Muchlis adalah Doktor dalam Bidang Tafsir Al-Qur’an lulusan yang sama. Ia meraih predikat 'summa cum laude' dalam jurusan Tafsir Al-Qur'an dari Universitas Al-Ahzar.

Gelar doktor bidang Tafsir dan Ilmu Al-Qur'an itu diraihnya setelah berhasil  mempertahankan disertasi setebal seribu empat ratus tiga belas halaman (1413), dengan judul: Kitab Lawami' al-Burhân wa Qawathi al-Bayan fi Ma'ani al-Qur`an, Dirasah wa Tahqaq (Studi Filologi yang meliputi editing naskah, komentar, analisa dan kritik). Sebuah studi terhadap manuskrip yang ditulis Imam al-Ma`îni, salah seorang ahli tafsir abad lima hijriah (w. 537 H).

Biodata Pembicara :

Dr. Muchlis Muhammad Hanafi, MA

TTL : Jakarta, 18 Agustus 1971

Status : Nikah tahun 2000 dengan dua anak Fayyadh dan Wafa Ahdella

Tiba di Mesir : Oktober 1992
Alamat di Indonesia : Jl. Radjiman Widyodiningrat P. Jahe Kel. Jatinegara
Cakung Jakarta Timur
Alamat di Mesir : Swissry Project 87/1 10th Nasr City Cairo 2711533
Kekeluargaan : KPJ
Fakultas : Ushuluddin
Jurusan : Tafsir dan Ilmu-Ilmu Alquran
Universitas : Al-Azhar
Judul Disertasi :
كتاب لوامع البرهان وقواطع البيان فى معاني القرآن للمعيني (المتوفى سنة 537 ه)
من أوله الى آخر سورة القصص (دراسة وتحقيق)
Studi filologi yang mengikuti editing naskah, analisa, komentar dan kritik atas tafsir imam Al-Mai'niy (W537 H)
Tanggal Munaqasyah : 6 Maret 2006

Dengan predikat :
مرتبة الشرف الأولى مع التوصية بطبع الرسالة على نفقة الجامعة وتداولها بين الجامعات
Summa Cumlaude (Penghargaan Tingkat Pertama) disertai rekomendasi agar disertasi tersebut dicetak atas biaya universitas dan didistribusikan ke universitas-universitas lain
Lama Pendidikan : 3 tahun 6 bulan, dari tahun 2002 – 2006

Riwayat Pendidikan :

SD dan MI Jakarta Timur (1997 – 1983)
KMI Gontor Ponorogo (1983 – 1989)
PP. Tahfidz Alquran Sunan Pandanaran (1990 -1992)
S1 Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Ilmu-Ilmu Alquran Tahun 1992-1996
S2 Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Ilmu-Ilmu Alquran Tahun 1996-2000
S3 Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Ilmu-Ilmu Alquran Tahun 2002-2006

Kesan selama menempuh pendidikan di Mesir :
Mesir pernah menjadi salah satu pusat peradaban islam, karena itu disini kita temukan banyak khazanah intelektual islam (turats) saya sangat menikmati dan menghayati hidup di tengah khazanah turats tersebut.

Pesan bagi mahasiswa lain:
Pergunakanlah waktu sebaik mungkin! Waktu / masa dalam alquran diungkapkan dengan kata "al-ashr", yang mengesankan bahwa waktu adalah sesuatu yang harus "diperas" agar menghasilkan sari pati kehidupan yang berharga. "Man lam takun lahu bidayatun muhriqah lam takun lahu nihayatun musyriqah" (Masa depan gemilang hanya dapat diperoleh dengan usaha keras menempa diri di awal perjalanan), demikian pesan seorang tokoh sufi besar Ibnu Athaillah.

(http://dikbudcairo.org/?pilih=lihat&id=118)
__________________________

Dr. Eliwarti Maliki, MA

Nama Panggilan : Elly Maliki

Nama Ayah : H. Maliki Yusuf
Nama Ibu : Hj. Siti Aminah binti Jalin
Tempat, tanggal lahir : Padang, 30 Oktober 1959
Kebangsaan : Indonesia
Agama : Islam
Asal Daerah : Sumatera Barat
Status : Bekeluarga dengan 3 orang anak
Nama Suami : Adywarman Arby
Nama Anak :
1. Ola Rosalia Arby 22 tahun. Mahasiswi tingkat IV, Fakultas Psycology, Universitas Mohammed V, Rabat, Maroko.
2. Afifa Arby 19 tahun. Mahasiswi tingkat II, Fakultas Kedokteran, Universitas 6 October, Cairo, Mesir.
3. Khalifa Arby 10 tahun. Grade V Manarat International School Jeddah, Arab Saudi.

Alamat surat : Consulate General of Brunei Darussalam
P.O. Box 15514, Jeddah 21454
Kingdom of Saudi Arabia.
Phone: 00966 2 672 4343
00966 2 672 5553

Alamat rumah : Ali bin Abi Thalib St. No. 55
Syarafiyah, Jeddah,
Kingdom of Saudi Arabia.
Phone/Fax: 00966 2 653 3401
Mobile: 00966 506616297
Email: ellymaliki@yahoo.com

Pendidikan :
2005 : Doktor, Fakultas Study Islam dan Bahasa Arab, Jurusan Fikih, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Judul Disertasi “Al-Ahkaam asy-Syar’iyyah al-Mustanbathah min Qaaidah Sadd Adz-Dzara’i fi Fiqh al-Mar’ah wa Ta’tsiiruha ‘ala binai al-Mujtama’. Ditempuh selama 5 tahun dan munaqasyah pada hari Khamis, 24 Februari 2005.
1991 : Magister, Fakultas Study Islam dan Bahasa Arab, Jurusan Fikih, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Judul thesis “Al-Imam Asy-Syafi’i wa Atsaruhu fi al-Fiqh al-Islamy”.
1982 : Lisance, Fakultas Study Islam dan Bahasa Arab, Jurusan Fikih, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
1977 : Madrasah Aliyah Agama Islam Negeri, Jakarta, Indonesia.
1974 : Madrasah Tsanawiyah Ath-Thahiriyah, Jakarta, Indonesia.
1971 : Sekolah Dasar Negeri, Padang, Indonesia.

Pengalaman Kerja:
- Sejak 1 Desember 1993 sampai sekarang bekerja sebagai staff keuangan di Konsulat Agung Negara Brunei Darussalam, Jeddah, Kerajaan Arab Saudi.
- Musim Haji 1991 dan 1992 sebagai penterjemah di Kantor Bidang Urusan Haji, Konsulat Jenderal Republik Indonesia. Jeddah, Kerajaan Arab Saudi.

Pengalaman Organisasi:
2005 : Menghadiri International Seminar of Aisyiah, Malang, Indonesia.
2002 : Menghadiri Kongres International Moslem Women Union (IMWU) Jakarta, Indonesia.
1999 : Anggota Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) untuk Wilayah Barat Saudi Arabia yang berkedudukan di Jeddah.
1997 : Menghadiri Silaknas (Silaturahmi Kerja Nasional) Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia, Bogor, Indonesia.
1992 : sampai sekarang pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Orwil Timur Tengah. Saat ini duduk sebagai anggota Dewan Pakar.
1992 : sampai sekarang mendirikan sekaligus Pimpinan Taman Pendidikan Al-Qur’an dan Bahasa Arab “Darul ‘Ulum”, Jeddah, Kerajaan Arab Saudi.
1988 : Mendirikan dan Ketua Persatuan Mahasiswi Indonesia (WIHDAH) Kairo, Mesir, periode 1988-1989.

(http://dikbudcairo.org/?pilih=lihat&id=122)

Wednesday, September 20, 2006

Bagaimana Menyambut Bulan Ramadhan

Rating:★★★★★
Category:Other
Abu Mush'ab Riyadh bin Abdur Rahman al Haqiil


Segala puji bagi Allah semata, shalawat serta salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.

Akan Datang Tamu Tercinta !

Saudaraku muslim dan muslimah!

Bagaimanakah perasaan anda jika ada seorang tamu yang anda cintai dan rindukan memberitahu, bahwa ia akan datang dan tinggal bersama anda selama beberapa hari, apa yang akan anda lakukan?

Tidak diragukan lagi, anda akan senang dan berbahagia, kemudian anda akan bersiap-siap menyambut kunjungan itu dan sedapat mungkin anda akan merapikan diri, membersihkan rumah dan menyiapkan acara-acara yang menarik dalam rangka kunjungan itu. Bukankah demikian ? Jawabannya adalah, "Tentu !"

Wahai saudaraku, bagaimana jika tamu itu bukan saja anda cintai, akan tetapi juga dicintai Allah, Rasul-Nya dan seluruh kaum muslimin? Bagaimana jika tamu ini selama tinggal bersama kita antara siang dan malam-nya membawa kebaikan dan keberkahan?

Tamu yang dimaksud itu tidak lain adalah Ramadhan, bulan yang mulia, bulan Al-Qur'an, bulan shiyam, bulan bertahajjud dan qiyamullail, bulan kesabaran dan takwa, bulan kasih sayang, ampunan dan terbebasnya hamba dari api neraka, bulan yang terdapat di dalamnya suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan di mana syetan dibelenggu, pintu neraka ditutup dan pintu syurga dibuka.

Bulan di mana amal kebaikan dilipatgandakan dan penuh berkah dalam ketaatan, bulan pahala dan keutamaan yang agung. Maka seyogyanya setiap yang mengetahui sifat-sifat tamu ini untuk menyambutnya sebaik mungkin, mempersiapkan berbagai amal kebajikan agar memperoleh keberuntungan yang besar dan tidak berpisah dengan bulan itu, kecuali ia telah menyucikan ruh dan jiwanya. Allah Ta'ala berfirman, artinya,

"Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu" (Asy-Syam: 9).

Pendahulu umat ini telah memahami betapa tinggi nilai tamu tersebut. Oleh karena itu, diriwayatkan, bahwa mereka berdo’a kepada Allah agar dipertemukan kembali dengan Ramadhan sejak enam bulan sebelumnya, dan apabila mereka mengakhirinya, mereka menangis dan berdo'a kepada Allah agar amal mereka pada bulan-bulan yang lain diterima, demikian seperti dinukil Ibnu Rajab rahimahullah.

Bagaimana Umat Islam Pada Umumnya Menyambut Bulan Ramadhan

Allah Ta'ala berfirman,artinya,

"Dan jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah". (Al-An'am:116).

Saudaraku yang mulia!

Kalau kita perhatikan kondisi umat Islam, maka kita akan mendapatkan keanekaragaman cara di kalangan umat Islam dalam menyambut bulan Ramadhan, yang rata-rata menyimpang dari apa yang disyari'atkan Allah. Di antara mereka ada yang menyambutnya dengan pesta, pawai-pawai, lagu-lagu atau nyanyian bermusik. Di antara mereka ada yang menyambutnya dengan mempersiapkan acara bega-dang disertai pemutaran film-film atau drama yang di dalamnya terdapat tabarruj (pamer aurat) dan perbuatan-perbuatan maksiat. Di antara mereka ada yang menyambutnya dengan pertemuan-pertemuan bersama para musisi dan artis kemudian menayangkan apa yang mereka lakukan dalam menyambut bulan kebaikan dan berkah ini. Di antara mereka ada yang menyambutnya dengan mempersiapkan berbagai acara lomba Ramadhan atau acara-acara lainnya yang mengesampingkan amal-amal ketaatan.

Padahal demi Allah, seharusnya tidaklah demikian, tidaklah menyambut Ramadhan itu dengan perbuatan maksiat, haram dan mendurhakai Penguasa semesta alam; benarlah sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam yang artinya,

"Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan bagian apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan dahaga". (HR. Ahmad dan terdapat dalam Shahih Al Jami' No. 3490).

Ada juga di antara mereka yang menyambutnya dengan pergi ke pasar dan berdesak-desakan di dalamnya, mereka membeli berbagai jenis makanan dan minuman, seolah-olah Ramadhan itu bulan makanan dan minuman, bulan tidur di siang hari dan begadang dengan berbagai maksiat pada malam hari. Padahal seharusnya Ramadhan disambut dengan taubat, beramal shalih dan bersyukur kepada Allah dengan hati, lisan dan amal perbuatan.

Kepada mereka kami sampaikan sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam yang artinya:
"Sejahat-jahat umatku adalah mereka yang melahap segala kenikmatan dan memakan berbagai makanan". (Hadits ini dihasankan oleh Al-Albani di dalam Shahih Al Jami' No.3599).

Demikian banyak corak dan cara baru (bid'ah) yang dilakukan umat Islam dalam menyambut bulan Ramadhan, yang semuanya menyimpang dari petunjuk Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam. Padahal Allah Subhannahu wa Ta'ala telah berfirman yang artinya,
"Katakanlah (wahai Muhammad) sesungguhnya petunjuk Allah-lah sebenar-benar petunjuk". (Al-Baqarah: 120).

Dan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam juga bersabda yang artinya, "Dan setiap hal yang baru (dalam agama) itu bid'ah, dan setiap bid'ah itu sesat, dan setiap kesesatan itu tempatnya dalam neraka". (Hadits shahih).

Bagaimana Kita Menyambut Bulan Ramadhan

Untuk menyambut bulan yang mulia ini, kami ringkaskan beberapa point penting sebagaimana berikut:

Berdo'a, semoga Allah memperpanjang umur kita sampai pada bulan Ramadhan, seperti yang dilakukan oleh sebagian kaum salaf, begitu pula memohon kepada Allah pertolongan dan kekuatan dalam menunaikan shaum, qiyamullail dan beramal shalih di dalamnya. Allah Ta'ala berfirman, artinya,

"Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami minta pertolongan". (Al-Fatihah:5)

Kebersihan dan kesucian, maksudnya adalah kebersihan ma'nawi yaitu taubat yang tulus dan sebenar-benarnya dari segala dosa dan maksiat. Bagaimana mungkin seseorang menunaikan shaum sedangkan dia berbuka dengan sesuatu yang haram, atau meninggalkan shalat, atau durhaka kepada kedua orang tua, sehingga Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melaknat dan malaikat Jibril pun mengamininya?

Wahai saudaraku yang saya cintai!

Bagaimana anda menginginkan shaum yang diterima dan bermanfaat, sedangkan anda berada dalam keadaan melakukan dosa ini dan itu?
Belumkah anda mendengar sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam yang artinya,

"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan puasanya dari makan dan minum". (HR. Al Bukhari).

"Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan bagian apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan dahaga". (Shahih Al Jami').

Maka Bertaubatlah dengan taubat yang tulus dan sebenar-benar taubat, sebab pintu taubat masih terbuka. Dan taubat itu bukan sekedar meninggalkan perbuatan dosa, akan tetapi dengan mengembalikan hati dan hawa nafsu kepada Dzat Yang Maha Mengetahui alam ghaib, "Maka kembalilah kepada Allah". (Adz-Dzariat:50).

Di antara persiapan jiwa dalam rangka menyambut bulan Ramadhan, hendaknya anda dengan sepenuh hati melakukan shaum sebaik-baiknya dan beramal shalih pada bulan Sya'ban. Sebab pada bulan Sya'ban ini segala amal perbuatan diangkat kepada Allah, sebagaimana sabda Rasululah Shalallaahu alaihi wasalam yang diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid.

"Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melakukan shaum sepanjang bulan Sya'ban atau melakukan shaum pada bulan itu kecuali beberapa hari saja beliau tidak melakukannya". (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Di antara masalah penting lainnya adalah bertafaqquh (memahami) hukum-hukum shaum dan mengenal petunjuk Nabi Shalallaahu alaihi wasalam sebelum memasuki shaum; mempelajari syarat-syarat shaum, syarat sahnya, yang membatalkannya, hukum shaum pada hari yang diragukan, apa yang boleh, wajib atau haram dilakukan oleh seseorang yang sedang melakukan shaum, apa etika dan sunnah-sunnahnya, hukum-hukum qiyamullail, berapa bilangan raka'atnya, hukum-hukum shaum bagi yang berhalangan baik karena safar (bepergian) atau sakit, hukum zakat fitrah dan lain sebagainya.

Begitu pula mengenai petunjuk Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dalam bulan Ramadhan yang bertalian dengan diri beliau, shaumnya, qiyamullailnya, kemurahan hatinya, pemeliharaan dirinya serta keteladanan beliau dalam bertadarrus Al-Qur'an, juga yang berkaitan dengan keluarga dan umatnya. Sebab segala sesuatu harus didahului dengan ilmu dan pemahaman sebelum mengamalkannya.

Mempersiapkan acara-acara menyambut "tamu agung", di antara-nya dengan membaca Al Qur'an, mempelajarinya kemudian menghafalnya, qiyamullail, memberi ifthar (buka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa, melakukan umrah, i'tikaf, dan berlomba dalam kebaikan dengan semangat fastabiqul khairat, shadaqah, dzikir, penyucian jiwa dan lain sebagainya.

Saudaraku seiman yang saya cintai!

Demikianlah ringkasan bagaimana kita menyambut bulan Ramadhan yang dapat kami kemukakan. Kita berdo'a semoga Allah berkenan memberi taufiq dan hidayahNya kepada kita agar dapat beramal shalih pada bulan Ramadhan.

"Ya Allah, pertemukan kami dengan bulan Ramadhan dan berilah kami pertolongan untuk dapat menunaikan shiyam, qiyam, dan amal shalih di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya. Teguhkanlah kami pada ketaatan sampai kami menemuiMu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan segala do'a". Amin.

Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya.


Tuesday, September 19, 2006

Istriku....

Ya ukhti.....
Aku memang bukan dewa
yang sanggup terbang keangkasa
Tuk memetik sebutir bintang
sebagai penghias bibirmu

Namun, kubisa mengutip tiap tetes embun
yang bergayut dipincuk daun
Tuk kau reguk setiap pagi

Aku bukan pelakon
Yang sanggup membuatmu hanyut
dalam gelak tawa

Namun,kubisa membuatmu tersenyum bahagia
Dengan kisah para anbiya

Aku bukan pujanga
Yang sanggup membuat jiwamu melayang
keangkasa dalam tebaran kata
Namun kubisa menjadikan hatimu basah
Dalam lantunan firman Allah

Aku bukan pangeran
Yang kan menjumpaimu
dengan kereta kencana
ditarik banyak kuda

Namun kupunya bahtera cinta
Tuk membawamu menuju pulau bahagia
Bersama kita kan berjuang di jalan dakwah
demi meraih ridha dan syurga-Nya

Terima kasih telah memilihku
sebagai pendamping hidupmu...istriku :)






Indra & Nina, Bandung 9 September 2006





Terlabuhkan sudah lelah ini
Tersandarkan sudah rindu hati
Terima kasih ya Rabbi atas pernikahan ini

Belahan jiwa lelah ku nanti telah kujumpai
Belahan jadi bagian diri

Syukurku terucap dari relung hati
Doaku mengalun sepenuh jiwa
Dan dua hati menyatu kini

Janji telah terucapkan bersama arungi hari
Rindu tuk berbagi doa segera terjalani
Rindu tuk berbagi asa segera terjalani

Hari-hari menghembus samudra berlayar di jalanMu
Ya Allah bimbinglah kami selalu


[Seismic - Terlabuhkan]



Photograph by Dodo (Nikon D100) & Arab (Nikon D70) : 0815-991-5147